Ujian Kesetiaan

Ujian Kesetiaan
Tamu yang Mengejutkan


__ADS_3

Bu Mutia terperanjat. Degup jantungnya bertalu-talu ketika matanya menangkap beberapa orang berseragam polisi berdiri di depan rumah Nelly.


Bu Mutia kemarin ketika Nelly menjemput Vito di rumahnya sengaja ikut karena khawatir akan merasa kesepian jika harus sendirian di rumahnya yang besar, tapi hanya dirinya yang menempati semenjak kepergian almarhum suaminya. Oleh karenanya ia beberapa Minggu kemarin sengaja membawa Vito, cucunya untuk menemaninya sebagai penghalau rasa sepi.


Perempuan setengah baya itu berlari ke arah kamar dan membanting pintu lalu menguncinya dari dalam. Mukanya begitu pias membayangkan ia akan diborgol dan digiring ke kantor polisi lalu mendekam di Balik jeruji besi. Di penjara. Bu Mutia bergidik ngeri membayangkan nasibnya yang sebentar lagi akan mengalami hal nenakutkan dikumpulkan dengan orang-orang sesama narapidana.


"Sialan Si Ratih. Sudah aku bayar mahal, tapi kenapa sampai ada polisi yang datang ke sini," rutuknya setengah bergumam. Bu Mutia merasa sia-sia karena sudah mengeluarkan uang banyak tapi ternyata tak mampu menjamin dirinya selamat dari kepungan pihak kepolisian.


Nelly yang membukakan pintu untuk tamunya merasa kaget karena ia merasa tak pernah ada masalah dengan siapa pun. Apalagi sampai berurusan dengan pihak yang berwajib.


"Selamat siang, Mbak. Apa yang bernama Bu Mutia itu ibunya Anda?" tanya pak polisi yang terlihat berdiri tegap.


"Iya, Benar, Pak. Ibu saya bernama Bu Mutia," jawab Nelly berusaha menetralkan hatinya yang gelisah.


"Bisa kami bertemu dengan beliau?"


"Ada apa dengan Mama saya, Pak?"


"Nanti bisa dijelaskan di kantor polisi."


Dengan diliputi rasa penasaran menggebu


Nelly melangkah menuju kamar mananya yang tertutup rapat. Ia mengetuknya perlahan memanggil sang mama pelan.


"Ma, Mama ... Di depan ada tamu yang ingin bertemu Mama," ucap Nelly berusaha bersuara setenang mungkin.

__ADS_1


Tak ada jawaban dari dalam.


"Ma, Mama sedang ada di dalam, kan?" tanya Nelly memastikan.


"Suruh mereka pergi sekarang juga, Nelly!" Bu Mutia berteriak histeris dari dalam kamar.


"Tapi mereka mau bertemu Mama."


"Kamu mau mau manut sama Mama apa sama mereka?" hardik Bu Mutia dengan suara bergetar, menandakkan dirinya sedang diliputi rasa ketakutan yang sangat luar biasa.


Nelly mematung di depan pintu kamar Bu Mutia. Ia kembali ke depan memberitahukan jika mamanya tak mau keluar kamar.


"Boleh kami maduk ke dalam, Mbak?


Karena tidak ada pilihan dan merasa gugup, akhirnya Nelly pun menyilakan.


Beruntung Vito sedang diajak bermain dengan oengasuhnya di taman yang jaraknya agak jauh dari rumah. Sehingga tidak menyaksikan kejadian itu.


Karena diancam akan didobrak paksa pintu kamarnya oleh salah satu polisi yang berdiri di depan pintu. Akhirnya dengan terpaksa dan muka menggigil ketakutan Bu Mutia membuka pintu yang tadi sudah dikuncinya dari dalam.


"Saya gak mau dibawa ke kantor polisi, Pak." Tanpa ditanya Bu Mutia sudah memohon terlebih dulu.


"Mama saya melakukan kesalahan apa, Pak? Kenapa harus dibawa ke kantor polisi?" tanya Dhena ketika mendengar ibunya harus ikut ke kantor polisi.


"Tolongin Mama, Nelly. Mama gak mau dipenjara," pekik Bu Mutia meronta ketika tangannya mulai dipakaikan benda pengunci dari besi yang terasa dingin mengenai pergelangannya.

__ADS_1


"Mama, Mama kenapa sampai begini? Apa sebenarnya yang terjadi sama Mama?" Beribu pertanyaan memenuhi isi kepala Nelly. Air mata Nelly tumpah menyaksikan mamanya diperlakukan seperti seorang pelaku kriminal.


Karena selama ini Nelly mengenal sosok sang Mama sebagai orang baik yang tak pernah sekali pun tersandung kasus yang harus berurusan dengan polisi. Mamanya pula yang selalu mengingatkan dan menasihatinya untuk menjadi orang yang baik agar tak sampai terbawa oleh pergaulan buruk dari dunia luar yang bisa menjerumuskannya. Bu Mutia pun sangat ketat memilihkan teman untuk Nelly ketika Nelly masih duduk di bangku sekolah dan saat kuliah dulu.


Ketika sedang berjalan menuju mobil yang akan membawanya tiba-tiba tubuh Bu Mutia terhuyung ke samping lalu ambruk di pinggir jalan. Ia kehilangan kesadarannya. Mungkin karena faktor rasa ketakutan yang berlebih yang dialaminya.


Nelly berteriak histeris menghambur ke arah mamanya.


"Kalian jahat. Sudah membuat mama saya seperti ini!" Nelly kalap memukul asal para anggota polisi yang masih mematung tak menyangka pelaku yang mereka amankan mengalami hal seperti itu.


Dua orang polisi lalu mengangkat tubuh Bu Mutia memasuki mobil. Nelly masih tersedu di pinggir sang mama. Sopir yang membawa beberapa anggota polisi itu pun mengarahkan lajunya ke rumah sakit terdekat. Karena tahanan yang mereka tangkap harus segera mendapatkan pertolongan.


Bu Mutia langsung dimasukkan ke ruang UGD karena kesadarannya tak kunjung pulih. Nelly berdiri gelisah seorang diri di depan pintu UGD. Ada dua orang dari kepolisian yang terus mengawal dan mengawasi Bu Mutia.


"Pak, tolong kasih tahu saya, Pak. Sebenarnya Mama saya ada masalah apa, hingga harus dibawa dan diperiksa di kantor polisi?" tanya Dhena kepada salah satu polisi yang sedang berdiri tak jauh dari dirinya.


"Untuk sementara Bu Mutia menjadi tersangka utama kasus penculikan anak Bu Dhena yang terjadi di rest area beberapa waktu yang lalu." Pria berseragam itu memberikan penjelasan kepada Nelly.


Bola mata Nelly seketika membulat dengan mulut sedikit terbuka menandakan keterkejutannya yang tak percaya mamanya bisa melakukan hal kejahatan seperti itu.


"Gak mungkin, Pak, Gak mungkin Mama saya melakukan itu. Mama saya orang baik." Nelly berusaha menyangkal informasi yang barusan didengarnya. Ia tak menyangka sama sekali jika hilangnya Fathan, anak kakak madunya itu ternyata dalang utamanya adalah mamanya sendiri. Nelly sendiri tak pernah terbersit dalam pikirannya untuk melakukan hal sekeji itu. Baginya selama ini ia bisa berada di antara Hariz dan Dhena sudah cukup membuatnya bahagia. Karena ia merasa mempunyai keluarga baru. Walaupun bagi Dhena sendiri kehadirannya dianggap benalu dalam rumah tangganya.


Setelah Bu Mutia siuman. Karena jantung dan tekanan darahnya yang belum normal. Bu Mutia disarankan untuk sementara dirawat di ruang inap. Dengan pengawasan yang ketat dari pihak kepolisuan untuk menghindari beberapa kemungkinan yang bisa menyebabkan Bu Mutia melarikan diri.


Nelly berusaha menghubungi Hariz via telepon. Tapi, sedari tadi sudah beberapa puluh kali ia mencoba menelponnya tak ada jawaban dan respon dari Hariz. Membuat perasaan Nelly semakin menjadi kacau karena harus menanggung kegundahan hatinya seorang diri.

__ADS_1


Padahal, ketika dirinya sedang dalam posisi terpuruk dan shok seperti ini ia sangat butuh dukungan dan sandaran untuk sekadar membantu menenangkan keadaan hatinya.


Bersambung ....


__ADS_2