Ternyata Aku Istri Keduanya

Ternyata Aku Istri Keduanya
Menemukan Cinta Sejati 32


__ADS_3

Saat Daffin sedang berjalan di Koridor, tepukan seseorang di bahunya membuat langkahnya terhenti. Ternyata itu Satria, dan temannya itu mengajaknya ke suatu tempat.


"Kenapa ngajak kesini?" tanya Daffin bingung. Mereka duduk di sebuah bangku yang ada di belakang Kampus.


"Ada yang ingin aku bicarakan," jawab Satria dengan ekspresi seriusnya.


"Ada apa?"


Tetapi Satria malah terdiam dan tidak langsung cerita, membuat Daffin bingung. Temannya itu bukan sedang ingin menyatakan cinta kan? Gila saja, pikiran Daffin ini terlalu konyol. Habisnya suasananya mendukung.


"Kamu masih ingat Daffin waktu itu ke kontrakan Elisa bersama adikmu, dan aku ada di sana," tanya Satria.


Daffin mengangguk pelan, "Iya, kenapa memangnya?"


"Ya aku dan Elisa cukup menikmati waktu kami bermain di sana. Tapi saat sedang makan dan akan pulang, suasana tiba-tiba berubah," kata Satria dengan raut wajah tidak nyamannya.


"Kenapa memangnya?" tanya Daffin penasaran.


"Elisa tiba-tiba menyatakan perasaannya, dia bilang dia menyukai aku," jawab Satria tanpa ragu.


Kedua mata Daffin terbelak, tapi hanya sebentar karena dengan mudah menormalkan lagi ekspresi wajahnya. Sebenarnya tidak terlalu terkejut karena Elisa kan memang menyukai Satria.


Hanya saja yang membuat Daffin kaget itu ya karena Elisa yang lebih dulu menyatakan perasaannya. Biasanya kan selalu laki-laki yang lebih dulu, tapi bukan berarti perempuan juga tidak boleh sih.


"Lalu apa jawabanmu? Kau menerima dia kan?" tanya Daffin penasaran.


"Tidak, aku tidak menerima dia," geleng Satria.


Pria itu melanjutkan jika dirinya memang tidak ada perasaan apapun pada Elisa, hanya sebatas teman saja. Ia suka menghabiskan waktu dengannya waktu itu, tapi bukan berarti dapat dengan mudah mengubah isi hatinya.


"Malahan saat itu aku memikirkan kamu Daffin," celetuk Satria sambil tersenyum.


"Hah? Kenapa memikirkan aku?" tanya Daffin bingung sambil mengusap tengkuknya.


"Kau menyukai dia kan? Kau tidak sakit hati melihat Elisa terus mendekati aku?" tanya Satria.


"Em itu--"

__ADS_1


"Maaf ya Daffin, aku tidak ada pikiran atau rencana apapun untuk merebut dia," sela Satria langsung menjelaskan.


"Tidak usah minta maaf, perasaan seseorang kan tidak bisa dipaksakan," ucap Daffin karena tidak mau dianggap menyedihkan.


"Tapi aku sudah mengatakannya pada Elisa, aku bilang pada dia ada orang yang tulus mencintai dia dari pada aku. Dia langsung terkejut setelah aku menyebut namanya," kata Satria sambil tersenyum lebar.


Daffin menelan ludahnya susah payah mendengar itu, tiba-tiba merasa gugup. Jangan bilang yang Satria sebutkan itu dirinya lagi, ya sudah pasti lah.


Pikirannya lalu kembali pada beberapa hari lalu, dimana sikap Elisa pun terasa berbeda kepadanya. Apa mungkin itu terjadi karena setelah Elisa di tolak Satria? Dan tahu dirinya punya perasaan.


Puk!


"Aku minta maaf kalau lancang dan sok tahu, tapi aku tahu kau tidak akan berani mengatakan ini sampai kapanpun pada Elisa," ucap Satria setelah menepuk bahunya.


Memang sih Daffin tidak berani menyatakan cintanya, tapi dirinya jadi merasa menyedihkan karena tidak berterus terang dan Elisa malah tahu dari orang lain.


"Kau masih menyukai dia kan?" tanya Satria.


"Entahlah," desah Daffin.


"Hm kenapa? Jangan bilang perasaanmu pada dia mulai berubah?" Satria berusaha membaca raut wajah temannya itu.


Entah kenapa akhir-akhir ini yang selalu ada dalam pikiran Daffin itu Cynthia. Kebersamaan mereka beberapa waktu ini benar-benar sudah membuat hari-harinya pun berubah.


"Daffin, kau baik-baik saja?" tanya Satria lagi-lagi menegur temannya itu yang melamun.


"Sekarang aku harus bagaimana?" Daffin berusaha meminta pendapat, mungkin saja Satria yang berpengalaman itu bisa tahu.


Satria ikut terdiam sedang memikirkan rencana yang Ia berikan pada Daffin. Sebagai teman tentu saja harus saling membantu, apalagi Satria merasa sudah ikut campur.


"Kalau kau memang masih menyukai Elisa, ya katakan langsung saja pada dia agar dia semakin yakin kalau kau memang menyukai dia," ujar Satria.


"Kalau sebaliknya?" tanya Daffin.


"Tunggu, jadi kau memang tidak ada perasaan apa-apa lagi pada Elisa?!" pekik Satria.


"Bukan begitu, sekarang aku ini sedang bimbang. Aku butuh waktu untuk memastikan sendiri bagaimana perasaan aku ini," ucap Daffin lalu menghela nafas berat.

__ADS_1


Satria mengangguk mengerti membiarkan pria itu menenangkan diri dulu. Jarang sekali ada teman lelaki yang curhat begini, tapi keduanya memang tidak gengsian.


Sayangnya mereka tidak ber lama-lama di sana karena kelas kedua akan segera dimulai. Keduanya pun beranjak untuk ke kelas, berjalan tanpa mengobrol apapun.


Saat masuk kelas, Elisa terlihat terdiam melihat dua orang itu bersama. Perempuan itu jadi terlihat canggung. Seperti biasa, Elisa pun selalu menempel pada Daffin dan tidak menyapa Satria sedikit pun.


"Daffin aku kira tadi kamu ke kantin, kok gak ngajak sih?" tanya Elisa yang kini suka duduk di sebelahnya, padahal dulu selalu di dekat Satria.


"Enggak kok, aku belum lapar," jawab Daffin.


"Terus tadi dari mana? Kenapa sama dia?" tanya Elisa tanpa repot menyebut nama Satria.


"Ngobrol sebentar." Hanya itu saja yang Daffin katakan, tidak mau menjelaskan lebih.


Entah kenapa Daffin merasa Elisa itu mendekatinya hanya karena sedang patah hati karena di tolak oleh Satria. Apakah Daffin terlihat menyedihkan karena hanya dijadikan pelampiasan?


"Nanti setelah kelas ini kita makan dulu yuk," ajak Elisa.


"Iya," angguk Daffin setuju saja.


Sayangnya harapan Elisa untuk bisa makan berdua dengan Daffin hilang karena lagi-lagi pria itu selalu mengajak Cynthia. Elisa menggerutu di dalam hati, merasa kesal tapi tidak bisa membantah juga.


"Aku ke kelas Cynthia dulu, kamu kalau mau duluan ke kantin boleh," ucap Daffin.


"Enggak deh, aku tungguin di sini aja. Jangan lama!"


"Iya, tunggu ya." Daffin pun pergi.


Selepas kepergian pria itu, Elisa bersandar di dinding sambil memperhatikan sekitar. Kepalanya lalu menoleh melihat seseorang keluar dari kelas, ternyata itu Satria.


Elisa pun langsung membuang muka, Pura-pura tidak melihat karena malas untuk bertegur sapa dengan Satria. Sayangnya sepertinya pria itu ingin membicarakan sesuatu dengannya.


"Elisa, mau ke kantin bareng?" tawar Satria.


"Enggak, aku nungguin Daffin," tolak nya dengan suara agak ketus.


"Dia lagi jemput Cynthia ya? Memang baik banget Daffin itu," kata Satria entah apa maksudnya.

__ADS_1


"Dia pasti terpaksa karena janjinya itu untuk tanggung jawab, memang repot banget sih jadi Daffin," gumam Elisa.


Hanya tidak mau Satria itu berpikir jika Daffin perhatian begitu pada Cynthia karena ada perasaan lebih, Daffin sendiri kan yang bilang dirinya hanya bertanggung jawab.


__ADS_2