Ujian Kesetiaan

Ujian Kesetiaan
Keberadaan Izal


__ADS_3

Al dan keluarga sampai dirumah pukul 22.00 awalnya mau menginap di rumah Budhe namun harus ditunda karena tidak mendapat kabar dari Izal. Lina langsung ke kamarnya tanpa bertegur sapa dengan Aini. Aini mengirim pesan kepada Lina, satu rumah namun di kamar masing-masing.


[Lin, tidurlah. Jangan sampai besok kamu kondisi berantakan. Percayakan sama Allah, semua akan baik-baik saja. Tak ada yang perlu dirisaukan jika kita sudah pasrahkan semua kepada Allah] pesan terkirim ke hp Lina.


Lina membaca pesan yang dikirim kakaknya dengan senyum kecut. Akankah kebahagiaan akan berpihak padanya, kebahagiaan yang baru akan dirajut harus ternodai begitu saja. Tak ingin besok orang-orang mempertanyakannya, Lina lekas tidur mencoba memejamkan mata dengan lisan selalu mengucap istighfar sampai benar-benar terlelap.


Al sangat lega karena Bapak tidak menanyakan kenapa Al tidak menginap dirumah, mereka menerima alasan yaitu besok Aini dan Alia harus sekolah. Al masih berusaha untuk menghubungi Izal. Handphone Izal tak bisa dihubungi, Al prihatin dengan apa yang menimpa Lina adiknya.


Jam menunjukkan Pukul 01.06


"Mohon maaf, Pak Danu. Saya menghubungi Pak Danu bukan jam tepat," ucap Al cepat.


"Iya, gimana Mas Al. Ini baru mau tidur, Mas. Dari tadi mau tidur mata nggak mau terpejam. Ada apa Mas Al?" suara diseberang.


"Apakah Izal sudah sampai rumah?"


"Bukannya masih bersama Mas Al?"


"Jadi gini Pak Danu, kenapa saya putuskan menghubungi Pak Danu, karena saya yakin Pak Danu lebih mudah melacak keberadaan Izal,"


"Izal sudah dewasa kenapa sampai terpisah, bocah itu kenapa, dan apa yang terjadi sebenarnya?"


Al menceritakan semua kejadian di Mall tadi, dan saat ini handphone Izal juga tidak bisa dihubungi.


"Saya yakin Izal punya alasan sendiri kenapa tak menemui kami, semoga dia dalam keadaan baik-baik saja. Jika Pak Danu mendapat kabar tentang Izal tolong segera kabari kami, Lina terlihat sangat terpukul. Tak banyak yang kami inginkan, hanya kepastian saja, sebelum Lina larut menyerahkan hatinya untuk Izal,"


"Iya, Mas. Saya mengerti, saya akan segera menghubungi anak buahku untuk segera melacak anakku, dan tentunya saya akan turun tangan sendiri!"


"Terimakasih, Pak Danu. Saya tunggu kabar baiknya," ucap Al dan lekas mematikan panggilannya.


Al mengatakan itu bukan tanpa alasan, terakhir bersama malam tadi Izal sedang menyelesaikan masalah dengan Virna mantan calon istrinya, jadi wajar jika Al bersikap demikian.

__ADS_1


"Sayang, bagaimana?" tanya Aini dengan suara khas bangun tidur.


"Pak Danu mau turun tangan mencari Izal, terpaksa mas melibatkan Pak Danu. Meskipun Izal sudah dewasa namun aku juga khawatir karena nggak ada kabar sejauh ini. Ini sudah mendekati pagi kan?"


"Mas, nggak mau tidur?"


"Tidak tau, Ai. Mas sangat khawatir sebenarnya, sejauh ini mas lebih khawatir sama adik kita. Mas tau luka lamanya saja belum sembuh, sekarang harus mengalami hal semacam ini. Mas belum ngantuk, Ai. Kamu tidur lagi saja ya, Sayang. Semoga semua baik-baik saja,"


"Aamiin, aku mau keluar haus, sambil memastikan bagaimana keadaan Lina," pamit Aini, Al mengangguk.


Aini berjalan ke dapur mendapati lampu masih menyala.


"Lin," panggil Aini lembut.


"Mba, bangun?"


"Mba, haus banget,"


"Bikin nasi goreng enak kayaknya, mba mau bikin lah,"


"Mba, tidur lagi saja. Kalau besok bangun telat gimana hayo?"


"Mba akan tidur, jika kamu juga tidur. Mba, tadi ditempat mereka ngobrol sudah nggak ada kan ya? Dan Izal laki-laki dewasa, nggak mungkin juga kan dia dipaksa mengikuti Virna. Virna itu wanita yang pernah dicintai Izal, jadi bisa saja kan mereka memang suka rela mau bersama lagi. Harusnya meskipun begitu Izal ngabari aku, aku akan menerima keputusan dia kok. Nggak mungkin kan, aku merengek minta dikasihani sama Izal," ujar Lina.


"Iya, mba paham siapa kamu. Meskipun kita bukan saudara kandung tapi banyak kesamaan, bar-bar tapi juga harga dirinya tinggi. Sekarang tidur yuk, mba ikut ke kamar kamu ya?"


"He ... terus bagaimana dengan Mas Al?"


"Mba, mau memastikan kamu beneran tidur. Urusan Izal sedang ditangani Mas Al dan Pak Danu,"


"Ah ... senangnya punya Kakak yang pengertian. Terimakasih, Mba." Lina berjalan kearah kakaknya dan memeluk erat tubuh kakaknya.

__ADS_1


"Teletubbies berpelukan!" seloroh Aini.


"Ayo ... Mba, ngantuk," mereka bergandengan menuju kamar Lina.


Mereka berdua terlelap dengan mudah, perempuan ketika ada masalah salah satu solusinya adalah curhat, saling berbagi dengan orang yang bisa dipercaya.


Lain halnya dengan Al, masih menunggu kabar dari Pak Danu. Jam menunjukan pukul 02.30 belum juga ada kabar, Al tertidur di sofa kamarnya.


Pagi menjelang subuh Aini mendapat kabar dari Bu Yuli jika anaknya sudah diketahui keberadaannya jam 4 barusan. Keadaan Izal kondisi baik berada di RS Sehat, dia membawa Virna yang pingsan. Dari laporan yang diterima anak buahnya, hp Izal terjatuh saat membawa Virna ke RS. Izal lagi terjebak drama Virna yang mengharuskan Bu Yuli turun tangan.


"Mba, saya minta untuk menenangkan calon menantuku ya? Saya yakin sekali kalau Izal di RS hanya karena jiwa kemanusiaannya, bukan karena masih mencintai Virna,"


"Bu, InsyaAllah saya paham. Tapi kami tidak akan memohon agar Izal meneruskan hubungan dengan Lina, Jika memang kenyataannya Izal masih mencintai Virna dan mereka akan balikan kami tidak akan memaksa. Justru saya bersyukur kejadian seperti ini terjadi sebelum Izal mengikrarkan kalimat ijab qobul. Jadi Bu Yuli jangan khawatirkan kami," ucap Aini lembut namun menohok. Bagaimana tidak, saat itu masih sore, jikalau Izal mengantar Virna ke rumah sakit toh masih bisa pulang dengan ojek atau paling tidak mengabari keluarganya melalui kontak rumah sakit.


"Mas, sudah bangun? Maaf ya, aku tidur menemani Lina. Dia masih terjaga ketika aku keluar kamar tadi malam,"


"Nggak apa, Sayang. Mas juga nggak bisa tidur nunggu kabar dari Izal ataupun Pak Danu. Siapa yang telpon, Sayang?"


"Bu Yuli, anak buat Pak Danu sudah mengetahui keberadaannya. Izal di RS. Sehat, Virna sakit dan Izal hpnya jatuh saat perjalanan ke rumah sakit. Kata Bu Yuli, Izal bisa pulang setelah Bu Yuli menangani ke rumah sakit,"


"Kok bisa begitu, Sayang?"


"Bu Yuli meminta aku untuk meyakinkan Lina, kalau yang Izal lakukan hanya menunjukkan jiwa kemanusiaan semata, tidak lagi mencintai Virna. Tapi aku kok jadi naik darah ya ketika mendengar Izal semalaman menunggu Virna di rumah sakit?"


"Kedepankan positif thinking, siapa tau situasi memang mengharuskan Izal stay disana,"


"Virna sakit apa ya, mengharuskan Izal stay disana? Banyak pertanyaan yang muncul di kepalaku, Mas,"


"Kita lihat saja gimana nanti, jangan menebak-nebak,"


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...

__ADS_1


__ADS_2