
"Hai ... Lina, Mba," sapa Izal kikuk. Pasalnya dia merasa jadi bahan perhatian mereka bertiga.
"Hai ... Om! Jangan begitu, kok melamun. Ayo masuk!"
"Dek, bawalah Om sama Kakek Danu lewat pintu sana. Di ruang tamu lagi ada tamu,"
"Zal, ajak Bapak Ibu lewat situ ya. Mba lagi ada tamu," ucap Aini.
"Lin, jangan bengong terus. Sambut tuh camer," ledek Aini. Membuat kedua sejoli itu merona. "Sudah, nggak usah dipikirin, dia sudah di hadapan kamu kan?" ledek Aini lalu kabur ke rumah. Dilihatnya Mira sedang mengamati isi ruangan, kaget dengan kedatangan Aini.
"Astaghfirullah, Aini. Aku kaget,"
"Kenapa kaget? Memang apa yang sedang Mba Mira lakukan?" mereka terdiam begitu lama.
"Mba, kalau kita mau diam-diam seperti ini mending aku masuk menemui tamu itu. Serasa nggak ada manfaat rasanya. Kalau Mba sudah mau pulang, aku panggil Mas Fitra," ucapku memberi solusi yang artinya mengusir secara halus.
"Ai, Mas pamit dulu ya. Nggak enak kalian ada tamu itu. Mir, ayo kita jalan. Nggak baik berlama-lama dalam bertamu, untung tadi aku nggak memperkenalkan diri sebagai saudaramu, sama Mas Al. Jika iya aku sudah malu setengah mati,"
"Mas Fitra, itu ... ngaku sama aku," Aini tertawa lepas.
"Kalau sama kamu nggak apa, Ai. Kamu sudah tak anggap seperti adik sendiri sejak dulu," ucap Mas Fitra.
"Aku minta maaf ya, Ai. Benar-benar nggak tau tujuan Mira kemari, dia hanya bilang mau ke rumah teman lamanya. Makanya tadi aku kaget ketika Mira mengutarakan maksudnya. Bukannya ketika punya niat seperti itu tidak harus datang kesini? Sekarang jaman canggih. Maaf kalau bikin kamu nggak nyaman,"
"Nggak apa Mas, jika suatu saat lewat mampirlah. Rumah kami terbuka lebar buat Mas Fitra,"
"Kami pamit ya, Ai. Ayo, Mira! Aini ada tamu, kita disini sudah lama,"
__ADS_1
"Aku masih pengin disini. Mas Al belum menemui aku lagi,"
"Ish ... memalukan!" ucap Fitra tanpa bicara dia menarik tangan Mira untuk pergi dari rumah Aini.
Aku mengantar mereka sampai ke teras rumah. "Mas Fitra, kalau berkunjung ke rumah Fikri sekalian ke rumahku lagi ya, Mas,"
"Siap, InsyaAllah. Mas pamit ya, tadi sudah pamit sama Mas Al,"
"Hati-hati, Mas. Besok pagi jika mau jalan pulang kabari kami, Mas," ucap Aini. Mobil perlahan meninggalkan halaman rumah. Begitu tak terlihat Aini menemui keluarga Izal.
"Bu Yuli, apa kabarnya?"
"Alhamdulillah baik, Mba Ai. Sudah pulang tamunya?"
"Sudah, Bu. Aini nempel sama siapa itu?"
"Bunda, Nenek ini ibunya Om Izal," ucap Aini menerangkan sama Bundanya.
"Kalau itu ibunya Om, kenapa kamu yang nempel. Harusnya itu om yang disitu," protes Izal.
"No ... nggak bisa, Om. Nenek nggak kuat kalau Om disini," jawab Alia.
"Jadi gini, Mas Al. Bapak mau minta maaf pada kalian semua, atas sikap Izal yang ceroboh. Bapak kecewa dengan sikap Izal yang di ambil kemarin. Tak habis pikir, bikin gelisah banyak orang. Padahal lulus dengan nilai terbaik kok menyelesaikan masalah seperti itu nggak bisa," ucap Pak Danu serius membuat suasana hening.
"Lina, Abang minta maaf. Kamu pasti kecewa dan berfikir macam-macam mengenai kami. Tapi kami disana tak hanya berdua, ada suster yang menemani kami, aku nggak macam-macam. Memang Abang kasihan melihat Virna seperti itu, tapi kalau cinta sudah tak ada lagi hanya tertinggal rasa benci untuk dia,"
"Bang, benci dan cinta hanya beda tipis. Ketika membenci menjadikan kita selalu mengingat, begitu juga dengan cinta. Cinta juga menjadikan kita selalu mengingat. Itu artinya Bang Izal belum selesai dengan perasaan ke Virna. Mohon maaf, aku nggak mau kita menikah terburu-buru yang nantinya justru akan membuat luka baru kembali. Aku nggak mau menikah dengan orang yang masih tersisa dengan masa lalunya,"
__ADS_1
"Abang sudah minta maaf, Lin,"
"Aku memaafkan, tapi kalau harus menikah sesuai rencana aku masih belum siap. Jika kita memang berjodoh tentu akan menjaga hati kita condong agar tak bisa berpaling,"
"Lin, kamu jangan seperti itu. Aku nggak ada cinta lagi sama Virna,"
"Bang, maaf. Aku belum yakin lanjut, jika Abang sudah nggak ada rasa sama Virna tentunya hanya cukup mengantar tak perlu menunggu. Bukan aku egois, mau menguasai kamu, Bang. Tapi ini berkaitan dengan kepercayaan. Bagaimana kita bersikap terhadap lawan jenis ketika pasangan kita sedang tidak berada di dekat kita, yang mau kita jalani bukan perkara yang hanya berlangsung beberapa hari atau beberapa bulan, tapi akan kita jalani seumur hidup kita,"
"Lina, tolong mengerti posisi Abang saat itu,"
"Bang, justru karena aku berusaha mengerti. Tapi hatiku yang nggak mau mengulang kesalahan yang sama. Bukankan Abang bilang awal kalau Virna pingsan, orang pingsan mana ada bisa menghalangi kamu untuk tidak pergi. Maaf, jika keputusanku melukai kamu. Pak, Bu, ... maafkan Lina. Lina ragu untuk melangkah, maaf kalau aku masih mengingat trauma ini. Aku hanya butuh bukti, kenyataannya Bang Izal melakukan hal yang sama dengan yang di lakukan dia. Maaf ...,"
"Lin, Ibu sangat mengerti perasaan kamu. Tadi pagi Ibu sudah telpon Mamamu, beliau sudah menceritakan semuanya. Jadi ibu sangat paham jika kamu punya pikiran seperti itu," ucap Bu Yuli. Izal tertunduk merasa kecewa dengan ucapan Lina, lebih kecewa dengan perbuatan dia sendiri.
"Lina, bagaimana cara Abang menyakinkan kamu?" ucap Izal memohon.
"Bang, kasih waktu beberapa hari ini. Biarkan aku sendiri dulu, jangan terus mendesak. Ketika di desak justru aku semakin takut mengambil keputusan. Aku bukan membatalkan, hanya menunda," ucap Lina.
Izal mau berbicara lagi namun Al memberikan kode kepada Izal untuk tidak mendesak kembali. Al yakin pernikahan mereka akan berjalan sesuai dengan yang direncanakan, Lina hanya butuh waktu agar menerima yang terjadi dengan Izal semalam.
"Zal, maaf. Biarkan dia tenang dulu, aku yang menjamin Lina nggak akan lari," ucap Izal sambil tertawa.
"Kamu harusnya belajar dulu sama Bapak atau Mas Al, Zal. Bagaimana cara memperlakukan wanita," seloroh Bapak sambil terbahak. Para wanita tidak paham dengan maksud Bapak, mereka hanya terbengong ,sementara Al sudah ikutan tertawa.
"Zal, jangan bersikap seperti itu. Meskipun bapak kecewa sama kamu, tapi kamu juga adalah anakku jadi akan bapak bantu. Membantu kamu menyadari kesalahannya dimana dan tak mengulanginya kembali," ucap Bapak melihat Izal kebingungan. Lina ikut tertawa sudah mulai memahami apa yang mereka tertawakan.
"Aku juga siap bantu, Zal. Nanti private dulu sama aku ya,"
__ADS_1
"Terus bagaimana caranya?" tanya Izal polos. Sontak dapat amukan dari bapaknya, bantal sofa mendarat tepat di muka Izal.