Ternyata Aku Istri Keduanya

Ternyata Aku Istri Keduanya
Pertengkaran


__ADS_3

Leon berdiri dari duduknya, pria itu pun dengan santainya merangkul bahu Rania. Melihat ekspresi Candra yang semakin marah, membuat Leon menyeringai dan ingin semakin memanaskan suasana.


"Leon kamu ngapain? Lepasin," bisik Rania. Tetapi pria itu malah menahan dan menarik tubuhnya semakin menempel.


"Rania, sudahlah lebih baik kita jangan sembunyikan lagi," ucap Leon.


Kernyitan terlihat di kening Rania, "Maksud kamu?"


"Kak Candra juga sudah melihatnya, jadi sebaiknya kita jujur saja pada dia sekarang," jawab Leon.


"Leon kamu ngomong apa sih?" tanya Rania bingung.


Leon malah mengedipkan sebelah matanya pada Rania, lalu pria itu kembali menatap ke depan pada Candra, "Kak Candra, Kakak sepertinya harus tahu ini sekarang. Aku juga sudah muak menyembunyikan terus dan pura-pura di belakang."


"Apa?" tanya Candra menunggu jawaban, perasaannya tiba-tiba tidak enak.


"Aku dan Rania sebenarnya pacaran, kami berhubungan diam-diam di belakang Kakak." Leon terlihat puas setelah mengungkapkan itu.


Bukan hanya Candra yang terkejut, tapi Rania yang lebih terkejut. Perempuan itu pun repleks melepaskan rangkulan tangan Leon dan berdiri agak menjauh. Matanya menatap tidak percaya Leon, tapi ekspresi Leon terlihat santai dan tenang.


"Apa kamu bilang?" tanya Candra berdesis. Ia tidak salah dengarkan?


"Tidak, aku dan Rania sama-sama mencintai," jawab Leon tanpa beban.


Rania menggeleng cepat, "Leon kamu ngomong apa sih? Jangan bicara yang aneh-aneh," ucapnya keras.


"Sudahlah Rania, kita jujur saja pada Kak Candra. Bukannya kamu yang bilang waktu itu merasa tertekan kan dengan pernikahan ini? Jadi kamu mencari kebahagiaan lain dengan aku," sahut Leon.


"Aku gak pernah bilang gitu, kamu jangan fitnah ya!" Nafas Rania sampai naik turun mendengar karangan Leon.


Saat Rania menoleh pada Candra, ekspresi wajah pria itu semakin garang dengan tatapannya yang tajam. Rania menggigit bibir bawahnya, apa mungkin Candra percaya? Dengan memberanikan diri Rania pun mendekati suaminya itu.


"Mas apa yang Leon bilang itu gak benar, aku sama dia gak ada hubungan apapun kok," ucap Rania berusaha meyakinkan.

__ADS_1


Candra lalu melirik nya, "Kamu sedang bela diri kamu ya? Takut rahasia kamu sama Leon itu terbongkar?"


"Bukan, tapi yang Leon bilang memang gak benar kok."


"Sebenarnya kalau Kak Candra lagi kerja, kadang aku selalu kesini untuk habisin waktu bareng Rania. Sekarang Kakak tahukan kenapa akhir-akhir ini aku sering kesini? Tentu saja untuk bertemu pacar aku ini." Leon terlihat terus memanasi, hanya khawatir Candra luluh dengan penjelasan Rania.


"Oh jadi begitu ya, benar Rania?" tanya Candra tajam.


"Enggak Mas." Lagi-lagi Rania masih kekeh mempertahankan pembelaannya.


"Sejauh apa hubungan kalian itu?" tanya Candra pada Leon. Percayalah pria itu dari tadi sedang berusaha menahan marahnya.


"Kakak lihat saja tadi, kami hampir berciuman. Menurut Kakak, kalau di rumah ini sedang tidak ada siapa-siapa, apa saja yang kami lakukan?" tanya Leon sambil menyeringai.


"Brengsek," desis Candra.


Merasa sudah tidak bisa menahan marahnya lagi, Candra pun berhambur pada Leon dan memukul wajahnya sampai pria itu tersungkur jatuh ke lantai. Belum merasa puas, Candra pun duduk di atas dadanya dan kembali memukuli wajah adik iparnya itu.


"Berani-beraninya kamu menyentuh Rania, dia itu istri saya, Leon!" bentak Candra emosi.


Perempuan itu menahan Candra, tapi pria itu tidak peduli dan tetap memukuli Leon. Tetapi Rania tidak menyerah dan kali ini menahan tangan kanan Candra, tapi perempuan itu terkejut karena Candra menarik kasar tangannya itu hingga membuatnya terjatuh ke belakang.


"Aww," ringis Rania.


Ternyata dengan itu Candra pun berhasil menghentikan kegilaannya, saat menolah terkejut melihat Rania yang terduduk di lantai sambil meringis menahan sakit memegangi perutnya. Candra yang panik pun langsung berdiri mendekati istrinya itu.


"Rania maaf aku tidak sengaja, kamu gak papa kan?" tanya Candra.


"Perut aku sakit Mas," ringis Rania.


Betapa terkejutnya Candra saat melihat ke arah bawah, ada tetesan darah berwarna pekat mengalir di kaki perempuan itu. Detak jantung Candra seperti berhenti beberapa saat sanking syoknya.


"Candra, kenapa kamu malah diam saja? Cepat bawa Rania ke rumah sakit!" teriak Livia menyadarkan. Entah sejak kapan perempuan itu ada di sana.

__ADS_1


Candra sempat melirik Livia, merasa bingung dengan istri pertamanya itu yang tiba-tiba hadir di sana. Kembali Candra melirik Rania, dengan cepat Ia pun menggendong perempuan itu dan berjalan cepat keluar. Candra tidak mau lagi melihat ke arah kaki Rania, membuatnya ngilu sendiri.


"Pak Asep!" teriak Candra.


Seorang pria paruh baya langsung bergegas menghampirinya, "Ada apa Tuan?" tanyanya.


"Cepat bawa mobil, antar saya ke rumah sakit," perintah Candra.


"Baik Tuan."


Dengan hati-hati Candra mendudukan dahulu Rania di kursi belakang, setelahnya Ia ikut masuk dan duduk di sebelahnya. Melihat perempuan itu yang terus mengeluh sakit di perutnya, membuat perasaan Candra semakin kalut. Sepanjang perjalanan pun pria itu terus memeluk Rania berusaha menenangkan.


"Sabar ya Rania, sebentar lagi kita sampai, tahan," ucap Candra berusaha menenangkan.


Entah kenapa rasanya lama sekali di perjalan, padahal tidak terlalu macet dan jarak rumah sakit juga tidak jauh. Mungkin karena Candra sedang panik. Sesampainya di depan rumah sakit, Candra langsung turun lalu menggendong Rania. Ia memanggil-manggil perawat dengan keras.


"Tolong istri saya, cepat bawa dia ke UGD," teriak Candra memerintah.


Candra memperhatikan Rania yang dibawa beberapa suster itu, Ia pun mengikutinya sampai masuk ke UGD. Tetapi Candra tidak bisa ikut masuk, tidak diizinkan dan diperintah menunggu di luar. Selama menunggu Candra terus berjalan mondar-mandir sambil menggigiti kuku jarinya.


"Ya Tuhan, dia tidak akan kenapa-napa, kan?" tanya Candra seorang diri.


Saat melihat telapak tangannya, tubuhnya langsung bergetar melihat darah di sana. Apakah itu darah dari bayinya? Tidak-tidak, bayinya tidak kenapa-napa. Tetapi Candra tetap khawatir, semoga saja kandungan Rania baik-baik saja.


Candra kembali merutuki dirinya sendiri yang terlalu emosi sampai tidak bisa menahan diri lalu mencelakakan Rania dan bayinya. Dengan lemas pria itu pun terduduk di kursi panjang, menumpangkan kepalanya di tangan yang tertekuk sambil menyesali perbuatannya.


Ceklek!


"Permisi, anda siapanya pasien di dalam?"


Tidak tahu berapa lama Candra menunggu, tapi akhirnya dokter yang menangani Rania di dalam keluar juga. Candra pun langsung berdiri menghampirinya.


"Saya suami pasien di dalam, jadi bagaimana keadaan dia? Bayi saya tidak kenapa-napa, kan?" tanya Candra tidak sabaran.

__ADS_1


"Tenang dulu ya Pak," ucap si dokter.


"Saya tidak bisa tenang dokter, cepat katakan bagaimana keadaan mereka?" Tidak bisa berbohong yang paling Candra khawatirkan adalah bayinya.


__ADS_2