
Malam pun datang, setelah keributan itu Rania dan Neneknya memilih mengurung diri di dalam kamar berusaha menghindar. Leon juga menyuruh Rania jangan keluar dulu, sampai Candra pulang.
Tok tok!
Mendengar ketukan pintu kamarnya, membuat Rania beranjak untuk membuka, dan ternyata itu Leon. Rania sempat melihat ke belakang pria itu, khawatir ada Gina yang melihat. Wanita paruh baya itu pasti akan sensi lagi kalau melihat Leon sedang bersamanya.
"Ada apa Leon?" tanya Rania.
"Ayo makan malam," ajak Leon.
"Em tapi aku malu," cicit Rania.
"Malu kenapa?" Leon langsung terpikirkan sesuatu, "Pasti kamu takut sama Mama aku ya?"
"Bukan takut tapi--"
Leon lalu menggenggam tangan Rania, "Sudah jangan takut, kan ada aku. Ada Kak Livia sama Kak Candra juga di sana," ucapnya menenangkan.
Benar juga, batin Rania.
Ternyata Leon itu sangat peka, bukan malu yang Rania rasakan, tapi perasaan takut pada Gina. Hatinya selalu sakit kalau sudah di sindir-sindir dan di jelekan wanita itu, apalagi kalau di hadapan banyak orang. Tetapi sepertinya Rania tidak perlu khawatir, kan akan ada banyak orang di sana.
"Ya sudah sebentar aku ajak Nenek dulu ya," ucap Rania.
"Oke, aku tunggu di ruang makan." Leon pun melambaikan tangannya lalu pergi dari sana.
Rania tidak lupa menutup pintu kamarnya lagi lalu berjalan menuju kamar tamu yang ditempati Neneknya. Setelah Ia ketuk beberapa kali, baru lah pintu terbuka dari dalam. Sebenarnya Rania masih agak malu bertemu Neneknya, malu karena ketahuan bohong.
"Ya Rania?" tanya Neneknya.
"Kita makan malam dulu yuk Nek," ajaknya membujuk. Rania merasa malu kalau pergi sendiri, Neneknya harus ikut.
"Apa semuanya ada di sana?"
"Sepertinya."
__ADS_1
Ima terlihat terdiam beberapa saat, seperti sedang memikirkan sesuatu yang berat, "Kamu akan baik-baik saja, kan?"
"Hah?"
"Ya sudah ayo kita ke sana." Ima tidak melanjutkan perkataannya tadi, ingin melihat langsung saja keadaan di sana jika sudah berkumpul bersama. Penasaran dengan suasananya.
Saat masuk ke ruang makan, ternyata benar semua sudah menunggu. Candra lalu memanggil mereka untuk duduk, Rania dan Neneknya pun duduk bersebelahan. Mereka terlihat kikuk sekali di sana, suasananya merasa tidak nyaman saja.
"Mama dari kapan di sini?" tanya Livia.
"Dari tadi siang, mungkin pas kamu kerja," jawab Gina.
"Mama gak buat masalah, kan?"
Gina hampir tersedak makanannya mendengar itu, "Apa?"
"Aku dengar dari Leon kalau Mama buat keributan."
Gina pun langsung melirik sinis putranya, dan Leon dengan cepat fokus lagi makan seolah tidak peduli, "Mama pikir mereka memang pantas mendapatkannya," ucapnya tajam sambil menatap Rania dan wanita tua di depannya.
"Candra, kamu yang nyuruh Livia pura-pura jadi Kakak tiri kamu?" tanya Gina sinis.
"Em itu--"
"Kamu ini gak punya perasaan minta begitu ke Livia, dia itu istri kamu. Cuman agar rahasia kamu itu gak kebongkar sama Nenek tua itu, kamu sampai nyuruh-nyuruh begitu. Gak punya hati kamu!" maki Gina. Emosinya sudah tidak terbendung.
Candra pun repleks melirik Nenek Ima, tanpa sadar menelan ludahnya kasar. Apa jangan-jangan rahasia yang terbongkar itu tentang Ia yang ternyata punya dua istri? Perasaan cemas perlahan hinggap di dada Candra, apa Nenek Ima sudah tahu semuanya?
"Mah udah Mah," tegur Leon.
"Ck diam kamu, kamu juga kenapa gak belain Kakak kamu sih? Malah belain si pelakor itu!"
Mendapatkan bentakan begitu, membuat Leon ciut dan memilih diam. Baru kali ini dimarahi, mungkin Mamanya kesal dengan kejadian tadi sore jika Ia yang lebih memilih Rania.
"Kita bicarakan nanti," ucap Candra mengkode untuk diam. Tidak enak rasanya ribut di depan makanan, apalagi di depan Nenek Ima.
__ADS_1
Rasanya Candra ingin menghilang saja sekarang. Jika benar Nenek Ima sudah tahu rahasianya, Candra benar-benar malu. Apa semua gara-gara mertuanya itu? Lagi-lagi Gina membuat masalah. Nanti Candra harus menjelaskan kepada mereka berdua tentang kesalahpahaman ini.
Rania jadi tidak nafsu makan karena keributan ini, menyalahkan dirinya yang membuat masalah di keluarga ini. Sepertinya bukan hanya dirinya yang tidak nafsu makan, tapi semuanya. Mereka terdiam dengan lamunannya masing-masing.
"Rania, Nenek mau tidur sekarang saja," bisiknya. Kepalanya sakit sekali melihat keributan ini.
Rania mengangguk lalu beranjak dari duduknya, "Ayo Nek, aku antar ke kamar ya."
Lagi pula Rania juga ingin pergi dari meja makan itu, padahal mereka baru makan sedikit. Sesampainya di kamar, keduanya langsung duduk di ranjang. Tatapan mereka sempat bertemu, tapi Rania langsung mengalihkan.
"Sekarang yang Nenek pikirkan itu kamu dan bayi kamu. Harus bertahan di keluarga seperti ini pasti tidak nyaman untuk kalian." Ima lalu membawa tangan cucunya, "Rania, lebih baik kamu ikut saja pulang dengan Nenek ya?" bujuknya.
"Aku juga pengen Nek, tapi.. Aku gak bisa," tolak Rania.
"Kenapa Rania? Kamu jangan pura-pura kuat, kasihan kamu nak." Kedua mata Ima berkaca-kaca hampir menangis meratapi nasib cucunya yang malang ini.
Di tengah obrolan mereka, pintu kamar diketuk dan masuklah Candra. Terlihat pria itu yang terdiam di ambang pintu, dengan ekspresi wajah tertekan nya. Dengan perlahan Candra pun mendekati ranjang, lalu berjongkok di bawah mereka.
"Nenek, aku minta maaf," ucapnya pelan.
Candra tahu permintaan maafnya ini tidak pantas, terasa percuma juga karena sudah beberapa kali melakukan kesalahan. Tetapi Candra memang haruskan minta maaf? Masalah dimaafkan atau tidak itu belakangan.
"Nenek benar-benar tidak mengerti dengan nak Candra," ucapnya dengan suara serak.
Candra yang mendengar itu merasa semakin tertekan, "Nek aku--"
"Kenapa nak Candra tidak cerita dari awal kalau nak Candra itu sebenarnya sudah menikah? Mungkin kalau tahu begitu, Nenek tidak akan meminta nak Candra untuk bertanggung jawab pada Rania."
"Saat mendengar kalau Rania hamil, jujur saja sebenarnya aku merasa senang. Aku juga sudah meminta izin pada Livia dan dia.. Dia mengizinkan kok," ucap Candra berusaha menjelaskan.
"Tapi sekarang Rania jadi ada dalam hubungan yang rumit ini. Nenek khawatir kedatangan dia kesini malah membuat keluarga ini jadi berantakan, pasti banyak yang tidak menyukai kehadiran dia."
"Aku sedang berusaha Nek, aku pastikan Rania akan baik-baik saja di sini," ucap Candra bersungguh-sungguh.
Rania tidak tahu harus mengatakan apa, hanya bisa terdiam dengan kepala tertunduk. Suasana ini sangat tidak nyaman, tapi Rania tahu jika Neneknya dan suaminya kini memang harus bicara berdua. Menyelesaikan masalah.
__ADS_1
"Bagaimana kalau kalian berpisah saja?" Pertanyaan Ima membuat Rania dan Candra terkejut.