
"Mbak orang baru ya, belanjanya banyak banget seperti mau buat warga 1 RT," ucap ketus wanita persis berdiri di depanku.
"Iya Bu saya orang baru, baru pindah kemarin. Salam kenal ibu-ibu saya Aini ini anak saya Alia," menjabat tangan satu persatu ibu-ibu yang berbelanja. Satu orang yang tidak mau berjabat tangan alasannya tangannya lagi tanggung pegang.
"Bu Irma kebiasaan, kalau ada yang kenalan itu ya disambut" ucap Bu Ida.
"Halah, aku juga sudah dengar tadi dia menyebut namanya Mbak Aini kan? Sudah tahu ya sudah, itu ayamnya jangan semua mbak Aini, aku juga mau," masih dengan nada ketus.
"Oh Bu Irma mau, silahkan buat Ibu saja. Biar saya beli lainnya"
"Aku cuma mau ½ kg, masih banyak kan? memang mau beli berapa kilo?"
"Nggak banyak kok Bu, ini sudah cukup"
"Besok-besok seprei atau gorden bisa tuh dipakai buat jilbab, lebar banget apa nggak risih, membayangkan saja sudah ribet," ujar Bu Irma. Ibu-ibu yang ada disitu geleng-geleng kepala mendengar ocehan Bu Irma yang frontal dan tak masuk akal. Tidak ada satupun yang menyahut termasuk Aini hanya diam tak menanggapi sedikitpun.
"Bu Aini, loh kok disini setahuku Ibu tinggalnya nggak disini?" tanya Nenek Thoriq. Thoriq salah satu murid yang istimewa membuat jantung Aini berpacu lebih cepat saat itu bersama Ridho.
"Iya Nek, sekarang kami pindah ke rumah yang depan itu,"
"Jadi Bu Aini yang menyewa rumah keluarga Agus? pindahan kapan Bu?"
"Betul nek, kami pindahan kemarin, Nenek apa kabarnya?"
"Alhamdulillah baik Bu Aini, Alhamdulillah kapan-kapan kami bisa main kerumah Bu Aini,"
"Siap Nek, dengan senang hati," dengan senyum merekah.
"Nek, yang lain disapa juga masa yang disapa hanya satu orang,"
"Kak Irma, maafkan. Karena saking terharunya ketemu guru cucuku disini"
"Oh MasyaAllah jadi Mbak Aini guru Thoriq di SDIT As-Syifa?"
"Betul Bu Ida"
__ADS_1
"Pantesan terasa sangat familiar, kaya pernah lihat gitu. Pernah beberapa kali jemput anak, tapi yang setiap hari menjemput bapaknya jadi maaf kalau saya tidak mengenali,"
"Nggak apa Bu Ida, sangat dimaklumi," Aini terus menggandeng anaknya. Melihat jam yang melingkar dipergelangan tangan menunjukan pukul 05.45 dia bergegas menyelesaikan belanjaannya.
"Bu, sudah ini, jadi semuanya berapa?"
"Saya hitung ya Mbak," sambil membawa belanjaan kemeja dimana dia duduk tadi.
"Jangan diambil hati perkataan Bu Irma ya Mbak, biasa itu orang memang suka cari gara-gara, kenalkan saya Nita," ucap pedang itu lirih.
Setelah mengucapkan terimakasih dan berpamitan Aini meninggalkan kedai sayur tersebut. Aini tidak peduli dengan sikap Bu Irma yang masih terus melihat kearahnya, entah tatapan apa Aini tidak bisa mengartikan. Dan hidup bermasyarakat memang seperti itu, kita tidak bisa menuntut orang lain untuk selalu menyukai kita. Aini prihatin dengan Bu Irma, sikap beliau menandakan hatinya sedang sakit, hati yang sakit bisa berakibat badan ikutan sakit jika dibiarkan lama.
Aini hanya memasak omelette sayur pagi ini, menu terpraktis mengingat tadi harus belanja terlebih dulu untuk keperluan karyawannya, biasanya Mak Dang atau Lastri yang belanja sayur, namun kali ini Aini menyempatkan untuk perkenalan dengan ibu-ibu sekitar.
Pertama Aini mengantar Alia terlebih dulu, kemudian dia bergegas ke sekolah. Belum banyak yang tahu jika dirinya sebentar lagi hendak resign.
-----------------------------------
"Semoga kerasan kerja disini kak, disini tidak perlu bawa bekal, makan sudah tersedia dengan menu sederhana, syaratnya jujur dan disiplin serta ikuti aturan baik tertulis maupun tidak,"
"Silahkan bergabung dengan anak-anak dibelakang, nanti akan dikasih petunjuk sama yang lainnya, jangan memandangiku seperti itu," ucap Al merasa risih.
"Ma...maaf, siap Pak," wanita itu gugup dengan teguran bos barunya sementara dia sedang menatap kagum ketampanan yang terpampang didepannya.
Karyawan barunya bergegas kebelakang sesuai permintaan bosnya, dia ditempatkan dibagian pembungkusan bersama dengan tim Lastri. Berkenalan dengan semua karyawan, tatapan kagum kembali hadir setelah mengedarkan pandangan keseluruhan sudut ruangan.
"Kak, tahu darimana disini butuh karyawan,"
"Eh....iya....tahu dari Pak Burhan," Karyawan sudah paham siapa Burhan, pejabat RT setempat. Biasanya bosnya mengambil karyawan dari rekan atau saudara karyawannya.
"Kenapa gugup kak, disini kerjanya enak. Yang penting kerjaan beras cepat,"
"Begitu ya,"
"Kak, begini lihat Lastri dulu. Kalau begitu hasilnya kurang bagus. Tau sendiri kan, sasaran kita emak-emak jadi harus rapi, emak-emak itu suka tajam dan detail kalau menilai sesuatu," ucap Lastri bagai guru pembimbing.
__ADS_1
"Iya kak, terimakasih," sebenarnya dia merasa kata-kata Lastri menohok langsung ke ulu hatinya. Mengingat ucapannya tadi pagi, terus apa hubungannya mbak Aini di sini ya? dia ngontrak disini. Apa dia salah satu anggota keluarganya, kalau istrinya nggak mungkin, dia terlalu tertutup. Mana mungkin bosnya akan tertarik. Karyawan baru itu masih bermonolog dalam hati.
"Kak, hari pertama kerja sudah melamun. Nanti kalau bos tau bagaimana?"
"Maaf kak, jangan bilang ya please," dengan kalimat manjanya yang membuat lawan bicaranya jijik.
"Hai... kenapa kalian hanya liatin saja, ini sudah banyak lekas dipindah,"
"Mak lampir lagi beraksi, ayo Zal jangan sampai dia ngamuk," ucap suami Lastri sambil mengandeng Izal.
"Bang, jangan pakai gandengan segala, nanti dikira aku sudah belok bang," ucapnya memelas mengundang tawa semua karyawan termasuk yang baru.
"Kak Irma kalau mau mandangin ke yang ini atau itu saja, kalau yang lagi kak Irma pandang punya Lastri," ucap Mak Dang serius.
"Ha... aku memang lagi ngapa," kebingungan Irma membuat karyawan lain cekikikan.
"Kak nggak usah panik, kerja lagi kerja lagi," ucap Izal seolah menjadi bosnya.
"Ngopi ngopi, siapa mau kopi?" ucap Soleh.
"Mau," jawab mereka.
"Silahkan, ini kopinya, ini gulanya. Bikin sendiri sesuai selera,"
"Yah....padahal jelas-jelas Soleh masa nggak setia kawan,"
"Siapa bilang, dia setia jangan salah iya kan Leh? setia dengan statusnya yang masih terus jomblo," ucap Izal.
"Zal, Leh... pastikan packing nya dilebihkan. Tadi dari customer desa S mengatakan akan nambah tapi tidak jelas kepastiannya," tiba-tiba bos sudah dihadapan mereka.
Mak Dang terus mengamati karyawan barunya yang terus menatap bosnya, sejak dulu belum ada karyawan yang bertidak seperti itu. Arah mata Irma terus mengikuti arah bosnya berada.
"Ini kopinya bos," ucap Irma lembut, meletakan kopi dimeja bosnya. Sebenarnya karyawan lain sangat paham kalau bosnya tidak ngopi tapi biar saja. Meraka mikir kalau Irma buat kopi untuk dirinya sendiri ternyata buat bosnya.
...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...
__ADS_1