
Fathan dan Reza yang hidup bersama ibu sambung membuat kedua anak laki-laki itu mau tidak mau harus di hadapkan dengan kejadian-kejadian yang membuat mereka tertekan dan penuh duka.
Sikap Sandra yang kerap kali memperlakukan kedua putra Hariz dengan kasar dan tanpa belas kasihan membuat adik kakak itu menjadi anak-anak malang yang hidupnya jauh dari kasih sayang yang seharusnya mereka dapati dari kedua orang tua kandungnya.
Sandra duduk di depan meja rias mewah miliknya di dalam kamar. Ia terlihat sedang memoles wajah dengan berbagai macam makeup brandednya. Sejak dari statusnya masih single ia sudah terbiasa hidup dengan glamor dan bisa mendapatkan barang mewah secara mudah dengan hasil keringatnya sendiri. Kerja kerasnya selama bertahun-tahun tak sia-sia karena sudah banyak membuahkan hasil dan mampu membuat bangga sang ibu dan keluarga besarnya.
wajah ovalnya yang berkulit putih menambah aura kecantikannya semakin bertambah. Sandra memutar badan di depan cermin besar yang menempel di dinding tembok kamar. Melihat pantulan dirinya yang sudah berpenampilan cantik paripurna.
"Fathan, kamu gak usah main ke luar rumah, ya, jaga adikmu yang benar!" titah Sandra sambil berlalu meninggalkan kedua anak sambungnya yang masih terbengong.
Sandra melenggang ke luar rumah diikuti tatapan nanar dari kedua pasang mata anak laki-aki yang kemudian saling bersitatap satu sama lain.
Sandra kemudian menyalakan mesin mobil yang sudah sedari tadi ia panaskan terlebih dulu. Kemudian mengeluarkan kendaraannya dari garasi dan melajukkannya perlahan. Meninggalkan pekarangan rumah yang di dalamnya terdapat dua anak kecil yang masih butuh pengawasan.
Setelah beberapa menit, Sandra memarkirkan kendaraan roda empatnya di halaman sebuah mall besar yang berada di daerah tempat tinggalnya. Wanita dengan pakaian tunik berwarna putih itu pun menuju pintu lantai 3 dengan menggunakan lift. Bangunan itu khusus untuk restoran siap saji yang sudah menjadi langganan Sandra dan teman-teman nongkrongnya.
"Sandra, sini!" Dari jarak beberapa meter saja seorang wanita melambaikan tangannya ke arah Sandra yang disambut dengan anggukkan kepala oleh wanita berkulit putih itu.
"Aku sudah pesankan minuman dan makanan kesukaanmu tadi," tutur Sarah sahabat Sandra yang kini sudah duduk menunggunya dari tadi.
"Emang kamu tahu minuman favoritku?" selidik Sandra tersenyum ke arah Sarah.
"Jus alpukat, tho?"
__ADS_1
"Kok, tahu?" Sandra balik bertanya.
"Tahu banget, lah, apa sih yang gue gak tahu tentang Lo,' jawab Sarah kemudian.
"Ox, makasih ya, Sar." Sandra mendaratkan pinggulnya di kursi yang berhadapan langsung dengan sahabat karibnya itu.
Tak lama pesanan pun datang. Yang langsung disimpan di hadapan Sandra dan Sarah. Sandra langsung menyedot minuman dinginnya itu hingga menyisakan separuh gelas.
"Kamu ada perlu apa sih, San, hingga mengajakku ketemuan di sini?" tanya Sarah penasaran.
"Gue butuh tempat curhat, Sar. Tempat yang membuatku merasa nyaman dan aman ya, sama Lo," ungkap Sandra.
"Yaudah gue akan selalu siap menjadi pendengar setia setiap curahatanmu itu," ungkap Sarah tulus.
"Aku bosan di rumah terus. Kangen hidup bebas seperti dulu lagi. Ketika kita bisa nongkrong, makan dan ngobrol bareng bersama teman-teman kita yang lain.'
"Lah, kenapa? Bukannya setelah menikah akan menjadi hidup jauh lebih baik dan bahagia, tho?" Sarah menanggapi.
"Dulunya pun aku sempat berpikir seperti itu, sih, tapi semua ekspektasiku tak seindah kenyataan yang harus kudapati. Suamiku seperti tidak menganggap dan mengakui jika aku saat ini adalah istri sahnya. Mas Hariz terlihat seperti masih memikirkan mantan istrinya. Hingga kadang aku kepikiran ingin menyudahi semuanya." Panjang lebar Sandra pun meluahkan isi hatinya di hadapan Sarah, sahabat setianya itu.
Sarah meletakan garpu yang ia pegang di pinggir piring miliknya. Kemudian berucap, "Sabar, San, karena memang hal seperti itu pasti sudah menjadi risiko untuk perempuan yang menikah dengan laki-laki yang cerai hidup. Pasti akan berbanding balik dengan orang yang menikah yang alasannya karena ditinggal cerai mati oleh pasangan." Sarah berusaha memberikan pandangan.
"Yang gue bikin gedek, nih, ya, kenapa mesti gue yang harus mengurus kedua anak laki-laki nya Mas Hariz itu. Kenapa gak dikasihkan ke ibunya saja. Biar gue gak bete karena setiap hari harus menjaga dan mengasuh kedua bocah yang masih ingusan itu." Sandra masih terus meneruskan dan menumpahkan isi hatinya.
__ADS_1
"Sudah Lo coba, belum? selidik Sarah yang dijawab dengan anggukkan kepala dari Sandra sambil menatap ke arah Sarah.
"Aku sudah sering membujuk Mas Hariz untuk mengembalikan Fathan dan adiknya kepada ibu kandung mereka. Tapi, begitulah, suamiku masih kekeuh untuk terus agar katanya jangan sampai dirinya dipisahkan dengan kedua buah hatinya." jelas Sandra kemudian.
***
"Kak, aku lapar. Mau makan sekarang," rengek Reza kepada Fathan, kakaknya yang sedang menemaninya bermain di dalam rumah.
Anak yang masih berusia tujuh tahun itu pun segera bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah belakang yang terdapat meja makan di sana. Ia membuka tudung saji yang tergeletak di meja makan untuk memastikan isi yang diri
utup oleh benda yang terbuat dari bahan plastik itu.
Hati anak laki-laki itu seketika kecewa saat tak dijumpainya sepotong makanan pun yang tersedia di balik tudung saji barusan.
"Kak ... Cepat. Ambilkan aku makan." Sedangkan Reza masih terus merajuk dan mulai mengeluarkan jurus nangisnya. Yang membuat sang kakak menjadi bertambah kebingungan.
Langkah kaki kecil Fathan menuju kulkas yang terletak di bagian dapur. Tangan mungilnya lalu membuka pintu lemari es itu secara perlahan berharap bisa menjumpai sepotong makanan untuk mengganjal perut sang adik. Padahal, perut dirinya pun sedang sama-sama merasakan perih dan melilit karena sedari pagi tadi Fathan baru sarapan sedikit.
Fathan harus merasa kekecewaan untuk kedua kalinya ketika pintu kulkas berusaha ia buka. Tapi, di dalam sana ke dua netranya tak satu pun menangkap seonggok makanan atau jajanan yang bisa diberikan kepada sang adik tercinta yang mulai terisak karena merasa kelamaan menunggu sang kakak mengambilkan makan untuknya.
Hanya ada bahan-bahan mentah yang tak bisa langsung dimakan saat itu juga oleh kedua anak-anak malang itu.
Karena Sandra sendiri dengan sengaja meninggalkan Fathan dan Reza tanpa sepotong makanan apa pun yang bisa mereka ambil dan mereka makan. Dengan harapan karena perlakuannya itu kedua anak suaminya bakal merasa tak betah selama hidup dalam pengasuhannya dan meminta dibalikkan kepada ibu kandungnya.
__ADS_1
Sandra pikir, jika anaknya langsung yang meminta maka Hariz tidak akan bisa menolak kemauan anak-anaknya. Dan ia sendiri bisa mendapatkan perhatian yang penuh dari Hariz.