
"Syukurnya pasien dan bayinya tidak kenapa-napa, benturan nya tidak sampai membuat kemungkinan buruk terjadi. Tetapi saya memperingati kepada anda sebagai suami untuk bisa menjaga istrinya dengan baik. Saya tidak bisa pastikan jika sampai ini terjadi kedua kali, mungkin bayinya akan keguguran."
Penjelasan si dokter dapat membuat Candra bernafas lega, merasa terharu dan lega di waktu bersamaan. Sekarang perasaannya sudah lebih tenang, rasa cemas dan kalut pun sudah menghilang. Pria itu tidak lupa mengucapkan terima kasih pada dokter yang sudah membantu istrinya itu.
"Saya boleh masuk?" tanya Candra.
"Kami akan pindahkan dulu pasien ke ruang rawat, silahkan anda mengurus administrasi dahulu."
Candra mengangguk, "Baik saya akan mengurus sekarang."
Pria itu harus menahan diri dahulu, mengurus biaya Rania yang akan dirawat selama beberapa hari di sini. Candra memesan kamar VVIP, agar Rania dan bayinya nyaman. Setelah membayar semua, Candra pun baru bisa menjenguknya.
"Rania," panggil Candra pelan.
Rania yang tadinya memejamkan mata kembali membuka mata, "Mas." Suaranya terdengar serak.
"Rania aku minta maaf. Aku benar-benar tidak sengaja, aku hampir mencelakakan kalian," ucap Candra mengakui kesalahan.
"Gak papa Mas, aku sudah maafin kok. Untung saja bayinya juga gak kenapa-napa, padahal tadi aku takut banget," kata Rania sambil mengelus perutnya.
"Bukan cuman kamu yang takut, tapi aku juga. Aku gak akan bisa maafin diri aku sendiri kalau dia sampai kenapa-napa," sahut Candra. Saat melihat darah itu, tubuh Candra sampai bergetar.
Untuk beberapa saat hening, keduanya terdiam dengan pikiran masing-masing. Rania ingin sekali membuka suara, menjelaskan kejadian kesalahpahaman tadi di rumah, tapi khawatir membuat Candra kembali emosi.
"Mas soal tadi--"
"Syuut sudah jangan bahas dulu itu, keadaan kamu sekarang lebih penting. Mending sekarang kamu istirahat," sela Candra yang tahu ke arah mana perbincangan.
Tangan Rania yang tidak di infus lalu memegang tangan Candra, "Tapi aku mau jelasin sekarang, kalau aku dan Leon gak ada apapun."
Melihat suaminya itu yang terdiam dengan tatapan dalam, membuat Rania khawatir. Rania tidak tahu bagaimana isi hati suaminya itu, sulit sekali ditebak. Tetapi dari tadi pun Rania sudah berusaha membela diri.
"Mas kenapa diam saja? Mas gak percaya sama aku?" tanya Rania lirih.
"Entahlah Rania, saya merasa sakit hati," ucap Candra jujur.
__ADS_1
"Jadi Mas lebih percaya pada Leon?" Rasanya sakit sekali jika pria itu lebih percaya orang lain selain dirinya yang berstatus sebagai istri.
Rania sungguh tidak menyangka dengan Leon, bisa-bisanya pria itu mengarang cerita jika mereka ada hubungan, bahkan seperti terang-terangan memanasi Candra. Jujur saja Rania sakit hati pada Leon, sebenarnya dari dulu pria itu terlihat tidak meyakinkan untuk dipercayai.
"Masalahnya saya lihat sendiri tadi kalau kalian--"
"Aku kelilipan dan dia nawarin diri untuk niupin mata aku, mungkin kalau dilihat dari posisi kamu memang akan begitu. Tapi demi Tuhan aku dan Leon gK berciuman." Rania terlihat bersungguh-sungguh mengatakan itu.
"Benarkah? Jadi aku salah paham?"
"Iya, Mas harus percaya sama aku. Aku mohon."
Melihat mata Rania yang berkaca-kaca seperti akan menangis, membuat Candra tersentak dan jadi tidak tega. Sebegitunya? Sepertinya Rania tidak bohong. Istrinya yang satu ini kan tidak pernah aneh-aneh, mana mungkin juga selingkuh. Candra terlalu sakit hati.
Entah kenapa saat Leon mengatakan itu, Candra merasa marah saja dan tidak terima sudah di selingkuhi. Padahal Ia juga seperti itu kan dari Livia? Membayangkan istrinya itu, pasti perasaannya lebih sakit karena sekarang Ia beristri dua.
"Sudah Rania, lebih baik kamu istirahat sekarang," ucap Candra setengah memerintah.
"Mas kayanya belum percaya sama aku ya?" tanya Rania.
Rania pun tidak bisa menahan senyumannya lagi, "Makasih ya Mas sudah percaya sama aku."
"Iya, sudah sekarang tidur."
Candra tidak pergi dari sana, memperhatikan Rania di ranjang yang mulai terlelap. Tatapannya terlihat kosong, entah apa yang sedang pria itu pikirkan, yang pasti hanya Candra saja yang tahu.
"Hallo Oma, ini Candra. Aku mau ngasih tahu sesuatu, kalau Rania dirawat di rumah sakit."
["Ya ampun, Rania kenapa?"] tanya Omanya dengan suara panik.
"Dia jatuh dan hampir keguguran, tapi untung saja bayinya masih selamat."
["Oma mau ke sana ya?"]
"Beneran Oma mau ke Jakarta? Tapi kan jauh."
__ADS_1
["Gak papa, Oma khawatir sama Rania."]
Candra mengangguk mengerti, lagi pula hubungan Omanya dengan Rania kan sangat baik. Selain itu Omanya juga pasti sama khawatirnya dengan calon cicitnya. Candra pun memberitahu alamat rumah sakit tempatnya, Omanya bilang kemungkinan akan datang besok karena sudah malam.
Melihat jam di dinding masih pukul delapan malam, Candra beranjak keluar kamar rawat itu. Ia lalu berpapasan dengan seorang suster, Candra lalu meminta tolong untuk menjaga Rania sebentar di dalam karena Ia ada urusan di luar. Setelah memastikan akan baik-baik saja, Candra pun pergi dari sana.
"Aku harus ketemu Leon sekarang," gumam Candra. Bukan untuk bertengkar lagi, tapi untuk meminta penjelasannya.
Supirnya pun belum pulang, jadi Candra langsung menyuruhnya pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan hatinya terus tidak nyaman, ingin segera bertemu adik iparnya itu. Sesampainya di rumah, Candra langsung turun dan masuk ke dalam rumah mencari keberadaan Leon.
"Leon kamu dimana?" teriak Candra mengulang.
Melihat Livia yang keluar dari salah satu kamar tamu, membuat Candra pun langsung menghampiri, "Apa Leon di dalam? "
"Iya."
Tetapi baru saja Candra akan masuk, tangannya langsung ditahan Livia. Membuat Candra menatapnya bingung.
"Jangan sekarang, dia sedang istirahat," ucap Livia dengan ekspresi datar.
"Ck aku harus dengar penjelasan dia, kenapa dia melakukan itu? Dia membuat masalah dan membuat aku marah sekarang," desis Candra.
"Kamu tidak kasihan dia sudah babak belur gitu kamu pukuli?"
Candra mendengus kasar, "Dia memang pantas mendapatkan itu, dasar kurang ajar."
Candra sama sekali tidak merasa bersalah, apalagi jika benar adik iparnya itu hanya mengarang dengan sengaja agar membuat Candra dan Rania salah paham. Memang tadi saat marah emosinya meledak-ledak sekali, sempat hilang kendali.
"Kamu sakit hati ya Rania selingkuh?" tanya Livia.
"Bukan begitu, tapi Rania bilang dia tidak begitu dan Leon hanya mengarang. Bagaimana aku tidak marah?"
"Jujur saja Candra, jika benar memang begitu kamu akan sakit hati, kan?" Livia tersenyum miris, jika pun benar itu berarti Candra mencintai Rania.
"Aku--"
__ADS_1
"Biarkan Leon istirahat sebentar, bagaimana pun aku sebagai Kakaknya tidak tega walaupun semisal dia salah. Kamu saja memberikan Rania istirahat sekarang, kenapa Leon tidak?" tanya Livia sinis. Perempuan itu pun melenggang pergi dari sana.