
"Ini si parah bangat, Lin. Kamu dapat darimana?" tanya Aini. Al dibuat penasaran mereka sibuk sendiri.
"Mas Al, makanya kalau berteman mesti kuat iman. Gini kan jadinya?" ucap Lina.
"Loh, kok aku? Aku nggak tau apa-apa kok," sergah Al.
"Siapa yang menyadap nomor Zaki? Kok bisa tau semua isi pesan dia," tanya Al penasaran.
"Ini semua ide Lina, jadi ini bisa jadi bukti kalau Sari terus mendesak. Sekarang biarkan saja dia mau apa?" ucap Izal.
"Memang di jebak, tapi pada dasarnya imannya lagi turun itu artinya. Di goda begitu langsung meleleh, mentang-mentang banyak duit itu, Zal?"
"Sayang, jangan mulai kenapa? Bisa kan kita berdamai,"
"Tentu saja kita berdamai, tapi tidak merubah keputusanku mau me time sejenak. Meski di jebak tetap saja hati kamu sudah selingkuh kan, Mas? Wanita mana yang nggak sakit?"
"Tapi aku cuma lihat sedikit, Sayang. Lagian juga hanya melihat, tanpa berbuat," jawab Al asal. Memang waktu itu hanya terbawa suasana. Ya memang si menikmati pemandangan sedikit.
"Tetap saja masuknya zina bukan?"
"Sini semua mendekat, aku mau bicara dulu," ucap Izal serius. Semua mendekat kearah Izal mereka duduk berhadapan di ruang keluarga dan Izal meletakan hp di meja "Mas Al, aslinya lagi dijebak sama si Zaki. Lihat saja ini, Zaki sejak tau Mas Al pulang itu sudah menghubungi Sari untuk merayu Mas Al. Dia sempat iri dengan pencapaian Mas Al, orang kampung perhatiannya bukan lagi ke Mas Zaki, tapi semua memuji-muji keberhasilan Mas Al,"
"Padahal selama ini aku nggak pernah berhubungan bareng dia, kok bisa dia seperti itu?"
"Namanya juga manusia, Mas Al. Itu bagian dari ujian, Mas Al keluarga baik, istri Solehah, anak Solehah, mertua baik, rejeki mengalir nah syaiton menggoda melalui teman. Ujian kehidupan namanya, Mas," ucap Izal bijak.
"MasyaAllah kata-kata kamu luar biasa, Zal. Aku bangga sama kamu, nggak salah Lina adikku mendapatkan jodoh sepertimu,"
"Mas, aku tau seperti ini juga dari Mas Al,"
"Mas mau, Zal. Kemarin sempat punya pikiran buruk, mau menduakan Aini. Meskipun tidak serius tapi sudah terlintas niat," ucap Al lesu dan Punuh sesal.
__ADS_1
"Mas, manusia tak ada yang sempurna. Dan manusia yang sempurna hanya Rasullullah. Jangan merasa seperti itu, pintu taubat masih terbuka lebar asal tak mengulanginya lagi. Bukankah begitu Mba Aini?"
"Betul yang di katakan Izal, Mas. Aku juga sudah memaafkan Mas Al. Tak mungkin kami membiarkan Mas Al masuk dalam kubangan dosa, kami semua peduli. Tugas kita saling mengingatkan, jika aku salah juga jangan sungkan mengingatkan,"
"Sayang, jadi tadi malam aslinya kami mendengar semua yang aku bicarakan di telpon dan kamu percaya,"
"Iya, Mas. Hanya saja aku memang masih marah. Tapi aku juga sadar, aku sendiri juga tak lepas dari yang namanya salah," ungkap Aini dengan lembut.
"Ai, aku sangat beruntung Allah mengirimkan saudara-saudara yang begitu peduli denganku,"
"Mas, bukannya apa yang kita tuai itu hasil selama yang selama ini kita tanam? Jadi Mas Al sangat pantas mendapat berbagai kebaikan,"
"Mas, nggak ada niat buat memperkarakan sahabat kamu, Mas?" tanya Izal.
"Lihat saja nanti, jika dia cari gara-gara lagi baru aku bertindak. Nomor Sari sudah aku blokir tadi malam. Tolong bukti itu kamu simpan baik-baik ya, Zal,"
"Siap, Mas. Mas nggak mau memperbaiki nama baik di kampung?"
"Untuk apa, Zal. Yang terpenting dihadapan Allah kita terus memperbaiki diri, soal pandangan manusia kita tak perlu risau, ada Allah yang maha segala-galanya. Tentu Allah lebih tau mana yg benar-benar mana yang settingan. Suatu saat akan ada buktinya," ucap Izal.
"Biarkan saja, selama tidak merugikan banyak orang Hanya namaku yang tercoreng di kampung, sementara aku tidak tinggal di kampung, jadi telinga ini nggak perlu mendengar apa kata mereka.
"Artinya sudah clear ya, Mba. Jadi kita kan?" tanya Lina.
"Jadilah, Lin. Kita jalan ayuk, nih kuncinya kamu yang bawa ya. Aku mau duduk manis disamping kamu. Mas Al sayang, aku berangkat dulu ya," mereka berdua keluar dari rumah Al menuju salon khusus muslimah. Wanita itu butuh me time untuk sekedar melepas penat, memanjakan diri, membuat bahagia dengan caranya sendiri, sebagian wanita ada yg me time nya menikmati semangkuk mie dikasih banyak cabe tanpa gangguan bocil, ada yang me time nonton Drakor, baca novel, jalan berdua dengan pasangan, dll.
"Lin, bawanya nggak usah ngebut,"
"Iya, Mba. Mba, gimana tadi malam reaksi Mas Al?"
Aini menceritakan kejadian semalam sampai pagi tadi dengan tertawa terbahak-bahak. Mereka sudah sepakat memberi pelajaran bagi Al. Mereka tak terima kalau Al tergoda sama Sari yang notabene adalah bukan wanita baik-baik.
__ADS_1
Cara Aini mendidik suaminya tergolong unik. Dan bukan menjadi diri sendiri namun menjadi ala-ala wanita simpanan. Tingkah yang ia perankan membuat bergidik ngeri, geli pantas saja Al mengatakan kalau dirinya aneh.
"Aku tidur sudah menjelang pagi, Lin. Makanya nanti pas aku pijat mau tidur. Ah ... enaknya ya, melepas penat setelah bermain peran semalam,"
"Aku nggak bisa bayangin betapa bingungnya Mas Al, kemarin habis berapa banyak belanjanya?"
"Nggak banyak, Lin. Aku beli baju untuk Mas Al juga, tapi dia nggak tau, taunya belanjaanku semua,"
"Mba Aini, kemarin sempat berfikir mau meninggalkan Mas Al apa tidak?"
"Nggak ada kepikiran seperti itu, aku sangat sadar dalam ujian pernikahan itu akan selalu ada. Yang namanya pasangan itu harus saling mengingatkan, dan yang namanya kesalahpahaman juga kerap terjadi bukan? Jadi ketika ada kesalahpahaman jangan sampai kita tertutup telinganya buat mendengar penjelasan, jangan sampai tertutup matanya untuk melihat sebuah kebenaran. Minta pertolongan sama Allah, kalaupun kita berniat pisah karena sebuah masalah maka ketika kita menikah lagi akan ketemu persoalan lagi kan?"
"Mba, aku kadang takut dengan hal seperti itu,"
"Itu namanya pesimis, sebanyak-banyaknya kita berselisih tentu lebih banyak bahagianya bukan?"
"Benar juga ya, Mba. Kenapa aku suka melupakan hal seperti ini. Menguras tenaga dan pikiran saja. Buang-buang energi,"
"Pikirkan yang positif InsyaAllah membuat kita jadi lebih tenang, jika aku tak berfikir positif aku sudah ngamuk di acara kamu kemarin. Namun aku masih berfikir, jika mengamuk tentu menjatuhkan harga diri sendiri, dan tentunya semua keluarga menanggung malu,"
"Mba, kenapa Mas Al mesti banyak penggemarnya, belum lama Mira sampai menyusul kesini. Eh pulang kampung ketemu Sari,"
"Karena kakakmu tampan, dan yang jelas sosok idaman. Jadi sangat wajar jika banyak yang suka,"
"Ciee ... coba Mas Al disini, sudah terbang dia. Mba, tengok ke belakang coba. Lihat mobil hitam itu, mengikuti kita dari pas keluar sampai sekarang?"
"Yang mana?" Aini sangat penasaran.
"Itu yang persis di belakang kita,"
"Mungkin tujuan sama," jawab Aini.
__ADS_1
"Coba saya tambah kecepatan ya, apakah dia mengikuti atau tidak?" ucap Lina
"Mencurigakan ...."