
"Aww!"
Kedua mata Candra langsung terbelak saat mendengar ringisan seperti kesakitan itu. Saat menoleh ke samping, terlihat Rania yang berdiri di sisi ranjang sambil berpegangan ke meja. Candra pun bangun sambil mengusap wajah bantalnya khas bangun tidur.
"Kamu kenapa?" tanyanya.
"Aku mau ke toilet Mas, tapi pas jalan bawah perut aku agak linu," jawab Rania dengan ringisan di wajahnya.
"Sebentar biar aku bantu."
Candra pun menghampiri istrinya itu, dengan mudahnya menggendong Rania ala bridal lalu mengantarnya masuk ke kamar mandi yang masih ada di ruangan itu. Mungkin perut Rania agak linu karena kejadian kemarin, nanti akan Candra tanyakan lagi pada dokter.
"Em Mas, bisa keluar dulu?" tanya Rania.
"Kenapa? Aku temenin kamu aja, takut kenapa-napa," jawab Candra. Pasti perempuan itu malu.
"Gak papa Mas, aku baik-baik aja kok. Nanti kalau sudah selesai, bakal manggil Mas lagi," ucap Rania.
"Ya sudah, tapi hati-hati ya."
"Iya."
Setelah pintu kamar mandi tertutup, Candra duduk di sebuah sofa yang ada di sana. Melihat jam yang masih menunjukan pukul setengah enam pagi. Candra terlebih dahulu menghubungi sekertaris nya, memberitahu jika hari ini Ia akan datang lebih siang karena ada urusan.
"Tidak ada pertemuan penting, kan?" tanya Candra memastikan.
["Tidak ada Pak."]
"Ya sudah berarti selama saya belum datang, kamu dulu yang handle pekerjaannya. Bisa kan?"
["Saya akan usahakan Pak."]
"Saya percaya sama kamu."
Bertepatan setelah Candra mematikan panggilan, pintu kamar mandi terbuka dan keluar lah Rania. Candra pun beranjak dan dengan peka langsung menggendongnya lagi ke arah ranjang.
"Apa yang kamu rasain sekarang? Apa ada yang sakit?" tanya Candra.
"Enggak ada sih Mas, cuman bawah perut aku agak linu," jawab Rania sambil mengusap perutnya.
"Nanti aku panggilin dokternya, mau ke toilet dulu."
__ADS_1
"Iya Mas."
Setelah mereka melakukan sembahyang secara berjamaah, bersantai sebentar sambil menonton TV. Melihat waktu yang sudah menunjukan pukul enam lebih, Candra akan keluar untuk membeli sarapan sekalian memanggil kan dokter spesialis yang menangani Rania kemarin.
"Tidak apa-apa Bu Rania, itu karena efek kemarin yang terjatuh. Nanti kalau minum obatnya rutin, sakitnya juga pasti akan menghilang," ucap si dokter setelah selesai memeriksa.
Rania dan Candra mengangguk bersamaan, "Lalu bayi saya sehat, kan?"
"Iya sehat, kalian harus menjaganya dengan baik dan jangan sampai kejadian ini terulang. Selalu hati-hati ya."
"Baik dokter. "
"Oh iya nanti sore Bu Rania sudah boleh pulang."
Mendengar itu membuat Rania senang, Ia memang tidak terlalu nyaman juga bermalam di rumah sakit. Walaupun kamarnya khusus hanya dirinya seorang yang menempati, tapi tetap saja Rania tidak betah, apalagi bau obatnya yang menyengat membuatnya mual.
"Mas sarapan sama apa?" tanya Rania melirik Candra yang sarapan di kursi sebelah ranjangnya.
Candra lalu menunjukannya, "Nasi goreng, tadi di depan wangi banget jadi aku beli."
"Em boleh minta gak?" tanya Rania malu-malu.
"Tapi buburnya gak enak," keluh Rania jujur, bibirnya bahkan mengerucut ngambek.
Candra menghela nafasnya, tidak tega juga melihat Rania yang mengeluh begitu. Ia juga pernah merasakan bubur rumah sakit itu, dan memang rasanya sangat hambar lalu tidak ada toping. Candra lalu ikut duduk di ranjang, berhadapan dengan Rania.
"Ya sudah kita makan bareng-bareng," ucap Candra berbaik hati.
Rania yang tadinya ngambek pun langsung melengkungkan senyuman, "Hehe makasih ya Mas, aku bener-bener tertarik pengen nyobain nasi goreng kamu."
"Ngidam ya?" tanya Candra.
"Kayanya gitu."
"Ya sudah buat anak Papa, makan yang banyak," kata Candra. Tidak apa Ia makan sedikit, yang penting anaknya lebih dahulu.
Mereka berdua terlihat asik makan bersama, untungnya lagi porsi nasi goreng nya banyak jadi bisa berbagi. Terkadang bergiliran disuapin, terlihat romantis sekali. Di tengah keasikan itu, tiba-tiba pintu ruangan terbuka.
"Ekhem apa Oma ganggu?"
Mendengar suara familiar itu, membuat Rania dan Candra langsung menoleh. Terlihat di ambang pintu ada Oma Amara. Candra pun langsung turun dari ranjangnya menghampiri Oma nya itu. Menyalami tangannya lalu berpelukan sebentar.
__ADS_1
"Kok Oma gak bilang mau kesini jam segini?" tanya Candra terkejut sendiri. Ia pikir akan datang agak siangan, tapi jam delapan saja sudah kesini.
"Iya soalnya pas sampai ke Jakarta Oma langsung kesini," jawab Amara. Wanita paruh baya itu mendekati ranjang, melihat Rania di sana.
"Oma," panggil Rania sambil tersenyum tipis.
"Kamu baik-baik saja, kan?" tanya Amara langsung.
"Aku baik, bayinya juga gak kenapa-napa," jawab Rania sambil mengangguk.
"Syukurlah kalian baik-baik saja, Oma dari saat Candra kabari terus kepikiran takut kenapa-napa." Amara lalu mengusap perut Rania, "Cicit Oma ini memang kuat ya, baik-baik di sana sayang," ucapnya pelan.
Amara lalu menanyakan lagi keadaan Rania dan bayinya pada Candra, dan pria itu menjelaskan semua yang disampaikan dokter. Rania hanya diam saja memperhatikan dengan perasaan sedikit gugup.
"Memangnya bagaimana kejadiannya sampai Rania bisa jatuh begitu?" tanya Oma.
Mendengar itu membuat Candra langsung menelan ludahnya susah payah, apa Ia harus jujur menjelaskan semua? Apa Oma nya akan marah karena ternyata wanita itu terluka karena dirinya?
"Aku kepeleset Oma," jawab Rania cepat.
"Kepeleset dimana?"
"Di dekat tangga, aku ceroboh karena gak lihat-lihat jalan sampai jatuh. Maaf ya Oma." Rania lalu menunduk agar terlihat semakin meyakinkan.
Amara terlihat menghela nafas berat, "Ya ampun Rania, lain kali hati-hati ah. Oma jadi linu sendiri bayanginnya, apalagi katanya kamu sampai pendarahan begitu," tegur nya.
"Iya Oma, aku janji lain kali bakalan lebih hati-hati," sahut Rania sambil berusaha tersenyum.
Amara ikut tersenyum lalu mengusap kepala cucunya itu sebentar, setelahnya Ia minta izin untuk ke toilet karena merasa ingin buang air kecil. setelah kepergian wanita paruh baya itu, suasana di sana menjadi canggung.
"Kenapa kamu gak bilang sama Oma kalau yang buat kamu terluka itu aku?" tanya Candra meminta penjelasan. Padahal tadi Ia hampir membuka suara, tapi keduluan Rania.
"Mas kan gak sengaja buat aku terluka juga, terus kalau Oma tahu semuanya, dia pasti bakal banyak tanya kenapa alasan Mas mukulin Leon. Ceritanya akan panjang dan takutnya jadi buat Oma kepikiran," jelas Rania dewasa.
Candra terdiam beberapa saat, setelah memikirkannya berpikir perempuan itu ada benarnya juga. Tetapi Candra juga jadi tidak enak pada Rania, karena yang Oma nya tahu perempuan itu lah yang ceroboh sampai hampir mencelakai dirinya sendiri dan bayinya.
"Selain itu, alasan Mas marah kan nganggap aku selingkuh. Aku gak mau Oma tahu itu, nanti Oma jadi gak suka sama aku," lanjut Rania.
"Tapi kan kamu bilang sendiri itu gak benar," sahut Candra.
"Memang, tapi aku takut aja buat Oma jadi salah paham." Rania sudah nyaman dengan hubungannya yang baik dengan Amara.
__ADS_1