
"Dor!"
Rania terpekik saat mendapat kejutan itu, Leon yang berhasil mengerjainya pun tidak bisa menahan tawanya lagi, Rania yang merasa kesal sudah dikerjai pria itu pun repleks memukul tangan Leon pelan. Pria itu bersembunyi di dinding dan saat Ia berbelok baru tiba-tiba muncul.
"Ih Leon, ngagetin aja," ucap Rania dengan nada agak ketusnya sanking kesal sudah dikerjai.
"Hehe maaf-maaf, tapi ngerjain kamu itu seru tahu," sahut Leon sambil cengengesan.
"Seru kenapa?"
"Soalnya kamu lucu aja, apalagi kalau lagi kaget gitu haha."
"Ih apaan sih? Enggak, aku gak suka." Tanpa sadar Rania merengek sambil menunjukan ekspresi sebalnya, sikapnya itu tentu di luar kendali.
"Ya sudah deh, tapi gak janji ya."
Rania hanya mengerucutkan bibir dan berdehem pelan, Ia tahu kepribadian Leon itu memang jahil dan Rania harus membiasakan diri. Mereka seperti teman saja yang salah satu suka usil, satunya lagi kalem dan pasrah-pasrah saja.
"Apa kamu kesini karena tahu Kak Livia sakit?" tanya Rania.
"Hah emangnya Kakak sakit?" Leon malah bertanya balik.
"Kamu gak tahu?"
"Enggak, aku juga kan baru kesini."
Melihat ekspresi bingung Leon, sepertinya pria itu tidak bohong, "Tadi pagi aku lihat wajah Kak Livia agak pucat, terus dia juga katanya pusing. Tapi anehnya dia bukan minum obat paracetamol, tapi aspirin. Itu obat apaan ya?"
"Itu obat penghilang mabuk," sahut Leon yang memang tahu, "Mungkin dia pusing karena mabuk, bukan karena sakit."
"Aku gak tahu pasti sih, tapi semoga aja Kak Livia gak kenapa-napa."
Leon sedikit memiringkan kepalanya, "Kamu kelihatan khawatir gitu sama dia? Kenapa?" tanyanya.
"Gak tahu, tapi aku selalu ngerasa gak enak aja sama Kak Livia. Aku pengen deket sama Kak Livia, tapi.. Aku sadar diri, aku juga harus jaga batasan karena gak mau dia ngerasa terganggu," ucap Rania sambil berusaha tersenyum. Ia tidak bisa memastikan apakah hanya dengan membuat Livia bubur, membuat mereka menjadi dekat atau tidak.
__ADS_1
"Kok gitu ya? Kalian itu complicated banget," kekeh Leon.
"Maksudnya?"
"Iya kamu dan Kakak aku kan harusnya musuhan, saling benci gitu," celetuk Leon.
Kedua mata Rania terbelak, "Ke-kenapa begitu?"
"Kalian emangnya gak merasa saling cemburu satu-sama lain gitu? Kalian kan punya suami yang sama, harusnya bersaing dong untuk jadi yang paling disayang."
Entah apa maksudnya Leon mengatakan itu, tapi Rania yang mendengarnya jadi merasa tersinggung sendiri. Apalagi ekspresi wajah Leon terlihat sinis saat menatapnya, Rania jadi sedikit ciut.
"Aku cuman bercanda hehe, biasanya kan yang di sinetron begitu," ucap Leon kembali tertawa dan menepuk pelan bahu Rania.
Rania pun tanpa sadar menghela nafas lega, "Emangnya kamu suka nonton sinetron gitu Leon?" tanyanya.
"Enggak sih, tapi temen kelas yang cewek suka nge gosip begitu," jawab Leon dengan ekspresi tidak meyakinkannya.
"Ada-ada saja," gumam Rania sambil menggelengkan kepala. Bagi Rania, Ia tidak mau memiliki hubungan yang buruk dengan Livia. Jika pun Livia membencinya, Rania tidak akan membalas begitu karena Ia tahu diri mungkin dirinya memang pantas dibenci.
"Oh iya aku ke atas dulu." Sebelum pergi, Leon sempat tersenyum padanya lalu melenggang pergi naik ke lantai atas.
Rania sendiri ke dapur untuk membawa sup ayam dan nasi yang masih hangat, tadi Rania sempat meminta membuatkan pada pembantu karena untuk Livia juga kebetulan siang ini Rania pun sedang ingin makannya dengan yang berkuah. Rania pun membawa dua piring dengan segelas air itu di nampan.
"Mau bibi bantu Nona?" tawar mbok Tati yang baru datang ke dapur.
Rania menoleh, "Hehe gak papa mbok, aku bisa bawa sendiri kok," tolak nya halus.
"Memangnya Non Rania mau makan dimana?"
"Ini bukan buat aku, ini buat Kak Livia. Dia kan lagi sakit, jadi aku bawain ke kamarnya," jelas Rania.
"Ya sudah biar mbok aja yang bawain, takut Non Rania kenapa-napa." Mbok Tati hanya berjaga-jaga saja, bagaimana kalau misal Rania jatuh karena kesusahan? Kan bahaya.
"Gak papa mbok, aku beneran bisa kok. Aku ke atas dulu ya." Rania akan tidak enak jika pembantunya itu terus menawarkan, nanti hatinya luluh lagi. Jadi perempuan itu pun memutuskan pergi dari dapur untuk ke kamar Livia di lantai atas.
__ADS_1
Langkahnya semakin dekat ke kamar itu, tapi tiba-tiba terhenti saat telinganya tidak sengaja mendengar obrolan dari dalam. Kebetulan pintunya sedikit terbuka, jadi Rania bisa mendengar percakapan dari Livia dan Leon di dalam.
"Perhatian juga dia sampai buatin kamu bubur," ucap Leon agak sinis.
"Dia juga sampai repot kesana-kemari ngurusin aku." Livia melanjutkan menjelaskan.
"Mungkin dia lagi cari perhatian, atau lagi pengen sesuatu."
Rania mengernyitkan keningnya, entah kenapa Ia merasa tersinggung. Apakah yang sedang mereka bicarakan itu dirinya? Sepertinya begitu. Lagi-lagi Rania mendengar dirinya sedang dibicarakan, hatinya selalu jadi tidak nyaman dan Ia jadi kepikiran.
"Pengen apa?" tanya Livia.
"Cari muka lah, katanya dia pengen deket sama kamu. Bisa-bisa nanti posisi kamu di rumah ini tergeser oleh dia lagi."
Merasa tidak sanggup lagi mendengar obrolan itu, Rania memutuskan berbalik untuk pergi dari sana. Ia kembali turun ke bawah dan menyimpan nampan berisi makanan itu di meja pantri. Rania terdiam beberapa saat mengingat obrolan dua saudara tadi di atas. Hatinya merasa sakit, Rania merasa tidak seperti yang Leon tuduhkan seperti itu. Kenapa sikap pria itu berbeda sekali ya saat di hadapannya dan di belakang?
"Loh Non Rania gak jadi anterin ke kamar Nyonya?" tanya mbok Tati mendekatinya.
"Enggak mbok, boleh minta tolong anterin nya sama mbok aja gak?" Rania jadi merasa tidak enak, karena tadi kan sempat menolak.
"Iya gak papa Non, biar mbok aja ya yang anterin."
"Makasih ya mbok, kalau gitu aku ke kamar dulu."
"Iya Non."
Merasa cuaca siang itu cukup panas, Rania membawa segelas jus dingin menuju belakang. Duduk bersantai di sebuah kursi yang tepat di sisi kolam, Ia tidak merasa panas karena ada payung besar yang menghalangi. Di sana Rania malah melamun, kembali memikirkan perbincangan yang cukup menyinggung perasaannya.
"Jangan ngelamun, nanti kemasukan setan," tegur Leon setengah bergurau.
Rania hanya melirik pria itu sekilas, lalu meminum jusnya dan berusaha mengabaikan. Kenapa Leon malah menghampirinya? Rania sedang ingin sendiri dan tidak mau diganggu. Untuk beberapa saat pun mereka saling terdiam.
"Kamu emangnya gak bosen di rumah setiap hari Rania?" tanya Leon kembali memulai obrolan.
"Enggak, biasa aja," jawab Rania terpaksa karena takut dianggap tidak sopan jika mengacuhkan.
__ADS_1
"Gimana kalau kita jalan-jalan?" tawar Leon, membuat Rania pun akhirnya menatap pria itu.