Ujian Kesetiaan

Ujian Kesetiaan
Mengantar Ibu Mertua ke Pasar


__ADS_3

***


Matahari bersinar cerah. Waktu menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Bu Aida mengajak Dhena untuk mengantarnya ke pasar. Wanita setengah baya itu akan mengadakan acara arisan yang digelar semingu sekali bersama reng-rengan yang sok hidup bak ibu-ibu sosilatia kelas teri.


"Dhen, tolong belikan Ibu terong muda yang buket-buket itu, gih, yang berada di tengah pasar sana! Tadi Ibu lupa membelinya padahal itu lalaban kesukaan Ibu," titahnya tak peduli jika menantunya itu sudah begitu kelelahan.


"Tapi, Bu. Dhena sudah terasa capek banget ini. Sudah muter-muter hampir semua pelosok pasar." Dhena berusaha menjelaskan kondisi dirinya yang seperti sudah semaput.


"Baru belanja segitu aja sudah banyak keluhan, kamu. Dasar manja!" timpal Bu Aida.


"Yaudah Dhena titip keranjang belanjaan di sini sama Ibu, ya, biar Dhena coba cariin terong mudanya."


"Enak saja. Sekalian dibawa aja sih, apa susahnya. Ibu mau ke warung bakso yang ada di pinggir jalan dulu. Tadi sudah janjian sama teman Ibu di sana." Bu Aida melenggang meninggalkan Dhena yang masih berdiri mematung sembari memandangi punggung sang ibu mertuanya hingga hilang di antara kerumunan orang yang berjubel di pinggir pasar.


Dhena mulai berjalan dengan terseok menyelipkan badannya yang kecil diantara orang-orang yang sedang berdesakkan memadati jalan sempit yang berada di tengah pasar induk itu.


Sebenarnya Bu Aida memang sengaja memperlakukan Dhena seperti itu agar menantunya itu merasa kecapean dan merasa tertekan dengan sikapnya yang kadang di luar batas kewajaran. Karena harapan Bu Aida dengan ia memperlakukan Dhena seperti itu maka Dhena lama kelamaan menjadi gak kuat jika harus bertahan hidup dengan anak-lakinya dan mengajukan cerai.

__ADS_1


Sedangkan Dhena hanya bisa bersabar dengan ujian yang datang dari ibu mertuanya itu. Ia selalu mengingat wejengan dari salah satu ustaz ketika ia mengikuti dan menghadiri kajian di majlis ta'lim. Ustaz itu pernah menyampaikan sebuah hadits yang kurang lebih isinya seperti ini.


“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya), dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan (Qs. Al-Anbiya’/21:35).


Makna ayat itu menurut Imam Ibnu Katsir rahimahullah, Kami menguji kamu (wahai manusia), terkadang dengan bencana dan terkadang dengan kesenangan, agar Kami melihat siapa yang bersyukur dan siapa yang ingkar, serta siapa yang bersabar dan siapa yang berputus asa."


Tingkatan sikap manusia ketika menghadapi cobaan atau dalam menerima takdir Allah. Tingkatan yang pertama adalah marah dengan takdir yang Allah berikan. Boleh jadi ia marah dalam hatinya dengan bergumam, boleh jadi ia ucapkan dengan lisannya. Orang yang marah dengan takdir Allah, maka ia dikhawatirkan terjerumus dalam perbuatan kesyirikan dengan sebab ia mencela takdir. Dan marah kepada takdir pada hakikatnya marah kepada Allah.


Tingkatan kedua adalah sabar, ketika seseorang merasakan beratnya ujian dan tidak suka dengan ujian yang menimpanya, tapi ia lebih memilih bersabar sehingga merasa ada atau tidaknya ujian sama saja. Meskipun ia tidak menyukainya, namun keimanannya menghalanginya untuk marah. Bersabar ketika menghadapi cobaan hukumnya wajib, dan seseorang yang tidak bersabar ketika itu akan terjerumus dalam dosa. Dan sabar adalah tingkatan yang paling minimal yang dimiliki oleh seorang muslim ketika menghadapi cobaan.


Dimana saja Allah tetapkan qadha dan qadarnya, seperti tertimpa kesulitan atau mendapatkan kemudahan, tatkala mendapat nikmat atau sebaliknya yaitu tertimpa musibah, semua itu sama saja baginya. Bukan karena matinya hati, namun karena kesempurnaan ridha dengan takdir Allah, sebagai Rabb yang mengatur urusannya. Jika ia melihat dalam kacamata takdir Allah, baginya sama saja antara nikmat dan musibah. Sehingga hal inilah yang menjadi pembeda antara sabar dan ridha.


Ini adalah tingkatan tertinggi dan yang paling utama dalam menghadapi cobaan. Karena ia bisa bersyukur atas musibah yang menimpanya. Oleh karena itu, ia bisa menjadi hamba Allah yang penuh rasa syukur ketika ia melihat masih banyak orang lain yang lebih berat musibahnya dibandingkan dirinya. Musibah dalam hal dunia lebih ringan dibandingkan musibah dalam hal agama, karena adzab di dunia lebih ringan dibandingkan adzab di akhirat.


Dalam setiap fase kehidupan manusia, masalah akan selalu ada. Apabila diibaratkan, masalah itu seperti air dan manusia adalah ikannya, tanpa air ikan akan mati, seperti itulah kita tanpa masalah. Karena jika masalah itu sudah tidak ada maka berarti kita sudah pergi dari dunia ini. Lalu bagaimana kita bisa menjadikan masalah sebagai suatu keberkahan? Jawabannya adalah sabar dan bersyukur. Ketika kita bersabar dalam setiap masalah, terutama musibah yang sedang kita alami maka kita akan diberikan oleh Allah pahala tanpa batas.


Allah Ta’ala berfirman, yang artinya: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. Bertakwalah kepada Tuhanmu”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. “(QS. Az-Zumar :10).

__ADS_1


Sabar dalam menghadapi masalah menjadi salah satu pengukur keimanan kita kepada Allah. Lihat saja di dunia ini! Orang yang tak bisa bersabar dalam masalahnya, kebanyakan mereka tak memiliki keimanan kepada Allah sehingga mereka melakukan jalan-jalan yang dilarang, bahkan dari mereka ada yang melakukan bunuh diri.


Saat kita bersabar maka Allah juga akan mengangkat derajat keimanan dari diri kita. Jadi, keberkahan apa yang lebih besar ketimbang diangkat derajatnya dan diberikan pahala tanpa batas  oleh Allah ‘Azza wa Jalla?


Dalam menghadapi masalah tidak hanya kesabaran yang diperlukan tetapi juga rasa syukur. Jika kita hanya menggunakan sabar saja sebagai senjata maka kita tidak akan merasakan kebahagian dalam masalah kita. Lain halnya jika kita bersyukur, dengan syukur kita dapat melihat kenikmatan dari setiap masalah yang ada.


Usai mendapatkan pesanan sang ibu mertua Dhena pun berinisiatif untuk menyusul ibu mertuanya itu kedai bakso yang tadi sudah disebutkan oleh Bu Aida.


Dhena menyapukan pandangan ke segala arah. Berharap menemukan sosok Bu Aida di kursi yang berjejer rapi yang sudah disediakan oleh yang punya kedai. Tapi, ibu mertuanya itu tak nampak batang hidungnya. Entah di mana keberadaannya saat ini. Sehingga Dhena berniat untuk segera pulang kembali ke rumahnya seorang diri. Karena Dhena merasa tubuhnya sudah sangat letih terutama di bagian telapak kakinya yang sangat terasa penat.


"Dhena, kamu siapa di sini?" tanya seorang pria dari arah sampingnya. Dhena menoleh memastikan siapa orang yang menyapanya.


"Mas Gagah?"


"Tadi saya baru dari apotek yang berada di pasar ini." Gagah menjelaskan tanpa diminta oleh Dhena. Selain pekerjaannya di rumah sakit, dokter muda nan tampan itu pun sedang mengawali bisnis di apotek miliknya yang ia bangun di tempat yang cukup strategis seperti di pasar ini.


Karena melihat Dhena yang sudah kelelahan membawa dua keranjang belanjaan yang beratnya lebih dari sepuluh kilo karena tadi Bu Aida memasukan sekarung kecil beras dengan berat sepuluh kilo ditambah bahan sembako lainnya menjadi Dhena kewalahan. Gagah pun kembali memaksa Dhena untuk mengantarnya pulang. Dhena yang merasa hampir pingsan pun tak bisa menolak walaupun resikonya mungkin akan terjadi tragedi seperti kemarin-kemarin bahkan lebih dari itu. Tapi Dhena mengabaikannya.

__ADS_1


__ADS_2