Ternyata Aku Istri Keduanya

Ternyata Aku Istri Keduanya
Menyukai Kepribadian nya


__ADS_3

Setelah Rania menyelesaikan sembahyang nya, perempuan itu melirik Candra yang terlihat baru bangun dan mendudukan tubuhnya. Rania terlebih dahulu menyimpan mukena nya di tempat tadi, lalu menghampiri suaminya itu.


"Sudah bangun Mas?" Rania tahu, tapi Ia hanya basa-basi saja.


"Iya sudah, jam berapa sekarang?" tanya Candra dengan suara serak khas bangun tidur.


"Masih jam lima," jawab Rania. Biasanya suaminya itu kan akan bangun lebih siang.


"Ternyata masih subuh ya," gumam Candra dengan helaan nafas berat. Ia cukup sulit tidur malam ini, apalagi kalau selain di rumahnya.


"Kalau Mas mau tidur lagi silahkan, tapi gimana kalau solat dulu?" Kalau nanti takut kesiangan.


"Enggak deh, aku mau bangun aja," sahut Candra, lagi pula sudah tidak terlalu mengantuk.


"Ya sudah, kalau gitu aku ke bawah duluan ya Mas."


"Kamu sudah bertemu Oma belum?" tanya Candra.


"Sudah," angguk Rania sambil tersenyum, "Tadi Oma yang nganterin aku ke kamar mandi karena tersesat hehe."


"Syukur deh kalau udah ketemu, terus apa dia banyak tanya ke kamu?"


"Enggak terlalu, tapi ternyata kata Mas bener, Oma orangnya baik dan ramah ya." Saat menceritakannya, Rania terlihat bahagia sekali.


Candra ikut tersenyum mendengar itu, merasa lega begitu saja karena menduga jika sepertinya pertemuan dua perempuan itu tadi berjalan lancar. Sebenarnya Candra cukup khawatir Omanya itu berbeda sikap pada Rania, tapi ternyata tidak. Candra lega mengetahuinya.


"Aku mau mandi dulu, nanti baru ke bawah," ucap Candra.


"Iya."


Berbeda dengan Rania yang ke lantai bawah menuju dapur, Candra pergi ke kamar mandi yang ada di lantai dua itu. Memasuki dapur, Rania langsung melihat seorang pelayan tua yang sedang memasak. Rania pun dengan memberanikan diri mendekat.


"Selamat pagi," sapanya berusaha ramah.


Wanita itu menoleh dan langsung tersenyum melihat kedatangannya, "Iya pagi juga Nona, apa anda membutuhkan sesuatu?" tanyanya.


"Tidak ada, apa aku bisa bantu di sini?" tawar Rania.

__ADS_1


"Tidak perlu Nona, tidak papa biar mbok aja yang kerjain," tolak nya halus. Terkejut karena baru kali ini ada bos yang malah menawarkan diri membantu pekerjaannya.


"Gak papa mbok, aku bisa bantu kok." Rania tetap berusaha membujuk, Ia malah tidak enak kalau tidak membantu.


"Tapi ini kan pekerjaan mbok, Nona nanti tinggal makan aja."


"Tapi aku pengen bantu, gak papa ya bi? Aku bisa masak kok, beneran."


"Baiklah kalau Nona memaksa, kalau begitu mbok boleh minta tolong untuk potongan sayuran ini? Mbok mau buat sop ayam."


Senyuman Rania langsung mengembang mendengar itu, "Oke mbok siap, aku jago kalau motongin sayuran."


"Iya mbok percaya, Hati-hati ya Nona." Wanita paruh baya itu menatap lembut perempuan itu, yang kemungkinan besar adalah istri muda Tuan Candra. Ternyata sifatnya sangat berbeda dari yang Ia bayangkan, terlihat bukan perempuan sombong dan berdandan berlebihan.


"Nama aku Rania, kalau nama mbok siapa?" tanyanya berusaha mengakrabkan diri. Tangannya dengan telaten tetap memotong sayuran, tapi sesekali melirik mbok di sebelahnya.


"Nama mbok Tati, mbok sudah belasan tahun kerja di sini."


"Wah sudah lama juga ya."


"Iya, sudah lama banget. Tapi mbok betah di sini, sekalian jagain Nyonya saja."


"Iya Nyonya memang orang yang baik dan ramah pada semua orang, makanya mbok juga betah kerja di sini."


"Padahal aku sempet khawatir ketemu Oma nanti, tapi ternyata dugaan aku itu salah."


"Memangnya kamu membayangkan Oma bagaimana, Rania?" tanya Oma yang baru datang ke dapur.


Obrolan dua orang wanita tadi pun terhenti melihat kedatangan Oma, Rania sampai menghentikan pekerjaannya dan tersenyum pada Amara. Apakah tadi perkataannya ada yang salah? Rania jadi mengkhawatirkan.


"Maaf Oma, aku sempet bayangin kalau Oma gak suka sama aku," ucap Rania menjelaskan, tatapannya terlihat tidak enak takut menyinggung.


"Kenapa juga Oma tidak suka sama kamu? Apalagi kamu perempuan yang lemah lembut dan baik," jelas Amara sambil mengusap rambutnya.


Rania tersenyum tipis sambil membatin. Alasan sempat menduga Oma tidak menyukainya ya karena dirinya adalah orang kedua di pernikahan cucu Oma. Rania tidak tahu apakah wanita paruh baya itu tahu bagaimana cerita yang asli atau tidak, tapi kalau tahu yang sebenarnya seharusnya tidak membencinya.


"Kamu jangan takut ya sama Oma," ucapnya sambil tersenyum lembut.

__ADS_1


"Aku gak takut, cuman tadi aja pas Oma pakai mukena dan bawa lilin, aku takutnya," celetuk Rania membuat Omanya pun tertawa geli.


"Kamu sedang apa?" tanya Oma baru menyadari perempuan muda itu memegang pisau.


"Aku bantuin mbok masak," jawab Rania.


"Loh kenapa? Gak papa biar mbok aja, kamu jangan cape-cape."


"Maaf Nyonya, mbok juga tadi sudah larang tapi Nona memaksa terus," ucap mbok Tati yang khawatir di salahkan.


"Aku sendiri Oma yang pengen bantu-bantu, lagian kalau diem aja kan bosen terus gak enak juga." Rania berusaha menjelaskan dengan baik.


"Kamu bisa masak?" tanya Oma sedikit terkejut.


"Iya bisa kok."


"Wah jarang banget loh anak zaman sekarang itu bisa masak, kamu hebat ya. Oma jadi penasaran dan pengen cicip masakan kamu."


Rania tersenyum malu-malu mendengar itu, "Kalau boleh nanti aku bisa buatin masakan untuk Oma."


"Tentu saja, Oma pengen coba gimana masakan kamu."


"Iya Oma, nanti ya." Rania jadi berdegup sendiri akan memasakan untuk wanita paruh baya itu, yang pasti nanti Ia harus membuat masakan yang enak dan tidak mau mengecewakan.


Omanya tidak ikut bantu masak, tapi duduk di kursi makan sambil memperhatikan Rania yang terlihat cekatan memasak. Setelah Ia perhatikan, sepertinya istri muda cucunya itu adalah tipe orang yang sederhana dan apa adanya. Amara sudah bisa bayangkan jika Rania pasti selalu tidak mau merepotkan Candra.


"Rania kamu sedang apa?" tanya Candra yang baru masuk ke dapur.


"Aku lagi bantu mbok masak Mas," jawab Rania sambil tersenyum. Melihat pria itu yang sudah segar, terlihat enak sekali dipandang.


"Sudah dari tadi, kan? Ayo duduk, biar mbok yang selesain aja," perintah Candra dengan suara beratnya.


Mendengar perintah dari suaminya itu, mau tidak mau membuat Rania pun patuh berhenti dari pekerjaannya. Untung saja sup ayamnya juga sudah selesai, sebentar lagi juga dihidangkan. Melihat Candra yang memintanya duduk di kursi sebelahnya lewat tatapan, Rania pun duduk menurut.


"Kamu lagi hamil, jangan terlalu capek," tegur Candra. Entah sudah berapa kali Ia nasehati istrinya ini, tapi Rania ini memang orang yang tidak enakan.


"Iya Mas enggak kok," ucap Rania.

__ADS_1


Omanya yang dari tadi memperhatikan hanya tersenyum, lalu meminum tehnya. Banyak sekali yang Ia pikirkan, sepertinya harus mengobrol berdua dengan Candra.


__ADS_2