Ujian Kesetiaan

Ujian Kesetiaan
Permintaan Bu Aida


__ADS_3

***


Bu Aida mengajak Fathan dan Hariz untuk menemui Nelly di sebuah cafe yang terletak di pusat kota. Bu Aida mempunyai rencana sendiri mengatur pertemuan itu.


"Coba kamu pikir lagi, kalau kamu punya istri seperti Nelly. Setiap kamu bepergian kamu bisa membawa mobil, lho, Riz. Bukan sepeda motor butut seperti ini lagi," ujar Bu Aida terus berusaha menghasut anak laki-lakinya itu.


"Kalau naik mobil, kan, enak gak bakal kehujanan, kepanasan. Ibu ingin melihat anak cucu Ibu bisa hidup sejahtera, Riz, gak hidup susah dan kekurangan terus," tutur Bu Aida sambil duduk di jok motor belakang dibonceng Hariz. Sedangkan Fathan duduk di depan Hariz.


Hariz yang sebelumnya tak menyadari jika ia akan dipertemukan dengan Nelly hanya menurut saja. Karena sebelum berangkat Bu Aida bilangnya ia minta dianterin ke suatu tempat untuk bisa ikut kumpul sesama teman arisannya yang sudah rutin ia ikuti sebulan sekali.


Hariz memakai kemeja pendek berwarna navy dengan celana panjang hitam. Menambah penampilannya jadi terlihat begitu maskulin. Sedangkan Bu Aida memakai gamis panjang Yeng menutupi seluruh tubuh gempalnya dengan hijab lebar berwarna hitam.


Mereka bertiga berjalan beriringan, tangan kiri Fathan dituntun oleh Bu Aida mulai memasuki pintu utama cafe. Di meja yang terletak di paling ujung ruangan terlihat seorang wanita dengan jilbab modisnya sedang duduk anggun seorang diri. Bu Aida dengan langkah tergesa segera menghampiri perempuan itu yang tak lain ternyata Nelly.


"Bu, katanya Ibu mau ngumpul bareng teman-teman arisan Ibu? Kenapa malah ada wanita itu di sini, Bu?" cecar Hariz merasa heran.


"Gak apa-apa, lah, Riz. Gak sengaja ketemu Nelly di sini," bisik Bu Aida tepat di sebelah telinga anak laki-lakinya.


"Kalau begitu biar Hariz dan Fathan nunggu di luar saja, Bu," ucap Hariz seraya menuntun tangan Fathan.


Tangan kanan Bu Aida dengan sigap mencekal pergelangan anak laki-lakinya itu.

__ADS_1


"Ikut duduk sama Ibu saja di sana," sergahnya kemudian.


Nelly yang sudah melihat kedatangan Bu Aida dan Hariz yang hanya berjarak beberapa meter saja dari mejanya seketika berdiri untuk menyambut kedatangan orang-orang yang sudah ditunggunya sedari tadi.


Sorot mata Nelly dan Hariz bertemu sekilas. Membuat hati wanita berparas ayu itu berdegup kencang.


'Mas ... Seandainya kamu tahu jika aku selama ini sangat merindukanmu. Aku butuh sosok pria sepertimu, Mas, yang selalu membuat hati ini selalu terasa damai di saat kita bisa menghabiskan waktu berdua,' lirih Nelly dalam batinnya.


Entah kenapa setiap kali Nelly bertemu dan memandang sorot mata Hariz, ia seakan merasa jatuh cinta untuk kesekian kalinya. Hatinya terasa seperti berbunga-bunga jika tak sengaja berpapasan dengan Hariz. Itulah alasan Nelly tidak bisa berpindah ke lain hati walaupun hati kecilnya ia menyadari ada perempuan lain yang sudah lebih dulu bertahta di hati laki-laki yang ia harapkan itu, yaitu Dhena.


"Silakan duduk, Bu, Mas," ucap Nelly menyilakan tamunya yang baru datang.


"Sini, Fathan duduk bareng Tante," ajaknya sambil menjawil pipi Fathan.


Fathan memang sudah terbiasa bersikap jutek ketika ia baru bertemu dengan orang yang belum dikenalnya.


Dalam pertemuan itu Bu Aida berusaha meminta Hariz untuk kembali rujuk dengan Nelly. Dengan alasan karena saat ini di dalam rahim Nelly sedang tumbuh benih janin dari Hariz sendiri. Setidaknya ketika waktunya Nelly melahirkan nanti setatus wanita itu sudah kembali bersuami. Tidak menjanda seperti sekarang.


Nelly sangat khawatir jika bayinya lahir tanpa sosok ayah disampingnya. Hingga ia berusaha semampunya untuk membujuk Bu Aida agar anak lelakinya itu bisa kembali menjadi suaminya. Hingga wanita itu hampir tiap dua Minggu sekali mendatangi rumah Bu Aida sambil membawakan makanan, buah-buahan kesukaan ibunya Hariz. Bahkan sempat meminjamkan sejumlah uang yang nominalnya cukup lumayan banyak kepada Bu Aida untuk membayar hutang kepada bank keliling.


Sebelumnya Bu Aida sudah memohon kepada Hariz untuk tidak mengecewakan ibunya itu dengan tidak menolak untuk kembali rujuk dengan Nelly. Karena ditekan dan tak sampai hati menolak kemauan sang ibu akhirnya dengan berat hati Hariz kembali mengeluarkan kata rujuk kepada wanita yang pernah dinikahinya itu dengan disaksikan oleh Bu Aida.

__ADS_1


Nelly sangat terharu karena impiannya untuk bisa kembali ke dalam pelukkan Hariz akhirnya bisa terlaksana. Hingga tak terasa wanita muda itu menangis bahagia seraya mencium punggung tangan Hariz dengan begitu takzim.


"Mas, aku minta jangan pernah tinggalkan aku lagi. Saat ini aku benar-benar butuh kamu untuk menguatkan aku. Karena sekarang Mama harus tinggal dibalik jeruji besi karena ulahnya yang tanpa sepengetahuanku," lirih Nelly mengungkapkan semua isi hatinya.


Bu Aida tersenyum puas dan bahagia melihat Hariz bisa bersatu kembali dengan Nelly, wanita yang sudah banyak memberikan limpahan materi itu kepadanya. Khayalan bisa hidup enak terpampang dalam benak Bu Aida.


"Hariz, hari ini kamu harus pulang ke rumah Nelly dulu. Kasihan dia di rumah kesepian. Karena sudah beberapa bulan kemarin sempat kamu tinggalkan." Bu Aida memberikan saran.


"Biar Ibu dan Fathan pulang pakai taxi online saja, sekalian menemani Dhena nanti di rumah," sambung perempuan setengah baya itu kepada anak laki-lakinya.


Bola mata Nelly berbinar mendengar saran dari Bu Aida barusan. Ibunya Hariz seakan memahami apa yang diharapkan oleh Nelly.


"Tapi, Bu. Dhena butuh aku saat ini," sangkal Hariz kemudian.


"Gak ada tapi-tapian," sela Bu Aida mendelikkan kedua bola matanya ke arah Hariz, seraya berlalu meninggalkan mereka berdua sambil menuntun tangan mungil Fathan, cucunya ke arah pintu luar.


Nelly tersenyum manis ke arah Hariz. Rasa bahagia terpancar dari rona wajah dan binar matanya. Sedangkan Hariz membuang pandangan ke arah lain. Berharap matanya tak bertemu dengan tatapan wanita yang kini masih duduk di hadapannya.


"Kamu gak keberatan, kan, Mas, kalau sekarang kita pulang ke rumahku?" tanya Nelly memastikan.


Hariz bergeming. Tak satu patah kata pun keluar dari bibirnya sebagai jawaban dari pertanyaan yang tadi dilontarkan oleh Nelly untuknya.

__ADS_1


Nelly sangat memaklumi keadaan hati Hariz yang saat ini belum siap untuk kembali kepadanya. Wanita itu berusaha mengabaikan sikap acuh Hariz. Yang penting untuk Nelly sekarang dia sudah bisa kembali menjadi istri sahnya Hariz. Sudah sangat cukup membuatnya sangat-sangat bahagia tak terhingga.


Nelly memberanikan diri mengulurkan tangannya untuk menggenggam jemari pria yang berada di hadapannya sambil berkata pelan, "Mas, ayo kita pulang sekarang!" ajaknya kemudian seraya bangkit dari duduknya.


__ADS_2