
Karena sudah terlalu larut malam untuk kembali ke Jakarta, Nenek Ima dan Rania pun mendesak Leon untuk menginap saja di sini. Merasa tubuhnya juga lelah, akhirnya Leon pun menerima tawaran itu.
"Gak papa tidurnya di sini?" tanya Rania tidak enak. Ia selesai menggelar kasur lantai di depan ruang TV.
"Gak papa kok Rania," jawab Leon sambil tersenyum.
"Maaf ya malam ini kayanya kamu gak bakalan tidur nyenyak." Menurut Rania ini mungkin pertama kalinya Leon tidur di tempat sederhana ini.
"Ya ampun santai aja, aku bisa tidur dimana aja kok. Malahan aku yang makasih, sudah nawarin tidur di sini hehe," sahut Leon.
"Tapi kan kamu juga udah anterin aku pulang ke Kampung, masa aja aku suruh langsung pulang."
Memang sih ada sedikit rasa khawatir pada tetangga jika melihat ada lelaki lain menginap di rumahnya, tapi Rania juga tidak sampai hati menyuruh Leon langsung pulang. Apalagi jalanan sangat gelap dan cukup bahaya di malam hari.
"Kamu tidurlah Rania, sudah malam," suruh Leon.
"Iya, kamu juga."
Baru saja berbalik, suara Leon yang mengucapkan selama malam kepadanya membuat Rania kembali menoleh. Dengan senyuman tipis Rania pun membalas sapaannya itu, lalu segera masuk ke kamarnya sendiri.
Setelah tubuhnya berbaring di ranjang, helaan nafas lega langsung terdengar. Rasanya sudah lama sekali tidak tidur di ranjang kesayangannya ini, Rania benar-benar rindu. Walaupun kamarnya sangat biasa, tapi Rania tetap nyaman.
"Besok aku harus siap-siap pindahan, aku takut Mas Candra nyusul kesini," gumam Rania seorang diri.
Besok paginya saat adzan subuh berkumandang, Rania terbangun dari tidurnya. Ia merasa senang sekali pagi ini, mungkin karena terbangun di rumahnya. Rania pun keluar dari kamar, dan pandangan pertamanya langsung tertuju pada Leon.
"Kasihan dia," ucap Rania pelan.
Rania tidak mau membangunkannya, lagi pula masih terlalu pagi. Ia pun memutuskan mandi dulu lalu akan membantu Neneknya memasak. Di dapur mereka bertemu, Rania pun langsung menghampiri.
"Nenek mau ke pasar?" tanya Rania.
"Iya, kenapa? Kamu mau titip sesuatu?" tanya Ima balik.
"Bukan, kalau aku ikut boleh gak?"
"Kamu yakin? Nenek takut kamu di sana nanti banyak ditanyain sama Ibu-Ibu, apalagi tentang suami kamu itu."
Rania langsung terdiam dan membatin, yang dikatakan Neneknya itu ada benarnya juga. Nanti Rania kalau sudah di cecar begitu akan menjawab apa? Rania pun akhirnya mengurungkan niat tidak jadi ikut.
__ADS_1
"Kamu buat nasi aja ya sama masak air, terus nanti bangunin nak Leon," perintah Ima.
"Oke Nek, nanti aku kerjain."
Ima pun pamit pergi, harus buru-buru ke pasar karena kalau semakin siang biasanya cepat habis. Untung saja uang simpanannya masih ada, bahkan mungkin lebih. Ima sudah tidak bekerja, uang itu pemberian Candra setiap bulan.
Rania pun mulai sibuk di dapur, rasanya senang sekali bisa masak lagi karena sudah lama tidak. Tetapi saat akan mengangkat panci berisi air, Rania malah tidak sengaja menjatuhkannya karena terlalu berat. Suara jatuhnya pun cukup kencang.
"Rania ada apa?" tanya Leon. Terlihat mata pria itu merah seperti baru bangun tidur.
"Ini pancinya jatuh, airnya kayanya kebanyakan," jawab Rania.
Melihat perempuan itu akan berjongkok, segera Leon tahan tangannya, "Sudah biar aku aja yang lap airnya," ucapnya.
"Eh gak usah Leon, aku aja," tolak Rania.
"Gak papa, kamu lagi hamil. Aku lihat kamu jongkok jadi linu sendiri ke perut kamu." Leon mencoba bersikap gentle, Ia kan laki-laki.
Rania pun berterima kasih lalu segera membawakan lap kering, setelahnya memberikan pada Leon yang mulai membersihkan lalu memindahkan air itu ke ember. Setelah merasa kering dan genangan air habis, Leon pun membawa ember itu ke belakang.
"Maaf ya Leon aku jadi bangunin kamu," ucap Rania tidak enak, pasti Leon terbangun karena keributan nya di dapur.
"Kenapa? Kasurnya pasti gak enak ya?"
"Bukan itu, tapi di sini dingin banget," jawab Leon, sesekali tubuhnya terlihat bergidik.
"Masa sih? Menurut aku biasa aja ah."
"Kamu mah dari lahir tinggal di sini, jadi sudah biasa. Nah aku orang kota yang biasanya selalu panas, ngerasa dingin baru pertama kali di sini," kata Leon.
Rania hanya terkekeh kecil mendengar itu, "Jadi kamu gak mau lanjut tidur?" tanyanya.
"Enggak, sudah gak ngantuk lagi. Kamu sudah mandi Rania?" Leon bisa melihat perempuan itu terlihat segar dan cantik subuh ini.
"Sudah," angguk Rania.
Kedua mata Leon terbelak, "Emangnya gak dingin?"
"Lumayan, tapi seger. Kamu mau mandi sekarang?"
__ADS_1
"Haha enggak-enggak, kayanya kalau aku mandi rasanya udah kaya air es aja," celetuk Leon membuat Rania kembali tertawa.
Setelah Leon mencuci wajah dan menggosok gigi, pria itu memutuskan membantu Rania di dapur. Ia tidak bisa masak, tapi jika ada suatu pekerjaan yang menurutnya berat maka Leon akan sigap membantunya.
"Eh nak Leon sudah bangun?" tanya Nenek Ima yang sudah kembali.
"Sudah, Nenek dari mana?" tanya Leon. Pria itu pun beranjak untuk membantu wanita itu mengambil alih barang-barangnya.
"Nenek dari pasar, cukup banyak belanja bahan makanan soalnya ada Rania pulang," jawab Ima.
"Oh iya buat simpenan ya Nek."
"Iya, Ibu hamil kan selalu makan banyak."
Melihat keluarga kecil ini yang terlihat tentram dan saling menyayangi, membuat Leon nyaman sendiri berada di sana. Bukan berarti keluarganya tidak menyayanginya, tapi entah kenapa rasanya berbeda saja. Yang satu ini terlihat sangat tulus.
"Jadi nak Leon kapan pulang ke Jakarta?" tanya Ima.
Leon menghentikan sejenak makannya, "Kayanya hari ini juga mau pulang lagi," jawabnya.
"Nenek kira mau agak lama di sini, nak Candra belum jalan-jalan di sekitar desa. Di sini banyak pemandangan bagus, pasti nak Candra suka."
"Wah beneran Nek? Jadi pengen lihat-lihat," ujar Leon tergiur tawaran itu.
Rania lalu mengacungkan tangannya, "Nanti biar aku antar, aku juga sudah lama gak di sini. Pasti banyak tempat yang baru."
"Oke, nanti ya."
Jangan salah paham, Rania juga ingin sekalian membalas kebaikan Leon karena pria itu sudah mengantarnya pulang, Rania membalasnya dengan mengajak Leon kali ini berkeliling kampung. Setelah pria itu pergi, entah kapan mereka akan bertemu lagi.
"Nek, aku mau pindah ke rumah bibi ya?" tanya Rania meminta izin.
"Loh kenapa?"
"Cuman mau jaga-jaga, aku takut Mas Candra sewaktu-waktu nyusulin ke sini. Dia pasti bakalan langsung ke rumah ini. Tapi kalau aku pindah, dia gak akan duga aku pulang ke kampung."
Ima mengangguk-angguk mengerti, ada benarnya juga yang dikatakan cucunya itu, "Ya sudah, nanti selesai makan kita ke sana ya lihat-lihat."
Dan Leon pun kembali akan ikut.
__ADS_1