
Sekarang sudah waktunya makan siang. Kali ini yang memasak adalah Rania dan Elisa, Devina sendiri sedang bermain game dengan Daffin di ruang keluarga. Elisa memang belum pulang, terlihat betah sekali apalagi ada Daffin.
"Tante belum jenguk Bapak kamu lagi, gimana kondisinya sekarang?" tanya Rania di sela kegiatan memasaknya.
"Baik Tante, Bapak sudah bisa jalan lagi walaupun harus pakai tongkat," jawab Elisa.
"Syukurlah Tante ikut senang, tapi kalau misal kamu butuh sesuatu beritahu Tante ya, jangan sungkan," kata Rania.
"Makasih Tante, Tante sama Om Yoga baik banget selalu nolongin keluarga aku," ucap Elisa terharu.
"Sama-sama, kita kan keluarga."
Mendengar itu membuat Elisa tersenyum, keluarga Daffin memang sangat baik kepadanya dari dulu. Bahkan Elisa sudah menganggap Rania dan Yoga adalah orang tua keduanya, Ia juga sangat dekat dengan mereka, mungkin karena sudah dari kecil juga.
Biaya pengobatan Bapaknya tentu tidak murah, belum lagi obat-obatannya. Sedangkan Elisa hanya orang biasa, Ia saja baru bekerja menjual makanan dua bulan lalu karena terlalu sibuk mengurusi Bapaknya yang sakit. Dan selama itu juga, Rania selalu membantu membayarkan pengobatan.
"Kamu anak yang baik Elisa, sampai mengorbankan kuliah kamu untuk menjaga Bapak kamu. Jadi semester depan apa akan lanjut lagi?" tanya Rania.
"Em aku sih pengennya lanjut lagi Tante, biar gak terlalu ketinggalan lama. Tapi nanti harus bicarain dulu sama Nenek dan Bapak," jawab Elisa.
"Iya benar, kamu bicarakan dengan mereka, semoga saja diizinkan."
Melihat Elisa yang terlihat lihai sekali memasak, membuat Rania yang melihat merasa senang. Lucunya sebenarnya Rania yang mengajari Elisa masak dari kecil, anak itu kan sering sekali main di rumah ini.
"Tante, gimana dengan hubungan Daffin dan Cynthia?" tanya Elisa mengalihkan topik obrolan, meresa penasaran dengan yang satu ini.
"Sepertinya mereka baik-baik saja, memangnya kamu tidak tanyakan langsung pada Daffin?" tanya Rania balik.
"Enggak lah Tante, aku kan malu kalau tanya ini, nanti malah dianggap kepo lagi," jawab Elisa sambil terkekeh kecil. Padahal mau ditanyakan pada Daffin ataupun Rania, sepertinya sama saja.
__ADS_1
"Elisa, apa kamu masih menyukai Daffin?"
Mendengar pertanyaan seperti itu membuat Elisa tersentak sampai menghentikan kegiatannya yang sedang memotong sayuran. Perlahan kepalanya menoleh menatap Rania, wanita paruh baya itu terlihat menunggu jawabannya.
"Elisa, Tante harap tidak ya. Bukan apa-apa, tapi Tante pikir kalian bisa bahagia dengan pasangan masing-masing. Mungkin memang sudah takdirnya juga kalian hanya berteman."
Entah apa maksudnya Rania mengatakan ini, tapi Elisa jadi merasa tersinggung karena baru di nasihati seperti itu. Sepertinya Rania tahu Ia masih berharap, padahal Daffin sudah punya pacar.
"Aku nyesel Tante, nyesel banget terlambat menyadari kalau selama ini Daffin suka sama aku," gumam Elisa pelan.
"Tidak perlu menyesal Elisa, lagi pula Daffin juga salah karena tidak mau jujur kepada kamu. Tetapi semua sudah berlalu, Daffin juga sudah bahagia dengan Cynthia, dan Tante harap kamu juga menemukan kebahagiaan kamu sendiri," kata Rania sambil mengelus bahunya.
Tatapan Elisa menyendu, "Apa aku juga akan menemukan lelaki yang baik dan setia seperti Daffin?" tanyanya lirih.
"Tidak perlu mencari yang seperti dia, karena setiap orang pasti berbeda-beda. Tapi Tante yakin, jodoh kamu juga akan menjadi versi yang terbaik untuk kamu." Rania terdengar sangat bijak sekali saat mengatakan itu.
Elisa yang merasa terharu lalu mendekat untuk memeluk Rania. Ia memang tidak menangis, tapi kedua matanya berkaca-kaca dan berusaha Ia tahan. Entah kenapa, sekarang hatinya lega sekali.
"Biar aku aja Tante yang panggilin mereka," cegah Elisa saat Rania akan memanggil Daffin dan Devina untuk makan siang.
"Ya sudah boleh, Tante tunggu di sini ya."
Makan siang ini terlihat cukup banyak yang Rania masak, dan hampir semuanya adalah kesukaan Daffin. Kapan lagi bisa memasakkan anaknya itu, Daffin juga pasti kangen dengan masakannya.
Beralih pada Elisa, Ia sedang menuju ruang keluarga. Sempat bertemu Devina tadi di tangga, dan anak gadis itu langsung ke tuang makan sendirian. Elisa memperhatikan ruang keluarga itu berusaha mencari Daffin, terlihat berdiri di dekat dinding kaca.
Elisa pun mendekat dengan perlahan, berencana ingin mengejutkannya. Tetapi semakin dekat Elisa sadar jika Daffin sedang ber teleponan. Mendengar suaranya yang lemah lembut begitu, langsung bisa Ia simpulkan.
"Aku kangen banget sama kamu, lucu ya, padahal di sini juga belum satu hari," ucap Daffin lalu terkekeh kecil.
__ADS_1
["Jangan lebay ah, lagian kan di sana juga ada Devina sama orang tua kamu. Oh iya Daffin, aku juga rencananya besok mau ke Bogor, ke rumah Nenek bareng Mama."] ucap Cynthia memberitahu.
"Bagus, kamu juga harus liburan biar gak bosen di rumah terus. Mau berapa lama di sana?"
["Gak tahu, tapi Mama bilang bisa aja sampai satu minggu. Gak papa deh, kalau di Jakarta juga aku malah kepikiran kamu terus."]
Daffin kembali tertawa kecil, "Kita harus LDR, tapi gak papa cuman sebentar, nanti juga ketemu lagi."
Elisa yang dari tadi hanya diam di belakang Daffin merasa gugup sendiri, kenapa Ia malah menguping ya? Ingin sekali pergi karena merasa tidak sanggup mendengar obrolan manis pasangan kekasih itu, tapi kakinya terasa berat.
"Elisa ada di rumah, tadi juga kita sempet ngobrol. Kamu tenang aja sayang, aku akan selalu jaga batasan sama dia. Kamu jangan khawatir dan berpikir aneh-aneh, aku gak mungkin khianatin kamu," ucap Daffin.
Rasanya dada Elisa sakit sekali mendengar itu, membuat nafasnya jadi berat karena menahan sesak. Daffin terlihat bersungguh-sungguh sekali, dan Elisa sadar jika Daffin memang sudah benar-benar melupakan dirinya.
Merasa tidak sanggup lagi mendengar obrolan mereka, Elisa memutuskan berbalik untuk pergi dari sana. Ia tidak perlu merasa tersakiti, toh dirinya sendiri yang salah. Daffin sudah bahagia dengan pilihannya, Elisa jangan mengusik lagi.
"Ya sudah kalau kamu mau berkemas, aku juga mau makan siang dulu. Nanti teleponan lagi ya, bye sayang," ucap Daffin lalu mematikan panggilan itu.
Daffin pun memutuskan langsung ke ruang makan, sepertinya makan siang sudah siap dan dirinya terlambat karena terlalu asik ber teleponan dengan kekasihnya. Saat datang, benar saja mereka semua sudah berkumpul.
"Nah itu Kak Daffin, Kak ayo kita makan sekarang," kata Devina sambil melambaikan tangan meminta mendekat.
Daffin pun memilih duduk di sebelah Devina, sedang Rania dan Elisa di depannya. Tanpa diminta, Daffin pun berinisiatif membacakan doa dan mereka pun mulai makan dengan lahap.
TAMAT
***
Apakah ceritanya bisa dibilang gantung? Kalian bisa lanjutkan dengan khayalan masing-masing ya. Entahlah apa menurut kalian ini happy ending atau tidak.
__ADS_1
Terima kasih banyak yang sudah mampir baca, like dan komennya. Jangan lupa mampir ke cerita aku yang lain ya, see you.