Ujian Kesetiaan

Ujian Kesetiaan
Keberadaan Fathan


__ADS_3

"Ada kabar baik untuk kita, Dhen. Semoga Fathan cepat bisa diketemukan. Pihak polisi sekarang sudah bisa melacak orang yang membawa kabur Fathan," ungkap Kahfi melalui sambungan telepon kepada Dhena.


Hati Dhena merasa bahagia mendengar kabar dari sang kakak. Ia melangitkan do'a berharap buah hatinya selalu ada dalam lindungan Yang Maha Kuasa. Di mana pun dan kapan pun berada.


Sedangkan Kahfi dan beberapa orang dari pihak kepolisian langsung mendatangi pelaku yang menculik Fathan di daerah pinggiran kota yang terlihat kumuh.


Melalui jalanan gang yang sangat sempit mereka menuju tempat kediaman Bu Ratih yang ternyata orang suruhan dari Bu Mutia, ibu kandungnya Nelly.


Terlihat rumah berukuran kecil dengan dinding yang terbuat dari triplek tipis dan atap dari seng yang sudah mulai berkarat. Di sekililing sekitar rumah kumuh itu terdapat gundukkan berbagai macam barang bekas dan sampah-sampah pelastik memenuhi halaman dan setiap tanah kosong yang terdapat di sana.


Sepanjang jalan sorot mata warga tertuju kepada rombongan Kahfi dan beberapa orang yang memakai seragam polisi selama melewati gang sempit yang kiri kanannya dipadati oleh rumah-rumah yang dibangun asal oleh warga di situ.


"Selamat siang, bisa bertemu dengan saudari Ratih?" suara dari salah satu yang memakai seragam polisi mengejutkan seorang ibu muda yang sedang asyik memilih dan memilah botol prlastik dengan posisi duduk membelakangi halaman rumah. Sehingga ia tak menyadari ada rombongan polisi menghampirinya.


"Si ... Siang, Pak. Saya sendiri, Pak yang bernama Ratih,' jawabnya tergagap dan berkata jujur.


"Kami dari pihak kepolisian membawa surat penangkapan untuk mengamankan Anda, saudari Ratih," ucap polisi yang berkumis tipis itu


"Ta ... Tapi, Pak, salah saya apa dulu, Pak? Saya gak mencuri dan melakukan kejahatan apa pun. Saya hanya seorang pemulung yang berusaha mencari sesuap nasi untuk saya dan anak saya, Pak." Perempuan dengan rambut keriting itu berusaha sebisa mungkin mengelabui pihak polisi.

__ADS_1


"Anda bisa jelaskan nanti setelah berada


di kantor," sela pak polisi memotong perkataan perempuan tadi yang berusaha terus untuk melakukan pembelaan dan perlawanan.


"Kasihani saya, Pak, anak saya masih kecil butuh saya untuk mengurus mencarikan makan dan untuk membelikannya susu, Pak," rajuknya seperti maling yang ketangkap basah oleh warga.


Beberapa orang bertubuh tegap itu langsung menggeledah isi rumah untuk mencari barang bukti yang lain. Kahfi pun tak tinggal diam. Langkah panjangnya mulai ikut memasuki pintu rumah yang sangat kecil itu. Hingga ia harus sedikit membungkuk untuk bisa melewati pintu dan masuk ke dalam ruangan yang terasa sangat pengap dan gelap karena tak ada satu pun jendela dan fentilasi udara dalam bangunan rumah yang hampir mirip gubuk itu.


Di ruang tengah itu samar sorot mata Kahfi menangkap sosok anak kecil yang sedang duduk sambil menyuapkan sesuatu ke dalam mulutnya. Di hadapan anak balita itu terdapat piring pelastik berisi nasi putih yang sudah berserakan tak karuan.


Lantai tanah yang didudukinya hanya dialasi tikar karakter dari pelastik yang sudah bolong dan robek di mana-mana. Sungguh pemandangan yang sangat membuat hati Kahfi terenyuh melihatnya. Apalagi saat pria itu memastikan anak kecil yang sedang berada tak jauh dari hadapannya itu merupakan anak dari adik perempuannya, yaitu Dhena. 'Iya, tak salah lagi itu pasti Fathan,' bisik hati Kahfi sambil mendekat ke arah bocah malang itu.


Tubuh Kahfi membungkuk lalu berjongkok persis di hadapan Fathan. Kedua belah tangan kekarnya kemudian direntangkan dan diasongkan untuk meraih anak kecil yang masih terus menjerit histeris.


Perlahan Kahfi mengangkat tubuh kecil dan kurus seperti kurang gizi itu lalu merengkuhnya dalam dekapan.


"Fathan, baik-baik saja, kan? Sabar, ya, Sayang. Kita akan pulang sekarang. Sebentar lagi kamu pasti ketemu Mama," ucap Kahfi berusah menenangkan keponakannya.


Telapak tangan Kahfi terasa lembab dan basah ketika memegang bagian belakang Fathan. Bau tak sedap langsung menguar memenuhi indera penciuman Kahfi. Jika Dhena yang mendapati anaknya dalam keadaan seperti itu ia pasti akan langsung tergugu karena tak tega hati melihat buah hatinya ditelantarkan seperti itu.

__ADS_1


Kahfi masih memangku Fathan dan membawanya ke bagian belakang rumah. Berharap menemukan air bersih untuk membersihkan badan keponakannya yang mengeluarkan aroma bau dan pesing.


Ia membuka pintu bagian belakang rumah itu karena di dalam dapur masih tak terlihat ada air di sana. Hanya ada peralatan dapur kotor yang berantakan tercecer di mana-mana. Membuat pemandangan semakin terlihat kumuh dan kotor.


Pandangan Kahfi tertuju ke bangunan kecil yang berada di sekitar halaman belakang yang berjarak lima puluh meter dari rumah.


Dari bentuk bangunannya Kahfi memastikan jika itu kamar kecil yang mungkin biasa digunakan oleh pemilik rumah yang berada di sana. Benar saja, ketika tangan kanan kirinya mendorong dan membuka pintu kecil itu. Tampak ada beberapa ember dan bak yang terisi air bersih.


Kahfi segera menurunkan Fathan dari gendongan. Lalu membuka satu persatu pakaian yang melekat di badan Fathan yang terlihat sangat kurus, hingga tulang iga di bagian dadanya terlihat menonjol. Kahfi membelalakkan kedua bola matanya ketika melihat sekujur tubuh kecil keponakannya itu penuh dengan luka lebam kebiruan hampir memenuhi sebagian punggung, perut dan sekitar pantat mungil Fathan.


Tak salah lagi, perempuan itu selain menculik Fathan, ia juga melakukan penganiayaan terhadap anak kecil yang tak berdosa itu. Hanya demi untuk bisa mendapatkan uang banyak secara instan, hingga menghilangkan rasa empati kepada orang lain hingga tega berbuat jahat dan tidak berprikemanusiaan seperti yang sudah dilakukan oleh ibu muda bernama Ratih itu.


Usai membersihkan badan Fathan. Kahfi kembali memasuki rumah gubuk itu untuk mencari pakaian kecil yang bisa dipakaikan untuk Fathan yang sudah terlihat menggigil kedinginan.


Matanya mengedarkan pandangan ke setiap penjuru ruangan tiga kali tiga meter itu barangkali ada baju-baju Fathan yang tersimpan di sana. Tapi hasilnya nihil. Di ruangan yang dipakai untuk ruang tamu itu hanya ada beberapa pakaian dewasa yang tergantung di paku dinding rumah. Tak ada barang-barang mewah di sana. Hanya ada sebuah pesawat televisi berukuran kecil yang sudah ditutupi debu tebal di bagian atasnya. Teronggok begitu saja di pojok ruangan.


Karena di ruangan tengah ia tak menemukan sepotong pakaian pun. Kahfi berinisiatif membuka pintu sebuah kamar. Ketika pintu kamar terbuka, Kahfi terkejut karena di dalam sana ada seorang lelaki dewasa yang sedang tergolek lemah seperti orang lumpuh.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2