
Alia terbengong melihat ayahnya menjemput dengan membonceng nenek-nenek, tapi bukan neneknya. Alia mematung tidak mendekat, membiarkan ayahnya turun terlebih dahulu. Alia memilih menunggu digerbang. Al pun mendekat, paham dengan sikap anaknya yang kemungkin bingung belum pernah bertemu dengan neneknya yang satu ini.
"Anak ayah masih disitu, ayo sini. Bingung ya, siapa yang bersama ayah" sambil memegang pipi anaknya gemas.
"Sini ayah kenalkan dulu," Al menggandeng tangan anaknya untuk mendekat kearah budhe Surti.
"Ini nenek sayang, dulu adek pernah ketemu waktu masih bayi. Jadi ayah rasa adek nggak tau" Alia mengangguk lalu mendekat kearah neneknya untuk bersalaman.
"Nenek, kenalkan namaku Alia" dengan ekspresi lugu dan lucu.
"MasyaAllah cucu nenek" neneknya langsung mengangkat tubuh Alia yang imut dan menggendongnya. Lalu dibawa ke bocengan Al.
"Al, kamu nggak jemput istrimu sekalian?"
"Nggak budhe, jam segini belum pulang palingan nanti membonceng temannya atau jalan nanti"
"Kebangetan kamu Al, membiarkan istrimu jalan" Ah budhe kenapa aku selalu salah, padahal sebelumnya kami sudah komunikasi. Aku jadi merasa bersalah, betul juga ya aku kebangetan, tapi justru bagus nanti akhirnya dia capek terus ikuti mauku yaitu resign, Al tertawa dalam hati. Andai pakdhe dan budhe tau kalau aku sama Aini lagi perang dingin gimana tanggapannya ya. Mudah-mudahan Aini pulang gasik seperti kemarin.
"Al rumahmu kelewat, lagi mikirin apa si? untung jalan di gang desa, kalau dijalan raya gimana? ngeri kamu Al" teriak budhe.
"Budhe Al nggak melamun, cuma mau ke warung dulu tadinya. Beli jajan buat Alia"
"Alia dari tadi diam Al, nggak minta jajan. Dah putar balik saja, lagian budhe juga bawa jajan buat cucu tadi" Al pun putar balik menuju rumahnya.
"Bisa-bisanya melamun pas bawa motor," sampai rumahpun budhenya masih ngomel tidak jelas.
__ADS_1
---------------------------------------------------------------
🌷AINI🌷
Kuraih handphone dimeja kerjaku, kubuka dan nggak ada pesan sedikitpun dari suamiku. Astaghfirullah, kayaknya suamiku masih kesal, padahal aku sangat yakin kalau mas Al sudah pulang jemput Alia biasanya akan menanyakan pulang jam berapa untuk dijemput sekalian. Sebaiknya aku kabari mas Al tentang kegiatanku hari ini supaya tidak salah paham, semoga mas Al bisa memahami posisiku. Keterlaluan kalau sampai mas Al tidak mengerti posisiku. Aku kerja juga demi keluarga, bukan semata karena kesenangan pribadi. Resiko punya istri wanita karir harus paham dengan segala keterbatasannya. Pesan saja lah, pikirku kondisi saat ini kami lagi canggung mending menggunakan pesan daripada tlp. Setelah berkirim pesan Aini menunggu balasan dari suaminya. Sebentar-sebentar dilihatnya lagi hp, sudah centang 2 tapi belum berubah warnanya. Ya Allah pasti mas Al masih marah sama aku, bagaimana ya Allah. Setengah jam kemudian baru dibaca pesan dari suaminya.
"Terserah kamu saja Ai, mas akan berusaha memahamimu. Budhe Surti lagi disini" balasan dari Al suaminya.
Nada balasan dari suaminya masih menujukan kekesalan. "Apa budhe Surti disini? baiklah aku harus ijin" Aini bergegas bangkit untuk menuju ruang kepala sekolah. Melalui perdebatan yang sangat alot akhirnya Aini diijinkan pulang lebih awal, untuk bimbingan lomba olimpiade dilimpahkan kepada Bu Yuni. Aini berjumpa dengan Bu Yuni menyampaikan bahan pengayaan persiapan lomba kepada beliau. "Alhamdulillah, akhirnya bisa pulang lebih cepat, jam 2 mana cepat, sama saja. Tapi nggak apa lah paling tidak bisa ketemu budhe" Aini bermonolog dalam hati. Aini kembali mengirim pesan kepada suaminya untuk dijemput. Sama seperti tadi, lama sekali dibaca pesan dari Aini, "padahal kamu online loh mas" Aini kesal sendiri. Aini memutuskan untuk jalan kali, nunggu dibaca palingan nanti sore, batin Aini kesal.
Sampai rumah benar saja Al tidak membalas, mereka sibuk bercanda ria dengan karyawan dibelakang, selain itu anaknya juga sedang bermain diruang keluarga dengan nenek dan kakek yang baru ketemu.
"Assalamualaikum, MasyaAllah budhe kapan datang?" menyalami budhe Surti dengan takzim. Begitu juga dengan pakdhe Aini menelungkupkan kedua tangan didepan dada sambil mengucap salam dan disertai senyum sumringah.
"Wa'alaikumussallam," mereka serempak.
"Tahunya sudah hampir setahun kalian disini. Budhe rumahnya nggak jauh dari sini Ai"
"MasyaAllah ternyata, tahu gitu kami sudah main kesana ya budhe?"
"Besok-besok giliran kalian yang harus main ketempat budhe" ucap budhe Surti mantap.
"Siap budhe"
"Maaf ya budhe, panas nggak ada AC" menyadari budhenya masih kegerahan meski pakai kipas angin.
__ADS_1
"Haha....kamu ini, nggak usah minta maaf. Besok segera cari tempat baru yang lebih luas. Apa pindah ketempat budhe aja Ai?" seloroh budhe Surti.
"Bolehlah budhe, haha"
Al datang dari belakang, melihat istrinya sudah ada ditengah-tengah pakdhe dan budhenya. Dia mengurungkan diri masuk ke rumah, dilihatnya hp yang ada dimeja tempat dia bekerja. "Oh....pantesan sudah dirumah. Rupanya Aini mengirimi pesan ke hpnya dari 30 menit yang lalu, palingan dikira aku ngabek. Biar saja lah mana tahu jadi melunak pendiriannya" ucap Al dalam hati.
Rupanya kejadian Al hampir masuk ke rumah namun balik lagi tak luput dari pengamatan budhe Surti. Beliau paham sekali dengan raut Al ke istrinya sedang tidak baik.
"Ai, kamu baik-baik saja kan?"
"Baik kok budhe, memangnya kenapa?"
"Nggak apa nduk," Surti memberi kode kepada suaminya untuk menjauh.
"Pak, tadi ibu pesan sama Mak Dang buat merebus ubi, sudah jadi belum ya?"
"Pakdhe kebelakang dulu ya Ai, yuk ikut dek rebusan ubinya sudah matang kayaknya" menggandeng tangan cucunya. Sepeninggal mereka berdua suasana menjadi sedikit canggung.
"Nduk, budhe tahu kalian lagi saling mendiamkan, mungkin bukan hanya budhe, anak buah kalian pus pasti paham sekali kalau kalian lagi nggak akur meskipun budhe nggak tau apa akar permasalahannya. Budhe nggak tahu masalah kalian apa tapi pesan budhe segera selesaikan dengan kepala dingin. Kalian jauh dari keluarga, harus bisa saling berpegangan tangan, saling menguatkan. Segera bicarakan ya, jangan sampai melebihi 3 hari nanti kalian dilaknat sama Allah, na'udubillahimindzalik jangan sampai" Aini masih menunduk mendengarkan budhe Surti. Tidak ada kesan menyalahkan sedikitpun, meski saudara dari suami tapi tidak lantas membela Al.
"Budhe sangat paham siapa kamu, kenapa Al memilihmu untuk menjadi pendampingnya, dulu Al sangat susah dekat dengan wanita padahal banyak yang suka, segera selesaikan ya Ai" dengan tatapan sayang.
...-------------------------------------------------------...
...Sebanyak apa pun cinta dalam sebuah pernikahan, jika tanpa komunikasi yang baik, hanya akan menyisakan kisah menyakitkan....
__ADS_1
...❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️...