Ternyata Aku Istri Keduanya

Ternyata Aku Istri Keduanya
Menemukan Cinta Sejati 26


__ADS_3

"Kamu juga mau main ayunan?" tawar Daffin.


Cynthia yang tadi sedang melamun menikmati pemandangan langsung menatap Daffin dengan senyuman tertahannya. Memang Daffin itu selalu saja ada ide untuknya.


"Takut jatuh ah, lagian kaki gue kan lumpuh," sahut Cynthia.


"Biar aku yang dorong, kamu diem aja," kata Daffin berbaik hati.


"Boleh deh, udah lama juga gak main ayunan, pengen jadi anak kecil lagi hehe," ujar Cynthia tidak menolak.


Saat pria itu mendekat untuk menggendongnya, jujur saja sebenarnya Cynthia selalu gugup. Ia selalu bisa mencium wangi maskulin di leher Daffin, membuat detak jantungnya menjadi cepat.


Dengan hati-hati Daffin pun mendudukan dirinya di atas ayunan, terus bertanya apa dirinya sudah nyaman duduk atau belum. Setelah nya Daffin berdiri di belakangnya.


"Devina kemana ya? Kok dari tadi gak ada?" tanya Cynthia sambil memperhatikan sekitar yang ramai.


"Kayanya dia lagi main di sebelah sana, banyak yang seumurannya," jawab Daffin sambil menunjuk ke arah utara.


"Berarti Devina tipe yang gampang akrab kayanya ya sama orang lain, pengen juga kaya gitu, tapi gue orangnya gak percaya diri," kata Cynthia jujur.


"Kenapa gak percaya diri? Kamu kan cantik," celetuk Daffin tanpa sadar.


Mendapat pujian seperti itu, membuat Cynthia tidak bisa menahan senyumannya. Kepalanya lalu menengadah untuk melihat Daffin yang berdiri di belakangnya.


"Gue cantik?" tanyanya mengulang.


"Iya lah cantik, kan cewek," jawab Daffin polos.


"Ck iyalah cewek, tapi maksudnya cantiknya gimana?"


Daffin menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, "Ya cantik, tipe wajahnya beda dari yang lain," jawabnya.


Cynthia hanya menghela nafas berat mendengar Daffin yang terlampau polos dan tidak peka itu. Tetapi tidak apa, Cynthia tetap senang mendapat pujian seperti itu.


Perlahan ayunan yang diduduki Cynthia pun mulai berayun dengan pelan, Daffin tidak mau kencang mendorong karena khawatir perempuan ini jatuh, matanya juga dari tadi terus mengawasi.

__ADS_1


"Oh iya hampir lupa, aku boleh tanya sesuatu gak?" tanya Daffin.


"Tanya apa?"


"Laki-laki yang di rumah kamu tadi, itu calon suami kamu ya?" Daffin memilih bertanya, dari pada dihinggapi rasa penasaran terus.


Tetapi Daffin terkejut melihat Cynthia yang malah tertawa dengan keras, memangnya ada yang lucu?


"Siapa yang bilang dia calon suami gue? Emangnya kalian tadi sempat kenalan?" tanya Cynthia setelah tawanya berhenti.


"Iya tadi pas nungguin kamu di ruang tamu sempat ngobrol sedikit. Dia minta aku untuk jagain kamu, tapi sebelumnya dia sempat tanya apa aku pacar kamu atau bukan," cerita Daffin.


"Oh ya, terus lo jawab apa?" tanya Cynthia dengan perasaan campur aduk.


"Ya aku jawab bukanlah, terus dia bilang syukur karena katanya dia calon suami kamu," jawab Daffin.


Bahu Cynthia terlihat melemas, bukan jawaban seperti itu yang Ia harapkan. Ingin sekali Daffin sedikit menolongnya, dengan berbohong dan berpura-pura menjadi pacarnya.


"Dia bukan calon suami gue, gue gak mau sama dia," ujar Cynthia blak-blakkan.


Kepala Cynthia terlihat mengangguk pelan, "Nyokap gue pengen banget gue nikah sama dia, dia terus maksa gue tapi gue bilang belum mau nikah."


Daffin terdiam beberapa saat mendengar cerita itu, pasti Cynthia merasa terbebani sekali harus dimintai hal seperti itu. Daffin bisa mengerti perasaannya.


"Mungkin karena Pak Anthony punya pekerjaan bagus, dia juga orang kaya. Tapi gue gak sreg, selain perbedaan umur yang jauh banget, juga gosip tentang dia yang buruk." Cynthia kembali bercerita.


"Kalau boleh tahu, gosip apa?" tanya Daffin kepo.


"Katanya dia suka main judi, jadi kekayaannya itu bukan dari kerjaan dia doang di kantor, tapi dari main judi. Selain itu katanya suka main cewek, gue paling gak suka itu," jawab Cynthia.


"Ya sudah kamu tolak saja, bicara baik-baik sama dia dan Mama kamu. Mama kamu juga pasti tahu kan gimana Pak Anthony itu?" Daffin berusaha memberikan masukan.


Cynthia lalu membatin, Mamanya memang tahu bagaimana gosip tentang Pak Anthony itu. Tetapi sayangnya Mamanya terlihat tidak peduli dan tutup mata.


Mamanya hanya ingin Ia menikah dengan orang kaya, agar hidup mereka pun bisa naik derajat dan terjamin. Mamanya terlalu mata duitan, sampai Cynthia dikorbankan.

__ADS_1


"Kak Cynthia nih aku beliin es krim untuk Kakak." Tiba-tiba Devina datang, sambil menyodorkan es krim di cone padanya.


Cynthia tersenyum lalu menerimanya, "Makasih Devina, berapa harganya?"


"Gak papa Kak, lagian itu uang Kak Daffin hehe," tolak Devina lalu tertawa kecil.


Devina juga ikut bermain ayunan di sebelah Cynthia, sambil memakan es krim. Kedua perempuan itu dengan cepat menjadi akrab, padahal awal bertemu malu-malu.


"Kayanya sebentar lagi mau hujan, langitnya udah gelap terus ada guntur," ucap Devina melihat langit.


"Ya sudah ayo kita pulang aja, takut keburu hujan," ajak Daffin.


Daffin pun menghentikan ayunan yang diduduki Cynthia agar tidak bergerak lagi, setelahnya Ia berputar ke depan untuk menggendong memindahkan ke kursi roda.


Tetapi setelah Cynthia duduk dengan nyaman di kursi rodanya, Daffin malah terdiam dengan posisi berjongkok. Cynthia memiringkan kepalanya sedikit merasa bingung dengan pria itu.


Baru saja akan bertanya, Cynthia terkejut saat Daffin tiba-tiba mengusap sudut bibirnya dengan jari tangannya langsung. Daffin lalu menunjukan jempolnya yang ada es krim itu.


"Kamu kaya anak kecil aja makan es krim nya belepotan gitu," ucap Daffin.


"Cie-cie apaan tuh tadi?" tanya Devina yang memperhatikan di belakang kursi roda Cynthia, Ia lalu bersiul menggoda.


Cynthia lalu berdehem pelan menghilangkan perasaan gugupnya. Sudah bisa dipastikan jika sekarang wajahnya pasti merah karena malu dan salah tingkah.


Terkejut saja dengan sikap berani Daffin, tapi pria itu memang terlampau perhatian sampai sikap baiknya itu bisa membuat nya berdebar. Cynthia yakin Daffin pun melakukan tadi karena repleks, lelaki itu kan sangat polos.


"Ternyata bener firasat kamu mau hujan, untung aja sekarang kita lagi di jalan pulang," ucap Daffin yang sedang menyetir.


"Iya untung aja cepet-cepet pulang, tapi udah puas juga sih main di sana. Nanti kapan-kapan kita main kesini lagi ya Kak," ajak Devina bersemangat.


"Jangan di sini terus dong, kan masih banyak tempat wisata lain. Pokoknya selama liburan ini, kamu harus puas-puasin main di Jakarta," sahut Cynthia.


Devina mengangguk setuju, "Hehe iya bener juga kata Kak Cynthia, tapi nanti pokoknya Kakak juga harus ikut ya."


"Kalau itu sih tergantung Daffin aja," ucap Cynthia sambil melirik sekilas pria itu seolah mengkode.

__ADS_1


Cynthia tentu saja senang jika sampai diajak jalan-jalan dengan dua bersaudara itu, tapi Ia juga rasanya tidak mau menjadi beban dan pengganggu.


__ADS_2