Ternyata Aku Istri Keduanya

Ternyata Aku Istri Keduanya
Menemukan Cinta Sejati 3


__ADS_3

Daffin berjalan mondar-mandir di depan ruang IGD, menunggu korban yang di tarbraknya dengan perasaan cemas. Semoga saja perempuan tadi tidak kenapa-napa, karena Daffin tidak akan bisa tenang.


Baru mengingat sesuatu, Daffin pun akan menghubungi orang tuanya dulu. Tetapi Ia memilih menghubungi Candra, karena pada Mamanya merasa takut akan dimarahi, Rania juga pasti akan kecewa.


["Ya Daffin, ada apa?"] tanya Candra dari sebrang sana.


"Pah maaf apa aku ganggu?"


["Tidak kok, Papa juga lagi di jalan mau ke kantor. Ada apa telepon? Kamu sudah sampai di Kampus kan?"]


"Em belum," cicitnya.


["Loh kenapa? Bukannya seharusnya sampai dari tadi?"]


"Ada kejadian, maafin aku Pah."


["Ada apa Daffin? Kamu tidak kenapa-napa kan?"] Suara Candra terdengar khawatir di sebrang sana.


Dengan berat hati Daffin pun mulai menceritakan kejadian tadi, dengan detail dan tidak Ia kurangi. Sebenarnya Daffin malu pada Papanya itu karena Ia baru datang tapi sudah membuat masalah.


"Tapi sumpah Pah aku bener-bener gak sengaja, dia tiba-tiba nyebrang gitu aja dan aku sampai gak sempat untuk-"


["Tenang lah Daffin, Papa percaya kok sama kamu. Sekarang kamu di rumah sakit mana? Papa ke sana susul kamu ya?"]


Ada perasaan lega ternyata Papanya tidak memarahinya, malahan terlihat peduli kepadanya. Daffin pun segera memberitahu alamat rumah sakit ini, setelah selesai ber teleponan entah kenapa hatinya merasa lebih tenang.


Beberapa menit kemudian akhirnya Papanya itu sampai juga. Daffin yang duduk langsung beranjak dan memeluk Candra. Terlihat sekali jika pemuda itu sedang cemas, dan dengan kehadiran Candra dapat membuatnya membaik.


"Kamu gak papa kan? Apa kamu terluka?" tanya Candra sambil memperhatikan tubuh putranya itu.


"Aku gak papa Pah, tapi aku khawatir banget sama perempuan yang aku tabrak. Kepalanya sampai berdarah, ya walaupun cuman sedikit. Dia gak akan kenapa-napa kan Pah?"


"Semoga saja, tenang lah Papa akan bantu semuanya. Sudah jangan terlalu cemas begini."


Karena melihat tatapan takut putranya itu membuat Candra pun jadi tidak tega dan ikut cemas. Candra lalu menarik tangan Daffin untuk duduk di bangku panjang yang ada di sana.

__ADS_1


Candra lalu menelepon sekertaris nya dahulu mengatakan jika dirinya ada kepentingan di luar dan belum bisa ke kantor, jadi Candra meminta sekertaris nya itu untuk menghandle dahulu semua pekerjaannya.


"Permisi anda siapanya pasien di dalam?" tanya seorang dokter yang akhirnya keluar juga.


Kedua lelaki itu pun langsung beranjak mendekati dokter itu, mereka menjawab jika keduanya adalah orang yang akan bertanggung jawab pada pasien.


"Keadaan pasien sekarang sudah stabil dan melewati masa kritisnya, lukanya di kepala tidak terlalu parah. Tetapi sepertinya pasien akan lumpuh karena kakinya mendapat benturan keras," jelas si dokter.


"A-apa sampai lumpuh?" tanya Daffin terkejut.


"Nanti kami akan periksa lebih lanjut setelah pasien sadar. Tetapi untuk sekarang sebaiknya kalian hubungi keluarganya dahulu, apa mengenal?"


"Nanti saya akan cari tahu, terima kasih dokter sudah membantu. Saya mohon berikan perawatan terbaik untuk pasien," kata Candra.


"Kami akan terus berusaha Pak, kalau begitu saya permisi dahulu." Dokter dan beberapa suster tadi pun melenggang pergi dari sana.


Candra terkejut saat Daffin duduk dengan kasar di kursi, terlihat raut wajah putranya pun semakin murung. Candra lalu ikut duduk di sebelahnya sambil merangkul bahunya.


"Maafin aku Pah, aku datang kesini malah buat masalah," gumam Daffin lirih.


Daffin lalu menumpukan wajahnya di tangan, "Kalau sampai Mama tahu, dia pasti bakalan marah dan kecewa. Gimana kalau dia sampai gak mau ketemu aku lagi?" tanyanya.


"Enggak akan, nanti Papa akan ikut jelaskan pada Mama kamu ya. Tenanglah Daffin."


Tidak bisa, Daffin tidak bisa tenang karena kejadian ini adalah masalah dan ujian terbesar yang pernah Daffin dapatkan. Tidak pernah terbayang akan sampai mencelakakan orang lain hanya karena kecerobohannya.


"Permisi Pak ini ponsel pasien dari tadi terus bergetar, sepertinya ini dari orang tuanya pasien," ucap seorang suster menghampiri.


Candra pun menerimanya sambil mengucapkan terima kasih. Terlihat nama Mama di layar, kebetulan sekali karena Candra pun sekalian akan memberitahu keluarga pasien.


["Kenapa baru diangkat sih? Dari tadi di telepon juga. Kenapa lama banget baliknya, ini udah ditungguin dari tadi barangnya!"]


Candra sedikit terkejut karena saat Ia angkat langsung terdengar suara marah-marah di sebrang sana. Benarkah ini dari Mamanya pasien itu?


"Em maaf ini bukan dengan Cynthia." ucap Candra.

__ADS_1


["Loh kenapa suara laki-laki?"]


"Apa anda orang tua dari Cynthia?"


["Iya saya Mamanya dan ini ponsel anak saya kan? Kamu siapa? Apa kamu pacar anak saya?"]


"Bukan-bukan, tapi ceritanya panjang. Saya mau memberitahu jika anak Ibu mengalami kecelakaan dan sudah dilarikan ke rumah sakit, apa Ibu bisa kesini agar nanti saya bisa jelaskan juga kronologinya?"


["Apa Cynthia kecelakaan? Astaga dasar anak itu."]


Kernyitan terlihat di kening Candra, kenapa reaksinya seperti itu? Tidak seperti seorang yang sedang khawatir, malah merasa kesal. Apa hanya perasaan Candra saja ya?


["Dimana rumah sakitnya? Ya sudah saya kesana sekarang."]


Candra pun segera memberitahu alamat rumah sakit ini, setelahnya Ia mematikan panggilan itu. Candra kembali duduk dan merangkul bahu anaknya.


"Bagaimana Pah? Apa Mamanya marah-marah?" tanya Daffin.


"Papa belum ceritakan semuanya, termasuk kamu yang tidak sengaja menabrak dia. Nanti Mamanya Cynthia akan kesini, kamu tunggu saja ya."


Daffin mengangguk pelan, Ia harus siap menghadapi orang tua dari orang yang di tabrak nya. Memang agak takut dimarahi, tapi kan sudah jadi konsekuensi nya karena Daffin juga salah.


"Kita lihat pasien ke dalam dulu yuk," ajak Candra.


"Iya ayo."


Pasien sudah dipindahkan ke ruang rawat lain, dan Candra pun sampai memesan kamar khusus VVIP sebagai tanda tanggung jawabnya.


Setelah masuk pandangan mereka langsung tertuju pada perempuan yang terbaring lemah di ranjang itu. Kepalanya sampai di perban, juga dibantu alat bernafas.


"Dia akan bangun kan Pah?" tanya Daffin lirih tanpa menatap.


"Dia akan bangun kok, pasti. Kamu juga bantu doa ya, semoga dia cepat sadar dan kondisinya baik-baik saja," jawab Candra.


"Pasti aku akan selalu berdoa," angguk Daffin cepat.

__ADS_1


Jika di perhatikan lebih lekat, sepertinya benar usia perempuan itu sama dengan Daffin. Tadi saat di jalan tidak melihat langsung karena terlalu ramai, dan sekarang Daffin baru bisa melihat jelas.


__ADS_2