Ternyata Aku Istri Keduanya

Ternyata Aku Istri Keduanya
Merasa Kasihan


__ADS_3

"Kayanya aku harus anterin kamu kembali ke rumah," jawab Leon sambil mendesah berat.


Rania yang mendengar itu menjadi panik, Ia pun repleks memegang tangan Leon, "Aku gak mau, jangan anterin aku ke sana. Aku mohon," pintanya sambil memelas.


"Oke aku gak akan anterin kamu pulang ke sana, tapi kamu harus ngasih aku alasan kenapa kamu kabur dari rumah? Gimana?" Leon pikir kali ini Rania tidak akan mengelak.


"Aku gak bisa jelasin sama kamu," cicit Rania dengan kepala menunduk.


"Ya sudah kalau gitu aku bakal telepon Kak Candra sekarang dan ngasih tahu dia kalau kamu lagi ada di sini."


Sebelum Leon beranjak, Rania kembali menahan tangannya sambil berteriak keras. Melihat pria itu yang malah tertawa cekikikan, membuat Rania kesal. Sekarang haruskah Rania jelaskan pada Leon?


"Aku janji gak akan cerita ke siapapun," ucap Leon yang tahu Rania masih ragu.


"Bohong, kamu kan orangnya gak bisa dipercaya," sahut Rania menohok.


"Kalau misal rahasianya cukup penting, aku gak akan sebarin. Jadi gimana?"


Dengan terpaksa akhirnya Rania pun menjelaskan kenapa Ia melarikan diri dari rumah malam itu. Sepanjang cerita Rania terus menunduk, terkadang suaranya tercekat dan terhenti sebentar merasa tenggorokannya sakit.


"Aku terlalu naif yakin kalau Mas Candra akan suka sama aku," gumam Rania sedih.


"Tapi aku pikir Kak Candra emang udah suka sama kamu," sela Leon merasa tidak setuju.


"Enggak, dia bersikap baik begitu karena ingin menjaga bayinya di perut aku. Itu pasti salah satu dari rencana dia, agar aku juga gak curiga," kata Rania.


Sayangnya yang Leon lihat, Kakak Iparnya seperti ada perasaan pada Rania. Inilah dulu yang membuatnya agak kesal, karena Candra seperti mempermainkan hati Livia. Sikap perhatian Candra juga terlihat natural pada Rania, bukan dibuat-buat.


"Tapi emangnya kamu udah yakin kalau surat itu asli mereka yang buat?" tanya Leon.


"Aku yakin, karena sampai ada tandatangan di atas materai. Kamu mau lihat? " tawar Rania.


"Boleh," angguk Leon.


Rania pun turun dari ranjang untuk membawa surat kontrak itu di dalam tasnya, setelahnya Ia berikan pada Leon. Entahlah apa kali ini Leon itu akan mengkhianatinya lagi atau tidak, tapi Rania merasa sudah kepalang cerita.


"Apa mungkin kamu juga tahu mengenai ini Leon?" tanya Rania curiga.


"Ya enggak lah, aku gak tahu tentang ini. Tapi aku gak nyangka mereka nyiapin rencana kaya gini," bantah Leon sambil bergumam di akhir.

__ADS_1


Tatapan Leon menyendu menatap Rania, tiba-tiba merasa kasihan dengan nasib perempuan muda itu. Melihat isi perjanjian kontraknya terasa jahat dan sangat merugikan Rania. Apalagi Livia juga ikut dalam rencana, kenapa Kakaknya sampai seperti ini ya?


"Kenapa kamu gak nangis?" tanya Leon konyol.


"Aku sudah puas nangis kemarin, sampai mata aku bengkak," jawab Rania tanpa malu.


Sebelah tangan Leon terulur menepuk pelan bahu Rania, "Kamu perempuan kuat, kamu yang sabar ya Rania," katanya memberikan semangat.


Rania hanya tersenyum kecut, kurang sabar apalagi dirinya? Sudah di bohongi suaminya sendiri berkali-kali, dan puncaknya adalah kali ini. Rania merasa Candra hanya memanfaatkannya saja, mungkin karena dirinya terlihat lugu.


"Terus sekarang apa rencana kamu?" tanya Leon.


"Aku mau pulang ke desa, kembali ke rumah Nenek." Mungkin di sana Rania bisa lebih aman dan hidup dengan damai, dari pada di sini.


"Terus gimana kalau Kak Candra nyusulin kamu ke sana?" Leon tiba-tiba terpikirkan ini, bisa saja kan?


"Aku gak tahu, aku akan coba sembunyi," gumam Rania sambil menggeleng pelan.


Rania tahu dirinya melarikan diri ke desa terasa percuma, toh Candra pasti tahu Ia ada di sana. Mungkin nanti Rania akan tinggal di rumah peninggalan almarhum bibinya. Jaraknya lumayan jauh dari rumah Nenek, dan mungkin saja aman.


"Kapan kamu mau pulang?" tanya Leon lagi.


"Tapi kamu jadi mau pulang ke desa?"


"Iya, aku udah gak mau di sini lagi." Selain itu Rania juga takut bertemu Candra karena mereka masih di kota yang sama.


Untuk beberapa saat keduanya pun terdiam dengan pikiran masing-masing, terasa runyam sekali isi kepala mereka saat ini. Sesekali saling melirik, tapi saat pandangan bertemu malah langsung mengalihkan merasa malu sendiri.


"Aku sudah cerita sama kamu, jadi kamu janji ya jangan kasih tahu Mas Candra kalau aku ada di sini," ucap Rania.


"Aku gak akan cerita."


"Makasih."


Entahlah apa Rania harus percaya atau tidak pada Leon, tapi semoga saja pria itu memegang janjinya kali ini. Walaupun Leon sudah membantunya, tapi bukan berarti Rania bisa langsung mempercayainya lagi.


"Kamu gak nyalain ponsel kamu kan? Takutnya kalau nyala mereka bisa langsung lacak keberadaan kamu," ujar Leon baru teringat itu.


"Emangnya bisa?" tanya Rania baru tahu.

__ADS_1


"Bisa, sekarang kan sudah modern."


"Enggak sih, dari semalam juga aku matiin. Soalnya pasti Mas Candra bakal telepon terus, aku juga sedikit takut." Suara Rania jadi agak memelan di akhir.


"Tenang saja, ada aku kok," ujar Leon sambil menyengir lebar.


Saat keduanya sedang asik mengobrol, suara bel rumah berbunyi membuat perhatian teralih. Leon lalu beranjak keluar untuk membukakan pintu, meninggalkan Rania di kamarnya yang sedang bersantai.


"Tunggu sebentar!" teriak Leon, merasa kesal karena belnya terus di bunyikan.


Leon pun membuka pintu itu, tapi langsung tersentak karena yang datang adalah Kakaknya. Perlahan perasaan cemas pun hinggap di dada Leon, kenapa Livia pulang ke rumah?


"Kenapa di kunci sih?" tanya Livia agak kesal.


"Ya jaga-jaga lah, kan Mama udah berangkat," jawab Leon beralasan.


"Emangnya kamu anak kecil apa?!"


"Terserah aku lah," dengus Leon.


Melihat Kakaknya itu masuk ke dalam rumah, membuat Leon terus mengikutinya dan memperhatikan setiap gerak-geriknya. Tanda peringatan terus Ia nyalakan di kepala, untuk jangan sampai Livia ke belakang.


"Kak mau apa sih?" tanya Leon.


"Powerbank Kakak ketinggalan di sini, tapi lupa lagi nyimpen nya di mana," jawab Livia tanpa menatap.


"Ya elah cuman powerbank, Kakak kan punya banyak uang, tinggal beli lagi aja," ucap Leon.


"Gak bisa, itu powerbank nya beli di Paris dan spesial."


"Ck sama aja ah, Sama-sama powerbank," sahut Leon.


Livia lalu berhenti mencari di nakas, terdiam sambil berpikir keras dimana terakhir kali Ia berada di rumahnya. Tidak butuh waktu lama, Livia pun langsung teringat dan pergi untuk ke sana.


"Eh Kak mau kemana?" tanya Leon sambil menahan tangan Livia, melihat perempuan itu akan ke lorong menuju halaman belakang.


"Powerbank nya kayanya di kamar belakang, soalnya terakhir Kakak tidur di sana," jawabnya, "Lepasin ih, kamu ini kenapa sih?"


Kamar belakang? Tidak, kalau Livia ke sana sudah pasti akan melihat Rania. Apa yang harus Leon lakukan?

__ADS_1


__ADS_2