Ternyata Aku Istri Keduanya

Ternyata Aku Istri Keduanya
Menemukan Cinta Sejati 27


__ADS_3

Di perjalanan pulang setelah mengantar Cynthia kembali ke rumahnya, Daffin merasa adik perempuan nya yang duduk di sebelahnya terus melirik nya dengan senyum tertahan. Akhirnya Ia tanyakan saja.


"Kamu kenapa sih dari tadi lirik-lirik Kakak terus?" tanya Daffin sambil tetap fokus menyetir.


"Kak Cynthia itu orangnya baik ya, dia juga cantik," jawab Devina yang sudah tidak bisa memendam sendiri lagi.


Ya walaupun Cynthia kepadanya kadang bersikap ketus, tapi Daffin juga mengakui kalau Cynthia itu orangnya memang baik. Tadi saja dengan adiknya mengobrol dengan nyambung, dan cepat sekali akrabnya.


"Tapi sayang Kak Cynthia sudah punya calon suami, kalau gitu sebentar lagi juga bakal menikah," lanjut Devina terlihat sedih.


"Hm memangnya kenapa kalau Cynthia sudah punya calon?" tanya Daffin bingung.


"Kalau belum punya kan, bisa aja jadiannya sama Kakak. Kalian juga kelihatan sudah dekat, Kakak juga romantis banget terus perhatiin Kak Cynthia," celetuk Devina memuji.


Daffin hanya terkekeh kecil mendengar itu, "Tapi kan Cynthia itu memang sudah jadi kewajiban Kakak buat jagain dia, kan Kakak yang tabrak dia," sahutnya.


"Ya memang sih, tapi aku yakin kedekatan kalian pasti bakal numbuhin sesuatu di hati masing-masing."


"Kamu ngomong apa sih? Dasar anak kecil," ledek Daffin lalu tertawa.


"Ih aku serius Kak, emangnya Kakak gak ada perasaan tertarik gitu ke Kak Cynthia? Kak Cynthia kan cantik, malahan lebih cantik dari Kak Elisa," ucap Devina.


Kernyitan terlihat di kening Daffin, merasa bingung kenapa adiknya itu malah membawa-bawa nama Elisa. Apakah sedang membandingkan? Tetapi Devina dengan Elisa juga kan berteman baik.


"Rasa suka itu bukan cuman karena melihat dari fisik saja. Ya Kakak akui Cynthia memang cantik, tapi Kakak masih bisa ngontrol perasaan Kakak," jawab Daffin lemah lembut.


"Kakak kayanya terlalu cinta sama Kak Elisa, padahal sekarang saja Kak Elisa sudah dekat lagi sama laki-laki lain. Ayo dong Kak move on, aku kasihan sama Kakak," ucap Devina mendukung.


Move on ya? Entahlah, Daffin juga tidak mengerti dengan perasaannya sendiri. Memang ada rasa cemburu melihat Elisa dekat dengan Satria, tapi Ia pun masih bisa menikmati harinya dengan orang lain.


Daffin tidak terlalu suka galau berlebihan, Ia masih bisa melakukan kegiatan lain yang membuatnya juga bahagia. Daffin juga perlahan bisa mengerti dengan hatinya, entah masih sama atau sudah berubah.

__ADS_1


"Kalau kamu sendiri sudah punya pacar belum?" tanya Daffin mengalihkan obrolan.


"Enggak, Papa bilang aku gak boleh pacaran," Jawab Devina sambil melipat tangan di dada.


"Haha kenapa Papa Yoga gak bolehin kamu pacaran?"


"Papa bilang kalau aku mau punya pacar, harus temuin dulu sama Papa. Papa katanya gak mau cowok itu bukan anak baik-baik dan bandel, makanya Papa mau seleksi."


Daffin dibuat tertawa merasa terhibur mendengar itu, tapi Ia memang tahu kalau Yoga itu cukup protektif pada anak perempuannya. Yoga sih tidak cemburu, karena Ia pun sama mendukung seperti Yoga.


"Ya sudahlah bagus, mendingan jangan punya pacar dulu. Apalagi sebentar lagi mau masuk SMA, terus perguruan tinggi," kata Daffin.


"Kakak juga belum pernah pacaran kan sampai sekarang? Salah Kakak sih, terlalu fokus sama satu orang," balas Devina membuat Daffin merasa tertohok.


***


Besoknya Daffin ada kelas, jadi Ia harus meninggalkan Devina sendirian di rumah. Seperti biasa, Daffin akan menjemput dulu Elisa. Cynthia tidak ada kelas, jadi Daffin tidak perlu ke rumahnya.


"Hai Daffin," sapa Elisa saat masuk ke mobilnya.


"Emangnya kenapa? Kan setiap hari juga kita berangkat bareng," tanya Elisa.


"Mungkin aja kamu berangkatnya bareng Satria, gimana acara jalan-jalan kalian kemarin?"


Sebenarnya berat untuk menanyakan ini, tapi Daffin harus terlihat biasa karena Ia kan temannya Elisa. Tetapi karena tidak mendapat jawaban juga, membuat Daffin pun melirik sekilas perempuan itu.


"Elisa kok diam aja? Kamu gak papa kan?" tanya Daffin.


"Hah? Aku gak papa kok," bantah Elisa sambil berusaha tersenyum, walau terlihat dari tatapannya seperti kosong.


"Jadi gimana acara jalan-jalan kalian kemarin? Dia ajak kamu kemana?" tanya Daffin mengulang.

__ADS_1


"Satria ajak aku ke Dufan, kita naik banyak wahana di sana," jawab Elisa.


"Wah pasti seru, nanti aku ajak Devina kesana juga deh," kata Daffin.


Elisa hanya tersenyum kecut mendengar Daffin menganggap dirinya kemarin sangat menikmati acara jalan-jalan dengan Satria, padahal nyatanya tidak sebaik itu juga.


"Terus kemarin sepulang dari kontrakan aku, kamu sama Devina apa langsung pulang?" Kini giliran Elisa yang bertanya.


Rasanya kemarin Elisa tidak enak sekali karena kebersamaannya dengan Devina harus sebentar, tapi mungkin nanti juga mereka bisa jalan-jalan bareng. Kemarin kan Elisa ada urusan, jadi tidak bisa.


"Enggak kok, aku kepikiran buat ajak jalan-jalan Devina juga," jawab Daffin.


"Terus kamu ajak dia kemana? Sama Devina aja kan berdua?"


"Aku ajak dia ke taman bunga yang lagi viral itu loh, tapi bareng Cynthia." Daffin terlihat tidak ragu menjawab itu.


Senyuman di bibir Elisa langsung menghilang saat Daffin menyebutkan satu nama itu. Tetapi bukannya saat ke kontrakan hanya berdua ya? Jangan bilang Daffin sengaja jemput Cynthia dulu?


"Kenapa kamu ngajak dia?" tanya Elisa dengan perasaan tidak sukanya.


"Ya biar ramai aja, sekalian ngenalin mereka juga. Ternyata Cynthia sama Devina pun bisa langsung akrab," Jawab Daffin sambil tersenyum.


"Bukannya dia malah bakal ngerepotin kamu? Seharusnya kamu gak usah ajak dia," celetuk Elisa sambil tersenyum sinis.


Daffin repleks menatap Elisa terkejut, tidak menyangka saja Elisa mengatakan hal seperti itu pada orang berkekurangan seperti Cynthia. Ini bukan pertama kali, tapi Daffin masih terkejut.


"Ya gak papa dong, lagian aku juga yang mau ngajak Cynthia duluan. Dia juga kelihatan seneng pas kita ajak, Devina juga gak masalah." Daffin kali ini membela Cynthia secara serius.


"Berarti kalau misal dia gak ikut, kamu tadinya mau ajak aku ya?" tanya Elisa berharap.


"Memang tadinya kita mau ajak kamu, tapi ya kamu ternyata malah mau pergi bareng Satria. Kami kalah cepat, tapi gak papa," ucap Daffin berusaha menguatkan.

__ADS_1


Elisa lalu membatin, seandainya saja waktu bisa berputar mungkin Ia tidak akan jadi jalan dengan Satria. Awalnya mereka memang senang-senang di tempat wisata itu, tapi saat di akhir suasana tiba-tiba berubah.


"Ya sudah lain kali ayo kita jalan-jalan, kali ini aku gak akan ke mana-mana kok. Tapi kita bertiga aja ya, jangan ajak Cynthia," ucap Elisa sambil tersenyum.


__ADS_2