
Candra pun berbalik dan langsung tersenyum kikuk, "Hah? Gak papa kok," jawabnya mengelak.
Tetapi Rania yakin jika suaminya itu sedang mencari surat penting itu, ternyata benar Candra belum percaya sepenuhnya kepadanya. Pria itu juga sepertinya tidak berani jika mendesak dan terus menanyakan kepadanya karena bisa menjadi boomerang.
"Mas aku mau tidur sekarang," ucap Rania mengkode.
"Oh iya, mau aku temenin?" tawar Candra.
"Enggak usah, aku sendiri aja. Mas juga besok kerja, kan?"
"Ya sudah kalau gitu, selamat malam." Candra pun keluar dari kamar itu, jika di perhatikan matanya terus melirik sekitar kamar berusaha mencari sesuatu.
Selepas kepergian pria itu, Rania langsung mengunci pintu kamarnya dan bernafas lega. Ia menyembunyikan surat itu di tasnya, sepertinya akan Rania bawa pulang saja. Rania pun kembali melanjutkan pekerjaannya mengemasi beberapa pakaiannya.
Tetapi Rania tidak membawa semua pakaiannya, hanya yang penting saja dan barang-barang miliknya. Rania tidak akan kuat membawanya sendiri, Ia kan sedang hamil besar. Di pukul sepuluh malamnya, akhirnya pekerjaannya pun selesai juga.
"Hah capek juga," desah Rania sambil mengusap keringat di keningnya.
Sebelah tangannya lalu terulur mengusap perutnya, "Maaf ya sayang Mama capek-capek an begini, tapi kita benar-benar harus pergi dari sini," ucapnya.
Sekarang pertanyaannya bagaimana caranya supaya Rania bisa melarikan diri dari rumah ini? Di depan kan pasti selalu ada satpam yang berjaga, nanti pasti akan ditanyai ini itu dan Rania khawatirnya mereka langsung melaporkan kepada Candra.
Rania pun mencoba tidur terlebih dahulu, Ia benar-benar lelah. Mungkin setelah beristirahat sebentar keadaannya akan pulih. Suara alarm di ponselnya kembali membangunkan perempuan itu, saat melihat jam sudah menunjukan pukul satu dini hari.
"Baiklah sekarang waktunya kita pergi," gumam Rania.
Tidak lupa Ia memakai mantel hangatnya, di luar pasti sangat dingin. Rania mengendap saat keluar kamar, memperhatikan sekitar dengan teliti khawatir ada orang. Setelah keluar dari rumah itu, untuk sejenak Rania pun bisa bernafas lega.
"Aduh gimana nih, Pak satpam kira-kira ada di depan gak yah?" tanyanya seorang diri.
__ADS_1
Rania berjalan dengan hati-hati, sambil melihat sebuah pos jaga di dekat gerbang. Setelah di perhatikan lagi, ternyata satpam rumah sedang tidur di kursi dengan keadaan TV menyala. Rania tersenyum lebar, merasa Tuhan memberinya pertolongan.
Dengan dada berdegup kencang, Rania membuka pintu gerbang, khawatir menimbulkan suara. Setelah Rania berjalan menjauhi rumah itu, helaan nafas penuh kelegaan langsung terdengar. Ia sesekali menengok ke belakang, merasa senang karena akhirnya bisa keluar juga dari rumah itu.
"Ya Tuhan, benar-benar sangat menegangkan. Semoga saja tidak ada yang melihat," gumam Rania sambil mengelus dada nya.
Keadaan di sekitar komplek saat itu sangat hening dan sepi. Sebenarnya bukan hantu yang Rania takutkan, tapi orang jahat. Ia terus berdoa di dalam hati semoga Tuhan selalu bersamanya. Saat melihat sebuah mobil dengan cahaya silau dari depan, membuatnya sebentar memejamkan mata.
Tin!
Mobil itu berhenti tepat di depannya, sambil membunyikan klakson membuat Rania bingung. Saat si pengendara turun, baru lah Rania mengenalinya. Rania pun langsung berjalan cepat pergi dari sana, tapi sayang tangannya ditahan seseorang itu.
"Rania kamu mau kemana? Kenapa malam-malam begini di luar?" tanya Leon terkejut sendiri.
Tadi Leon sempat tidak percaya melihat perempuan itu, berpikir hanya salah lihat atau orang yang mirip. Tetapi anehnya perutnya besar seperti orang hamil, membuat Leon yakin jika dugaannya benar.
"Lepaskan Leon!" sentak Rania.
"Bukan urusan kamu!"
"Ini urusan aku, perempuan hamil malam-malam ada di luar. Aku takut kamu kenapa-napa, bahaya di luar," ucap Leon dengan suara kerasnya.
Rania menghela nafasnya berat sambil menggerutu di dalam hati. Kenapa Ia harus bertemu Leon sih? Di tempat yang tidak terduga lagi, kenapa juga pria itu malam-malam begini berada di sini? Rania mengerang pelan, Ia kira percobaan melarikan dirinya berjalan sukses.
"Kamu juga bawa tas besar, kamu sebenarnya mau kemana? Apa jangan-jangan kamu mau pergi ya?" tanya Leon.
"Kalau iya kenapa? Kamu mau laporin aku ke Kak Livia dan Mas Candra?" tanya Rania sinis, merasa sudah lelah berdebat.
"Jadi mereka gak tahu kamu pergi?" Leon sampai mengedipkan matanya pelan, tidak menduga dengan Rania yang nekad begini.
__ADS_1
"Aku diam-diam pergi dari rumah, " ucap Rania pelan.
"Kenapa? Apa yang terjadi?"
"Ada sesuatu yang buat aku memutuskan pergi, kali ini aku juga gak bisa maafin Mas Candra."
"Alasan apa?"
Rania pun kembali menatap Leon, "Kamu sendiri yang waktu itu bilang tidak mau ikut campur masalah rumah tangga aku, jadi kamu gak perlu tahu Leon," ucapnya agak sinis.
Tangan Leon yang dari tadi menahan Rania pun terlepas, merasa yakin jika perempuan itu tidak akan lari, dan ternyata benar. Leon memang tidak mau ikut campur, tapi Ia harus tahu alasan Rania pergi dari rumah.
"Kali ini aku mau ikut campur, apalagi kamu sampai melakukan hal nekad begini," ujar Leon dengan ekspresi serius.
"Sudahlah Leon, jangan bersikap sok begini lagi. Aku tahu kamu hanya akting mendekati aku, padahal ada sesuatu yang sedang kamu rencanakan. Aku gak mau berharap lagi sama kamu, karena aku sudah terlalu sering di kecewakan." Rania mengatakannya dengan pahit.
Senyuman miris terukir di bibir Leon, merasa sedih mendengar jika dirinya masih di tuduh begitu. Ternyata benar jika seseorang sudah terlanjur kecewa akan sulit membuatnya percaya lagi. Entah kenapa, Leon merasa menyesal telah bertindak ceroboh waktu itu.
"Aku serius Rania, aku gak ada maksud apapun deketin atau sok perhatian lagi sama kamu. Aku cuman khawatir sama kamu sekarang, apalagi kamu lagi hamil," kata Leon berusaha meyakinkan.
Melihat perempuan itu hanya diam saja seolah mengabaikan, membuat Leon harus bersabar, "Ini sudah malam, tidak baik perempuan di luar," ucapnya.
"Kamu bisa pergi, aku juga akan pergi," seru Rania.
"Biar aku antar."
"Gak usah, aku bisa sendiri," tolak Rania. Baru saja beberapa langkah, suara Leon kembali menghentikannya.
"Kalau kamu gak mau pergi sama aku, aku akan laporin kamu sekarang juga sama Kak Candra. Aku serius Rania," ancam Leon dengan suara lantangnya.
__ADS_1
Rania menghentakan kakinya kesal ke tanah, Ia kembali menoleh dan menatap kesal Leon. Pria itu lalu membuka pintu mobil, memintanya masuk lewat tatapannya. Dan mau tidak mau, Rania pun menurut saja.
Leon pun segera ikut masuk lalu mengemudikan mobilnya pergi dari sana. Mereka sempat melewati rumah Candra, Rania sempat menduga pria itu akan berhenti tapi ternyata tidak. Sekarang Rania tidak tahu kemana Leon akan membawanya.