
Aini terbangun mendengar adzan berkumandang, segera membangunkan suaminya.
"Mas, sholat dulu ke Masjid,"
"Sayang, masih ngantuk. Sebentar lagi, Sayang,"
"Nah loh, kamu sudah dikasih banyak kelebihan sama Allah. Nikmat yang kita sudah dapat sangat banyak, Mas. Giliran menjalankan kewajiban kenapa seperti ini? Ayo buruan bangun,"
"Aini, aku lagi ngantuk banget karena istriku lagi marah. Aku selalu kepikiran, nggak bisa tidur. Bisa tidur setelah memeluk istriku,"
"Manja, sudah sana berangkat," Aini membangunkan suaminya dengan paksa, ditarik tangannya sampai bisa duduk tegak. Al roboh kembali saking kantuknya.
"Suami macam apa, yang kaya gini mana pantas di jadikan iman,"
"Siapa bilang, aku paling cocok dijadikan imam kamu, biasanya kamu membangunkannya tidak begini, Sayang," Al langsung terduduk.
"Untung aku masih mau membangunkan. Mas, buka matanya! Sebentar aku ambil air dulu," Aini mengambil air yang ada di gelas kemudian dicipratkan ke muka Al.
"Hujan Ai! Kok basah, ini di kamar. Apa bocor?" Al meletakan tangganya diatas kepala. Aini tak kuat menahan tawa. Al ditarik ke kamar mandi, dibukakan pintu, kemudian Al dimasukan kamar mandi dan diguyurkan air ke kakinya, pilih kaki supaya tak begitu kaget. Jika ke kepala takutnya bikin penyakit. Bisa sakit kepala kaya orang-orang jika langsung ke kepala kondisi masih setengah sadar.
"Ai, kamu nggak usah keluar. Kita mandi bersama," rengek Al.
"Mas, sudah adzan nanti ketinggalan. Nggak baik sholatnya masbuk sementara masih bisa sholat bareng imam," Aini keluar dan menutup pintu dari luar untuk mengambil baju ganti, baru tersedia handuk tadi. Baju diletakan di pintu, digantung di gagang pintu.
Aini bergegas sholat dan menuju kamarnya untuk sholat. Dia sudah WhatsApp kedai langganan sayur untuk diantar pepes ikan gurame berikut lalapan sesuai permintaan suaminya. Baju kotor sudah terkumpul semua dia lekas mengabarkan kepada petugas laundry untuk menjemput pakaian kotornya.
Aini juga sudah berpesan kepada Mak Ipeh untuk berangkat lebih cepat untuk menunggu Alia mandi dan persiapan sekolah. Selama 3 hari ini Aini akan memanjakan diri menenangkan pikiran. Aini tau suaminya sudah menyesali perbuatannya sewaktu di kampung namun masih tersisa rasa yang tidak enak dalam dada. Aini mau memanjakan diri dahulu, rencana hari ini mau pergi bareng Lina.
Sejak melamar Lina, Izal sudah tidak lagi bekerja di tempat Al. Dia sudah terjun langsung mengelola perkebunan orang tuanya. Dan Lina fokus jadi ibu rumah tangga nantinya.
Jam 10.00 Lina sudah muncul di rumah Aini.
"Assalamualaikum, Pak Arif. Mba Aini di rumah?"
__ADS_1
"Wa'alaikumussallam, langsung masuk saja, Mba. Sudah ditunggu sejak tadi sama beliau,"
"Aku ke dalam dulu ya, Bang Izal mau ikut aku apa mau menyapa kawan lama dulu nih?"
"Abang ke belakang dulu ya, kangen sama mereka," Lina masuk melalui pintu depan sementara Izal pintu samping.
"Mba, Mba Aini!"
"Main teriak saja, nggak pakai salam lagi," ucap Al.
"Aku sudah salam, Mas Al. Dalam hati, kamu saja yang nggak dengar,"
"Orang lagi pada gi*la semua kali ya, jangan ikutan menggila menangani Aini saja sudah cukup pusing jangan kamu tambah ikutan aneh,"
"Mas Al, kakakku yang paling tampan. Bukan aku atau Mbak Aini yang aneh bin gi*la tapi justru kamu, Mas?"
"Loh, kok aku yang gi*la?"
"Jadi kamu yang ngomong tentang Sari ke Aini?"
"Nggak usah menyalahkan orang lain, Mas Al. Kamu saja yang nggak sadar, suara kalian jadi pusat perhatian. Mba Aini ada didekat kamu, kamu saja yang nggak sadar. Sampai-sampai aku pengin memukul pakai buket yang aku pegang. Tapi nggak boleh sama Bang Izal. Coba waktu itu aku diijinkan buat memukul Mas Al, puas aku. Apalagi sama si Zaki, entah siapa yang ngundang itu orang. Aku merasa nggak mengundang, orang sukanya tebar pesona," ucap Lina sewot.
"Izal kemana?"
"Mengalihkan pembicaraan, basi banget si Mas,"
"Sudahlah Lin, cukup Aini saja yang menggila. Kamu jangan,"
"Siapa yang gi*la. Heran sama kamu, Mas. Yang dibicarakan tentang gila terus. Apa pengin ya, biar kamu bebas tebar pesona,"
"Aini, kamu mau kemana cantik banget. Mas nggak rela kamu keluar pakai baju itu,"
"Hei ... Mas. Sejak kapan kamu pandai menggombal? Aku kan jadi malu. Ingat, Mas. Aku keluar pakai apapun tetap cantik, jadi kamu wajib bayar aku mahal. Percuma dong punya lelaki kaya banyak uang tapi penampilan apa adanya, rugi. Daripada dikasih wanita sembarangan mending di kasih ke aku, jadinya dipoles terus, terawat makin cinta. Tapi sayangnya perjuanganku sia-sia, karena suamiku masih jelalatan," wajah Aini berubah murung.
__ADS_1
"Lin, Izal bagaimana?"
"Dia mau disini saja katanya, kita boleh jalan sepuasnya,"
"Eh ... mau kemana kalian?"
"Mau menyenangkan hati sendiri, biar nggak stress. Me time, aku terlalu pekerja keras selama ini. Tak pernah membuat bahagia diri sendiri. Sebenarnya aku menyerahkan kebahagiaan kepada suamiku, tapi dia khilaf bikin sakit hati. Meski aku sudah memaafkan tapi aku butuh refresh sejenak, begitu Mas Al ku yang tampan,"
"Bener-bener kalian lagi pada aneh, Izal apakah tau dengan keanehan kalian?"
"Siapa yang aneh, Mas?"
"Zal, lihat saja mereka. Sangat aneh bukan?"
"Aneh bagaimana? Mereka normal, lihat saja penampilannya. Apalagi istriku, memesona kan? Kalau soal Mba Aini aku nggak ikutan ya, Mas"
"Apakah kamu tau sesuatu?"
"Tau lah, masa nggak tau. Mereka mau ke salon mau memanjakan diri, biar saja mereka bantu menghabiskan uang kita. Bukankah kita bekerja buat istri kan?"
"Arrrgggg ... ternyata semua aneh!" semua tertawa melihat Al frustasi.
"Mas, sebenarnya Mba Aini sudah memaafkan Mas Al, tapi namanya wanita. Waktu Lina saja uring-uringan sampai sebulan, apalagi perbuatan Mas Al tergolong keterlaluan. Buat pelajaran kita Mas Al, kedepannya jangan diulangi. Kamu cari yang seperti apa, Mas. Jangan sampai menyesal di kemudian hari. Sebenarnya Pakdhe juga tau, di kampung sempat heboh. Mas Al saja yang nggak tau sedang kerasukan apa, orang si sari-sari itu cuma cantik polesan kok sampai dilihat. Sayang mata kita, cuma dapat dosa. Si Sari itu ya, Mas. Kalau dempulnya dibuka dan lipstiknya di hapus itu behhh ... sangat jauh dari kata cantik,"
"Lebih heran lagi kemana rasa malu yang selama ini selalu Mas Jaga? Rasa takut kepada Allah,"
"Iya, Zal. Mas sudah sadar, aku terlalu serakah. Padahal dulu aku nggak suka dengan kelakuan Zaki. Lah ini kok mau meniru kelakuan Zaki. Asli, aku sudah nggak lagi-lagi. Takut dengan Azab Allah,"
"Bang, lihat ini. Pasti Mas Al bakalan kaget, kalau sudah melihat ini,"
"Lin, kasih lihat mba dulu," Aini mendekat kearah Lina.
"Astaghfirullah!"
__ADS_1