
Beberapa hari menuju hari pernikahannya, Rania dan Yoga sama-sama sibuk mempersiapkan. Walau memang ada manajer yang membantu, tapi untuk beberapa pilihan keduanya tentu yang harus menentukan.
Tidak terasa tinggal dua hari lagi akad itu berlangsung, calon suami istri itu tentu sangat gugup. Sayangnya sudah beberapa hari ini mereka tidak bisa bertemu, karena katanya memang harus begitu sesuai adat. Nanti baru bertemu lagi saat acara berlangsung.
Drrt!
Deringan ponselnya membuat perhatian Rania teralih. Melihat yang menelepon adalah Yoga, membuat perempuan itu tersenyum, "Hallo Mas, ada apa?"
["Aku kangen banget sama kamu,"] rengek Yoga di sebrang sana.
Rania yang mendengarnya tertawa geli, "Mas sudah bilang itu setiap hari loh, kita juga teleponan tadi pagi."
["Iya sih, tapi aku pengen banget ketemu kamu langsung. Pengen peluk kamu terus gak akan lepasin."]
"Jangan dong, nanti ada yang cemburu," celetuk Rania.
["Hah siapa yang cemburu?"] Tiba-tiba Yoga menjadi panik di sebrang sana.
"Daffin lah, nanti dia nangis pengen di peluk juga," jawabnya.
["Oh Daffin ya, tenang aja kan nanti juga gantian. Oh iya gimana kabar si ganteng? Aku juga kangen banget sama dia. Pasti dia juga kangen kan sama aku?"] tanya Yoga penuh percaya diri.
Rania lalu mendekatkan ponsel itu pada anaknya yang sedang duduk di Baby Walter. Rania mencoba mengajak mengobrol Daffin tanpa suara, sampai anaknya itu memekik pelan seolah menerima isyarat nya. Suaranya itu tentu membuat Yoga di sebrang sana senang.
["Hei ganteng ini Papa, maaf ya Papa udah lama gak jenguk kamu di sana. Tapi tenang aja, nanti kalau Mama sama Papa sudah nikah kita akan setiap hari ketemu hehe."]
Rania ikut tersenyum mendengarnya, "Mas sudah berhenti kerja kan?"
["Hari ini aku masih ke pabrik, besok baru cuti untuk siap-siap,"] jawab Yoga.
"Huft padahalkan harusnya udah cuti dari beberapa hari, Mas kan calon pengantin. Aku takut terjadi sesuatu."
["Tenanglah Rania, aku gak akan kenapa-napa kok. Lagian aku cuman ngecek kerja karyawan aja, gak ngelakuin apa-apa."]
"Ya sudah tapi pulangnya jangan terlalu malam ya, Mas jangan terlalu kecapean," nasihat Rania penuh perhatian.
["Iya sayang, nanti capeknya pas malam pertama kita aja ya."] Goda Yoga.
__ADS_1
"Ih dasar, sudah dulu ah, aku mau nidurin dulu Daffin."
Tanpa menunggu tanggapan calon suaminya lagi, Rania pun segera mematikan panggilan itu. Ia sempat melirik wajahnya di cermin, terlihat pipinya menjadi merah. Rania selalu malu dan salah tingkah kalau Yoga sudah menggodanya begitu.
Padahal hubungan suami istri ya wajar saja, dulu juga kan Rania pernah mendapatkannya beberapa kali. Hanya saja memang Rania tetap gugup, apalagi Yoga itu kan calon suami barunya. Yoga itu sudah berani menggoda Rania, mentang-mentang sebentar lagi sah.
"Sayang kita bobo siang dulu yuk, kamu juga sudah ngantuk kan?" tanya Rania pada Daffin.
Perempuan itu beranjak untuk menggendong anaknya ke kamar, mencoba menidurkan nya dengan memberi asi. Tetapi ternyata Rania juga malah ikut tertidur, mungkin kelelahan karena beberapa hari ini cukup sibuk.
Ceklek!
"Rania-Rania bangun!"
Merasakan goncangan di tubuhnya, membuat Rania terpaksa membuka mata. Setelah pandangannya jelas baru bisa melihat jika yang membangunkannya itu adalah Neneknya.
"Ada apa Nek?" tanya Rania dengan suara serak khas bangun tidur.
"Kamu belum dengar kabar ini?"
"Hm kabar apa?" Rania saja baru bangun tidur, kesadarannya belum terkumpul sempurna.
Perlahan kedua mata Rania terbelak, Ia sampai tersentak dari tempat duduknya, "Nenek serius? Nenek gak bohong kan?"
"Enggak, memangnya Nak Yoga gak kabarin kamu?"
"Aku gak tahu, dari siang aku tidur sama Daffin. Terus gimana Mas Yoga sekarang? Dia gak papa kan?" tanya Rania khawatir.
"Katanya Nak Yoga langsung di bawa ke puskesmas, Nenek belum dapat kabar lagi dari dia."
Rania menggigit bibir bawahnya, perasaan takut itu perlahan hinggap di dadanya membuatnya kalut. Ternyata ketakutannya terjadi juga, padahal Rania sudah mewanti-wanti Yoga untuk cuti lebih awal.
"Sudah jangan nangis, kamu mau lihat dia ke sana?" tawar Nek Ima.
"Memangnya boleh? Bukannya katanya gak boleh?" tanya Rania balik, tapi di dalam hati berharap bisa.
"Terserah kamu mau atau tidak, tidak apa-apa kok."
__ADS_1
"Ya sudah aku mau lihat Mas Yoga ke puskesmas, anter aku ya Nek," jawab Rania cepat.
"Iya-iya, biar Nenek yang gendong Daffin." Rasanya tidak tega juga membangunkan balita itu yang sedang tidur dengan nyenyak nya.
Rania mengganti bajunya agar lebih rapih, Ia tidak memakai make up atau berdandan berlebihan karena sedang buru-buru. Mereka lalu di antar menggunakan ojek, menuju puskesmas tempat Yoga di bawa.
Beberapa menit kemudian akhirnya sampai juga. Segera keduanya turun dan masuk ke puskesmas itu. Rania sempat menanyakan pada salah satu suster, setelah diberi tahu kamar rawat nya mereka langsung menuju ke sana.
"Mas Yoga," panggil Rania keras saat memasuki kamarnya.
Yoga yang duduk di atas ranjang terlihat terkejut melihat kedatangan calon istrinya itu, "Loh Rania, kenapa kamu--"
Sebelum pria itu banyak bertanya Rania langsung berhambur mendekat dan memeluknya. Tanpa bisa ditahan air mata yang sudah ditahannya dari tadi akhirnya luruh juga. Rania terisak di bahu Yoga, sedang pria itu terdiam karena masih terkejut.
"Mas ini kan sudah aku bilang untuk hati-hati. Aku juga sudah bilang untuk cuti lebih awal, kenapa gak nurut sih? Lihat sekarang Mas terluka, padahal dua hari lagi kita menikah!" isak Rania.
Yoga malah tersenyum tipis sambil memgusapi punggung perempuan itu, "Sayang aku gak papa kok," ucapnya pelan.
"Hiks bohong, kalau gak papa kenapa sampai dibawa ke sini?"
"Soalnya tangan aku berdarah kena paku. Sebenarnya bisa diobatin sendiri, tapi karyawan aku mereka berlebihan banget bilang aku harus kesini."
Rania melepaskan pelukannya untuk melihat luka itu, berada di tangan kanan Yoga. Ada perban lumayan panjang di dekat siku, sepertinya lukanya di sana.
"Terus mana lagi yang luka?" tanya Rania.
"Gak ada, cuman ini."
"Bohong, kaki kamu terkilir gak?"
"Lumayan agak sakit, tapi kata dokter gak papa, gak sampai cedera. Nanti juga biasa lagi."
Melihat calon istrinya itu yang terlihat belum tenang dan masih mengkhawatirkan nya membuat Yoga mengecup punggung tangannya berusaha menenangkan.
"Maaf ya buat kamu khawatir, sampai kamu bela-bela in kesini untuk jenguk aku," ujar Yoga.
"Aku juga baru bangun tidur, kaget pas Nenek ngabarin ini," sahut Rania.
__ADS_1
Padahal tadinya Yoga tidak akan memberitahu Rania karena sudah pasti perempuan itu akan khawatir, tapi apalah daya ada yang melaporkan. Tetapi Yoga senang melihat Rania se khawatir itu padanya, Yoga merasa di cintai.