
AYO KITA SIMBIOSIS MUTUALISME, SALING MENGUNTUNGKAN SATU SAMA LAIN🔥 MOHON UNTUK MEMBERIKAN POIN KECERITA INI BIAR MAWAR SEMANGAT MENULIS KELANJUTAN BABANH SEAN & ANDREA😊 GA USAH BELI KARENA POIN BISA DIDAPATKAN DENGAN GRATIS!!
HAPPY READING 💚
Sean menginjakan kakinya kerumah orang tuanya, ia ada perlu yang harus ia sampaikan pada ayahnya.
“tumben sekali kau datang son,” ujar Mr. Martadinta ketika Sean duduk dihapan ayahnya.
“aku ingin melamar Andrea,”
“ayah tidak setuju, ayah akan menjodohkanmu dengan orang lain” tolak Mr. Martadinata, Sean mengangkat kedua bahunya.
“siapa? Crystal? Dia sudah tewas” kata Sean membuat ayahnya mengepalkan tangannya,
“aku hanya memberi tahu saja, masalah setuju atau tidak aku tidak peduli. Ini alamatnya kalau-kalau ayah berubah pikiran” ujar Sean bangkit dari duduknya dan memberikan alamat pada ayahnya.
__ADS_1
Sean bahkan tidak butuh waktu lama untuk mengobrol dengan ayahnya, Sean langsung pergi setelah memberikan alamat pada Ayahnya.
Mr. Martadinata mengamati alamat yang ditinggalkan oleh putranya, kediaman Utomo. Mr. Martadinta sangat mengenal Alvino Dimas Utomo yang merupakan juniornya sewaktu kuliah dulu. Mereka bahkan bekerja sama dalam waktu yang lama hingga sekarang, lalu kenapa dia tidak mengetahui jika Andrea adalah anak dari Alvino?
Anak buahnya sama sekali tidak becus mencari infromasi tentang Andrea, anak buahnya hanya memberikan pendidikan Andrea dan dimana tempat Andrea bekerja tanpa memberi tahu hal yang sepenting ini. jika Mr. Martadinata mengetahui yang sebenarnya dia tidak akan menjodohkan Putranya dengan Crystal wanita ular yang mencoba menjebak putranya.
Mr. Martadinata mengepalkan kedua tanganya, lalu memanggil anak buahnya yang memberi infomasi tentang Andrea padanya.
Bruk
“tahu apa letak kesalahanmu!” tanya Mr. Martadinata membuat anak buahnya menggelengkan kepalanya dengan ragu.
Bruk
Sekali lagi Mr. Martadinata menendang tulang kering anak buahnya, .
__ADS_1
“kau tidak memberi tahu informasi menditeil tentang Andrea, karena kau... ais sudahlah. Pergi dari sini sebelum aku memotong lehermu!” perintah Mr. Martadinata membuat anak buahnya langsung keluar dari ruang kerjanya.
Setelah menyampaikan hal penting pada ayahnya Sean langsung pergi kekantor sebentar menampakan dirinya lalu pergi lagi. Ia harus bersiap karena hari ini ia akan melamar wanitanya didepan orang tua Andrea.
Masalah ayahnya akan datang atau tidak, Sean sama sekali tidak peduli tidak ada yang boleh menghalangi jalannya untuk menikah dengan Andrea termasuk ayahnya.
“tidak bisakah senyum menjijikan itu hilang?” tanya Dave membuat senyum Sean tetap pada tempatnya tidak luntur sama sekali.
“kalau iri katakan saja” jawab Sean cuek membuar Dave kesal, namun dibalik kekesalannya seoarang Dave dia senang karena semua berkat Andrea. karena Andrea Dave bisa melihat senyum tulus itu karena Andrea, Dave bisa melihat Sean yang tulus tanpa menirukan ekspresi orang lain lagi dan Dave sangat bersyukur karena itu.
Sean sudah berada didepan rumah Andrea bersama Dave tentu saja, Sean merapikan lagi tata rambutnya sebelum keluar dari dalam mobil. Dave hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah bosnya yang seperti sedang mengalami cinta monyet saja.
Sean baru saja turun dari mobil tapi mobil yang sangat dkenal Sean berhenti didepannya,
Jangan lupa like n komen dan bila perluh tolong dukung karya ini dengan memberikan koin/ poin. Terima kasih sebelumnya. Big love, from me.
__ADS_1
To be continue,