
Padahal tadinya Candra pulang ke rumah ingin bertemu dan bicara empat mata dengan Leon, meminta penjelasan dengan keributan tadi. Tetapi saat Livia yang menyuruhnya untuk menahan diri, membuat Candra akhirnya memutuskan menemuinya nanti saja.
"Sepertinya malam ini aku akan menjaga Rania di rumah sakit," kata Candra memberitahu.
Livia hanya melirik nya sekilas, "Bagaimana kabar dia?"
Candra sempat tidak menduga Livia menanyakan kabar Rania, "Syukurnya dia dan bayinya tidak kenapa-napa, aku sempat takut dia keguguran."
"Kalau sampai terjadi sepertinya kau akan terus dihinggapi perasaan bersalah seumur hidup. Bayi itu kan yang paling kamu tunggu-tunggu," celetuk Livia.
"Memang, tapi Tuhan masih memberikan aku kesempatan."
Merasa penasaran akan sesuatu, Candra pun mendekati Livia yang sedang memakai skincare nya di meja rias, "Kamu sejak kapan lihat keributan tadi? Aku sampai tidak sadar."
"Aku tidak menonton, aku baru datang saat kamu mendorong Rania sampai jatuh." Jujur saja Livia yang melihatnya saja syok, apalagi ada darah.
"Tapi aku juga tidak sengaja mendorong Rania," bela Candra.
Candra tahu saat itu Rania hanya ingin menghentikannya yang terus memukuli Leon. Candra sempat terbakar cemburu karena merasa perempuan itu tidak ingin Ia semakin menyakiti kekasih gelapnya, makanya emosi Candra semakin meledak-ledak.
"Kamu tahu gimana kejadiannya sampai aku dan Leon berkelahi?" tanya Candra penasaran. Mungkin saja kan Livia sudah dengar ceritanya dari Leon.
"Aku tidak tahu dan tidak ingin tahu," sahut Livia acuh.
"Memangnya Leon tidak cerita?"
Livia menggeleng, "Bagaimana mau cerita, dia kesakitan karena wajahnya babak belur."
Dari nada bicara nya Livia agak ketus, Candra mengerti mungkin istrinya ini kesal kepadanya karena Ia sudah memukuli adiknya itu. Tetapi kan Candra juga tidak mungkin bersikap kasar begitu kalau tidak ada alasannya.
"Besok Oma akan datang, kamu gak akan ke mana-mana, kan?" tanya Candra.
"Apa Oma ke Jakarta hanya untuk menjenguk Rania?" tanya Livia balik.
"Iya, tapi nanti pasti akan di sini dulu, tidak akan langsung pulang."
Livia mengangguk pelan, tidak bohong hatinya merasa cemburu karena Oma Candra itu sudah kenal dan dekat dengan Rania. Padahal dulu Ia adalah cucu kesayangan, tapi sepertinya kali ini akan terbagi pada Rania.
"Aku ke rumah sakit sekarang ya," pamit Candra.
__ADS_1
"Hm." Livia hanya berdehem.
Sebelum pergi Candra menyempatkan waktu mengecup puncak kepala Livia, setelahnya Ia berjalan keluar dari kamar itu. Sebenarnya Candra tidak tega meninggalkan Livia, tapi merasa sekarang Rania lebih penting.
Kali ini Candra tidak diantar supir, Ia membawa mobilnya sendiri. Sesampainya di rumah sakit langsung menuju kamar rawat Rania, ternyata perempuan itu masih tidur. Baguslah.
"Mas," panggil Rania.
Candra menoleh, "Loh kenapa bangun?" tanyanya.
"Mas dari mana?"
Apakah tadi Rania sempat bangun dan menyadari dirinya tidak ada di sini?
"Aku pulang dulu, ada sedikit urusan," jawab Candra.
"Apa Mas pulang karena mau ketemu Leon?"
"Iya, tapi Livia menahan aku dan bilang kalau Leon lagi istirahat."
Rania terlihat menghela nafasnya lega, sempat Ia khawatir Candra sengaja pulang karena ingin menghajar Leon lagi. Untung saja ada Livia, Rania tidak bisa bayangkan kalau mereka ribut lagi. Walaupun Rania kecewa pada Leon, tapi Ia juga masih punya rasa kemanusiaan.
"Aku juga sama, aku pengen denger alasan Leon. Padahal aku merasa kita berteman baik selama ini, tapi aku tidak menyangka dia mengarang cerita sampai sejauh itu," gumam Rania.
Rania seperti merasa dikhianati. Sepertinya selama ini hanya dirinya saja yang mengaku-ngaku menjadi teman, Leon sepertinya tidak menganggap begitu. Sikap bermuka duanya itu, apakah karena rasa kesal karena Kakaknya sudah Ia duakan?
"Oh iya aku lupa bilang, besok kayanya Oma akan datang jenguk kamu kesini," ucap Candra, sengaja mengalihkan obrolan karena tidak mau perempuan itu semakin overthinking.
"Beneran Oma mau kesini?" tanya Rania terkejut sendiri.
"Iya tadi aku sempat telepon dia dan kabarin kondisi kamu. Oma kedengeran khawatir, makanya dia pengen jenguk kamu langsung di sini."
Rania tidak bisa menahan senyumannya mendengar itu, rasanya berbunga-bunga sekali dadanya mendengar wanita paruh baya itu rela melakukan perjalanan jauh hanya demi dirinya. Rania juga merindukan Oma Amara, sudah lama mereka tidak bertemu.
"Memangnya aku akan berapa lama dirawat?" tanya Rania.
"Nanti besok aku tanyakan lagi pada dokter. Sudah sekarang mending kamu tidur, sudah malam," perintah Candra sambil menarik selimut sampai ke leher Rania.
"Apa Mas mau temenin aku malam ini?"
__ADS_1
"Iya, " angguk Candra.
"Terus nanti Mas tidur dimana?"
"Di sofa aja gak papa."
Rania ikut melihat ke arah sofa yang berada di tengah ruangan, merasa sofa itu tidak akan terlalu nyaman untuk dituduri. Ukurannya memang panjang, tapi untuk Candra yang tinggi sepertinya tidak akan muat. Rania lalu terpikirkan sesuatu.
"Atau Mas mau tidur di sini aja bareng aku?" tawar Rania malu-malu.
Bukan bermaksud mencari kesempatan, tapi Rania hanya tidak enak jika pria itu tidur di sofa sedangkan Ia nyaman di ranjang. Ukuran ranjang yang di tempatnya juga lumayan lebar, cukup-cukup saja untuk ditiduri dua orang.
"Kamu serius Rania?" tanya Candra. Tidak menyangka perempuan itu yang lebih dahulu menawarkan. Biasanya kan selalu malu-malu.
"Kalau Mas mau."
"Aku mau kok, tapi takut buat kamu gak nyaman karena kesempitan," sahut Candra cepat.
"Gak sempit kok, pasti cukup buat dua orang juga."
Rania lalu bergeser ke sisi kiri, menunjukan sisi sebelahnya yang kosong dan lumayan luas. Lagi pula tidurnya tidak banyak bergerak, sama saja seperti Candra. Kenapa Rania tahu? Mereka kan sudah beberapa kali tidur bersama.
"Ya sudah aku tidur sama kamu ya, tapi aku mau ke kamar mandi dulu," ucap Candra.
"Iya Mas."
Candra masuk ke kamar mandi sambil membawa tas gendongnya, isinya ada pakaian tidur dan beberapa barang lain yang penting. Entahlah apa besok Ia akan ke kantor atau tidak, mungkin Candra akan masuk siangnya karena Omanya pun akan datang.
Setelah mengganti bajunya dan membasuh wajah, Candra keluar dari kamar mandi itu. Mematikan lampu utama, tapi ada beberapa lampu kecil yang masih menyinari membuat ruangan itu kini temaram dan lebih nyaman. Candra lalu berjalan mendekati ranjang.
"Mau tidur sekarang Mas?" tanya Rania.
"Iya, udah ngantuk juga."
Dengan hati-hati Candra pun naik ke atas ranjang, berbaring di sebelah Rania. Ternyata benar tidak sempit, cukup lah untuk dua orang dewasa seperti mereka. Untuk beberapa saat keduanya terdiam dengan perasaan gugup.
"Tidurlah Rania, sudah malam, " tegur Candra.
"Iya."
__ADS_1