
Bab 62
“selamat malam om, tante, maaf Crystal terlambat”
“tidak apa-apa silahkan duduk” jawab Mr. Martadinata sambil tersenyum pada Crystal.
Crystal mengambil tempat duduk disebelah Sean karena itu satu-satunya kursinya tersisa. Sean tidak ambil pusing dengan kedatangan tamu yang dimaksud ayahnya, ia hanya fokus makan dan memperhatikan makan adiknya.
“makan yang benar” ujar Sean membuat Lyin cemberut namun ia menganggukan kepalanya.
Crystal tersenyum melihat intraksi antara Sean dan adiknya, manis pikirnya.
Sean selesai makan lebih dulu, Lyin gadis itu bahkan belum habis setengahnya. Sean jadi gemas sendiri dan memisahkan sayuran dari piring Lyin dan menggantinya dengan ayam.
“makasih kak” ujar Lyin langsung melahap makanannya dengan lahap.
Lagi-lagi Crystal tersenyum dengan intraksi keduanya,
Lyin menatap Sean karena ia sudah selesai makan, Sean menganggukan kepalanya.
“kami sudah selesai makan, permisi” pamit Sean mengajak Lyin berdiri,
__ADS_1
“ayah ingin berbicara padamu” ujar Mr. Martadinata sambil mengelap mulutnya.
“besok saja, sekarang sudah malam. Besok Lyin ada kuliah pagi” Sean menolak ayahnya.
“ini penting, sangat penting” ujar ayahnya dengan suara agak ditekan.
“Lyin kau ajak Crystal keliling dulu. Ayah ingin berbicara dengan Sean”
“kak?” Lyin bertanya pada Sean.
“tunggu kakak sebentar” ujar Sean yang langsung diangguki oleh Lyin.
Sean mengikuti ayahnya menuju ruang kerja milik ayahnya, sedangkan ibu tirinya ah lebih tepat nya ibu Lyin, dia pergi kekamarnya.
“apa yang ingin ayah katakan?” tanya Sean langsung pada intinya,
“kau ini tidak ada basa-basi sama sekali”
“bukan gayaku” jawab Sean duduk sambil menyilangkan kakinya.
“menikah lah dengan Crystal” ujar ayah nya membuat Sean memutar bola matanya dengan malas, Sean sudah menduga ini akan terjadi.
__ADS_1
“aku menolak!” jawab Sean tanpa berpikir dua kali.
“kau harus menikah denganmu, kau tau keluarganya itu adalah kolomerat yang paling berpengaruh. Jika kalian menikah maka perusahaan akan menjadi lebih luas lagi”
Sean tidak mendengar kan perkataan ayahnya, ia sama sekali tidak berminat.
“jika itu yang ingin ayah katakan, aku permisi” pamit Sean bangkit dari duduknya.
“kau tahu wanita pemilik butik itu?” tanya ayahnya membuat langkah Sean terhenti, tentu saja ia tidak bodoh. Sean tahu apa yang dimaksud oleh ayahnya.
“kalau kau menolak tentu saja ayah tidak akan tinggal diam, kau tau bukan ayah bagaimana?”tanya ayahnya membuat Sean mengepalkan kedua tangannya, bisa dibilang Sean adalah copy paste dari ayahnya mereka sama persis dari aspek segala hal.
“baiklah ayah akan menawarkan kesepakatan, berkencanlah selama 3 bulan jika kalian masih belum bisa bersama maka ayah akan membebaskanmu” tawa ayahnya.
“bagaimana?” tanya ayahnya lagi, Sean memutar badannya dan menghadap ayahnya.
“memang nya aku bisa menolak” ujar Sean membuat ayahnya tersenyum puas, mengetahui kelemahan putrannya adalah keberuntungan baginya. Sebenarnya yang menyuruh Crystal untuk datang kebutik itu adalah dirinya. Iya, Mr. Martadinata memberi tahu Crystal bahwasannya wanita itu adalah wanita yang dicintai putranya.
Hanya satu sifat yang tidak turun pada Sean, yaitu sifat ayahnya yang licik seperti ular. Sean selalu memakai cara yang dianggap benar tapi tidak seperti ayahnya. Licik? Mungkin Sean pernah tapi tidak selicik ayahnya.
Jangan lupa like n komen dan bila perluh tolong dukung karya ini dengan memberikan koin/ poin. Terima kasih sebelumnya. Big love, from me.
__ADS_1
To be continue,