Ternyata Aku Istri Keduanya

Ternyata Aku Istri Keduanya
Rasa Penasaran


__ADS_3

Sesampainya di pusat perbelanjaan yang hanya satu-satunya di daerah itu, keduanya saat turun dari mobil langsung memperhatikan sekitar yang ramai. Maklum saja di sini kan tempat belanja modern begini hanya ada satu-satunya di sana.


"Kamu mau belanja apa aja emangnya?" tanya Yoga.


"Lumayan banyak sih, bahan makanan," jawab Rania.


"Ya sudah ayo kita masuk."


Tetapi Rania tidak pergi, "Memangnya kamu gak mau pulang?" tanyanya. Apa jangan-jangan pria itu akan menemaninya belanja?


"Nanti aja pulangnya sama kamu, " jawab Yoga.


"Tidak papa kok, saya bisa sendiri. Lagian kaki kamu itu kan masih sakit, saya gak tega kalau kamu jalan-jalan terus." Rania sempat menunjuk kaki kiri Yoga.


"Tenang aja, beneran kok sekarang udah gak terlalu sakit. Lagian semalam langsung di obatin di puskesmas dan dikasih perawatan terbaik," ucap Yoga berusaha meyakinkan.


"Beneran?"


"Iya."


Sebenarnya Rania ingin menolak, tapi melihat Yoga yang sudah baik mengantarnya membuatnya tidak enak juga. Kenapa pria itu sampai sebaik ini mau mengantar dan menemaninya belanja? Rania merasa ini terlalu berlebihan.


"Kamu biasanya kalau belanja kesini?" tanya Yoga.


"Enggak, ini pertama kalinya kesini lagi setelah dari Jakarta."


Yoga menoleh menatap Rania, "Oh iya hampir lupa, jadi kamu dulu tinggal di Jakarta dengan Pak Candra?"


"Iya, di sana tinggal beberapa bulan," jawab Rania pelan.


Mengingat tempat tinggalnya di Jakarta, cukup banyak juga kenangan di sana, entah itu yang senang ataupun tidak. Tetapi Rania merasa beruntung karena pernah tinggal di rumah besar Candra, walau di sana Ia hanya menumpang.


"Susu Ibu hamil dimana ya?" tanya Rania sambil memperhatikan sekitar.


"Aku pernah lihat, kalau gak salah di sebelah sana, yuk." Yoga pun menunjukan jalan, Ia juga bekerja mendorong trolli karena tidak tega jika Rania yang melakukannya.


Melihat perempuan itu yang sedang memilih-milih susu khusus itu, membuat Yoga malah diam memperhatikannya dengan lekat. Bibirnya terkadang mengukir senyuman tipis, pikirannya yang nakal ini malah membayangkan jika dirinya adalah pasangan perempuan itu.

__ADS_1


"Beli banyak aja langsung, buat stok," celetuk Yoga.


"Enggak perlu, satu aja cukup. Lagian kan sebentar lagi juga aku melahirkan," sahut Rania sambil menyimpan satu kotak susu di trolli.


"Emangnya sekarang sudah berapa bulan?"


"Delapan bulan."


Yoga menganggukan kepala, pantas saja perutnya sudah besar. Yoga sih tidak perlu bertanya lagi siapa Ayah kandung dari bayi di perut Rania, toh sudah pasti anak Candra. Hanya saja Yoga bingung, bukannya saat hamil mereka tidak boleh berpisah ya?


"Kamu gak mau beli sesuatu gitu? Mumpung di sini." Kini giliran Rania yang bertanya, dari tadi Yoga hanya mengikutinya ke sana-kemari.


"Enggak perlu, kayanya stok makanan aku masih banyak di rumah," jawab Yoga.


"Tadi kenapa kamu bisa lewat di jalan sana? Emangnya rumah kamu dimana?"


Yoga terlihat gelagapan ditanyai seperti itu, "Em itu habis dari rumah temen, arahnya memang ke rumah kamu gitu."


"Oh gitu."


Walaupun kakinya masih agak linu, tapi semua sakit itu tertutupi oleh perasaan senang karena bisa belanja bersama Rania. Sepertinya Yoga sudah tertarik pada pandangan pertama, Rania sangat cantik dan lemah lembut. Seperti tipenya sekali.


Tetapi kan perempuan itu sudah pernah menikah dan sekarang sedang hamil. Yoga juga memang belum tahu masalah apa yang terjadi di antara Rania dengan atasannya itu, hanya saja sepertinya hubungan mereka memang sudah berakhir.


"Totalnya semua jadi tiga ratus dua puluh ribu," kata si kasir.


Sebelum Rania memberikan kartunya, Yoga lebih cepat dan dalam detik itu pun selesai dibayar. Rania menatap pria itu terkejut, tapi Yoga hanya tersenyum lalu menyimpan tiga kresek besar itu di trolli.


"Yuk pulang," ajak Yoga.


Rania menghela nafasnya pelan dan tanpa mengatakan apapun mengikuti saja pria itu keluar dari super market itu. Nanti saja deh akan Ia tanyakan di mobil, tidak enak kalau di tonton orang lain.


"Kita pulang sekarang?" tanya Yoga yang selesai memakai seatbelt nya.


"Iya langsung pulang aja," jawab Rania.


Setelah mobil pergi dari kawasan itu, mereka terdiam fokus dengan pikirannya masing-masing. Tetapi Rania merasa tidak nyaman memendan terus, akhirnya Ia tanyakan saja alasan pria itu membayar belanjaanya tadi.

__ADS_1


"Anggap saja itu sebagai ucapan terima kasih karena kemarin kamu udah nolongin saya," kata Yoga sambil tetap fokus menyetir.


"Tapi kan saya gak minta berlebihan begini. Anda sudah mengantar saya kesini, lalu tadi ikut menemani saya belanja dan terakhir membayarkan. Menurut saya itu berlebihan," ucap Rania yang tidak enak sendiri.


"Gak papa, saya senang kok bisa bantu kamu balik. Gimana kalau mulai hari ini kita temenan?" Yoga menoleh sekilas sambil tersenyum lebar.


Berteman?


Walaupun Yoga sudah sangat baik kepadanya, tapi Rania masih sedikit khawatir jika lau pria itu berkhianat dan memberitahu Candra tentang keberadaannya di sini. Hanya saja Rania pun tidak berdaya menolak, khawatir menyinggung perasaan Yoga.


"Baiklah kita berteman," gumam Rania.


"Oke kalau begitu ayo tulis nomor ponsel kamu di sini." Yoga membawa ponselnya di saku celana, lalu memberikan pada Rania.


Kalau boleh jujur alasan Yoga tadi pulang dari rumah teman sebenarnya bohong. Ia sedang ingin bertemu Rania lagi, kemarin tidak sempat bertukar nomor ponsel dan semalam itu pun Yoga tidak bisa tidur. Yoga tahu perasaan di hatinya ini sangat tidak wajar, seperti seseorang yang sedang jatuh cinta.


Tetapi secepat ini?


"Memangnya Pak Candra gak suka telepon kamu?" tanya Yoga yang baru terpikirkan ini.


"Saya sudah ganti nomor ponsel, jadi dia gak akan tahu," jawab Rania, Ia sudah menyiapkan semua dibantu dengan Leon untuk berjaga-jaga.


"Oh gitu."


Tidak butuh waktu lama mereka pun sampai juga di rumah Rania, Lagi-lagi Yoga pun dengan sigap membawakan semua belanjaan ke dalam rumah. Ternyata di dalam sangat nyaman, rapih dan bersih. Rania memang terlihat tipe seperti itu sih.


"Ya sudah kalau gitu saya pulang dulu ya," ucap Yoga berpamitan. Sekarang Ia sudah lega mengantar perempuan itu pulang dengan aman.


"Sekali lagi makasih banyak ya sudah banyak bantu," ujar Rania sambil tersenyum.


"Sama-sama, kita kan teman jadi harus saling bantu. Kemarin kamu yang bantu aku, sekarang aku yang bantu kamu," balas Yoga.


"Aku?"


Yoga menggaruk belakang kepalanya, "Gak papa, kan? Lagian kita udah jadi teman, jadi gak usah terlalu formal."


Rania hanya mengangguk pelan karena bingung juga harus menanggapi bagaimana. Bukan apa-apa, tapi sikap Yoga yang terbuka itu terlihat seperti sedang berusaha mengakrabkan diri dengannya.

__ADS_1


__ADS_2