
Bab 40
Sindi dan andrea sudah berada di mall, mereka mengincar barang-barang yang mereka inginkan. Dari toko tas, sepatu, pakaian dan pernak-pernik telah mereka datangi sehingga kedua tangan mereka penuh dengan belanjaan.
“andai saja tadi alex ikut, kita pasti belum akan pulang sekarang” ujar andrea sewaktu mereka keluar dari toko tas, toko terakhir yang mereka kunjungi.
“kau benar sekali, tapi kenyataannya alex tidak disi....” keluh sindi membeku ditempatnya. Andrea sudah melangkah sedikit kedepan, ia berhenti ketika menyadari sindi masih tertinggal.
“eh, ada apa? Ayo kita harus makan sekarang dan setelah itu kita pulang” ujar andrea tapi tidak mendapat jawaban dari sindi.
Andrea menolehh kebelakang dan menemukan sindi masih tertinggal dibelakang, andrea mengangkat kedua bahunya lalu menghampiri sindi yang masih terdiam tidak menyadari keberadaannnya,
__ADS_1
“hey, ayo kita harus mengisi perut sekarang” ujar andrea menepuk pelan pundak sindi tapi yang ditepuk pundaknya tidak menanggapi perkataan andrea. karena penasaran andrea ikut melihat apa yang telah dilihat oleh sahabatnya itu.
Tidak ada yang spesial hanya ada pasangan yang sedang bercanda ria ditoko pakaian bayi, andrea menutup mulutnya tidak percaya. Kalau benar tebakan andrea, itu pasti pacar sindi yang meninggalkannya untuk menikah dengan wanita lain, dasar ********. Umpat andrea kesal.
Andrea ingin mengajak sindi pergi ketika pasangan romantis itu keluar dari toko pakaian bayi, namun sindi memberatkan badannya sehingga andrea tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
“hai mantan” sapa pria itu sambill melambaikan tangan pada sindi, andrea ingin sekali menjambak pria itu dan memaki dengan umpatan kesalnya.
“belum move on? Ah, bagaimana ini kau benar sekali. Hallo dini aku sindi mantan tersayang suamimu, jaga dia baik-baik karena aku belum move on. Dhe, ayo kita pergi katanya kau lapar. Sampai bertemu lagi mantan tersayang” jawab sindi sambil mengedipkan matanya pada bara mantan pacarnya. Sindi juga membawa andrea pergi dari hadapan bara dan juga dini.
Bara yang ditinggalkan menatap punggung sindi yang menjauh, lalu ia tersenyum pada dini.
__ADS_1
“ayo sayang kita pulang” ajaknya pada dini dengan tersenyum hangat.
Dini menganggukan kepalanya dan menggandeng tangan bara. Andrea sangat kesal pada sindi, seharusnya sindi tidak mengatakan belum move tadi, andrea benar-benar kesal rasanya ingin menendang sindi sekarang. Tapi, ia urungkan karena melihat sindi yang sudah menangis dimobil sekarang. Andrea menelan kata-katanya lagi dan memilih untuk memeluk erat sahabatnya.
“rasanya masih sakit saja, disini” ujar sindi menunjuk dadanya, andrea tidak berkata apa-apa ia hanya bisa memeluk sindi dalam diam. Andrea bahkan tidak membuka suaranya hingga tangis sindi berhenti dengan sendirinya.
Sindi terus menumpah kan keluh kesahnya pada andrea, “aku masih mencintainya, apa harus kami bertemu sekarang?”. “bagaimana bisa melupakan jika sering bertemu?”. “aku sudah bertemu dengan pria lain dan hampir melupakan dan sekarang kami bertemu, dia bahkan memperkenalkanku pada istrinya”. “pria itu jahat sekali”
Jangan lupa like n komen dan bila perluh tolong dukung karya ini dengan memberikan koin/ poin. Terima kasih sebelumnya. Big love, from me.
To be continue,
__ADS_1