
"Dit, gimana komentar pembeli mengenai tempe buatanku?" Al penasaran dan sudah siap dengan masukan ataupun kritikan dari pembeli.
"Mereka bilang enak Al, cocok kalau kata emak-emak bilangnya tempe yg kujual kemarin beda, lebih sari"
"Alhamdulillah, syukurlah. Berarti kemarin 30 batang habis Dit?
"Alhamdulillah habis Al, disini komplek padat penduduk. Jadi kalau enak cepet habis, iklan ibu-ibu komplek itu dahsyat loh, satu bilang enak yang lain tidak akan ragu untuk beli. Semoga bisa menjaga kualitas ya Al"
"Aamiin. Terimakasih banyak Dit beruntung Allah pertemuan dengan sahabat yang baik. Menolong saya yang kondisi lagi merintis. Sekali lagi terimakasih Dit"
"Jangan begitu Al, semua atas ijin Allah. Allah yang sudah memudahkan urusanmu. Ini uangnya 30 kali 2.500 jadi 75 ribu ya Al. Setiap harinya aku dikasih 50 batang Al kemarin masih banyak yang nanya sudah habis. Wa ku sampai tadi kan? yang minta 50 setiap harinya" ucap Radit
"Iya bro, sudah sampai tadi....untuk hari ini masih 30 porsi buat belum kutambah. InsyaAllah yang besok sudah bisa 50. Tadi buatnya sudah ditambah"
Ini kedai terakhir yang dikunjungi Al, baru ada 3 kedai yang dititipi dan dikedai lain baru percobaan hanya nitip 5 batang. Dan Alhamdulillah semuanya habis, di kedai yang 2 tadi kedepannya minta masing-masing 30 batang setiap harinya. Dan tadi sudah menambah kenalan 2 kedai baru untuk dititipi.
"Alhamdulillah, InsyaAllah Minggu depan sudah bisa merekrut orang buat membantu ya Ai" dijawab dengan anggukan kepala oleh Aini.
"Selamat ya bro, pertahankan kualitas"
"Siap bro, jika seperti kemarin gagal dan busuk mending dibuang daripada dijual merusak kepercayaan pasar"
"Aku suka dengan prisipmu Al, kepuasan pelanggan nomor 1"
"Siap Dit, bercermin dengan diri sendiri ketika beli sesuatu tapi mengecewakan maka besoknya akan malas beli lagi"
"Aku dan keluarga pamit dulu ya Dit, anak minta main tadi"
"Hati-hati ya Al. Sampai jumpa besok InsyaAllah"
__ADS_1
Sesuai janji Al, setelah keliling menitipkan tempe lanjut jalan-jalan ke taman kota.
"Ayah adek mau naik kerrreta itu. Adek berrrani sendirrri boleh kan yah" Alia berlari kearah Ayah bundanya. Dia sudah asyik bermain bersama teman-teman baru di taman kota. Sudah tidak begitu kesusahan mengucapkan huruf R. Baru 2 pekan ditempat baru sudah banyak sekali perubahan Alia mewarisi kepribadian bundanya yang mudah bergaul, berbeda dengan Al yang cendrung dingin itupun karena ditempat baru mau tak mau harus belajar barbaur.
"Boleh-boleh, ini uangnya kamu kasih ke om penjaga karcis itu. Nanti ikuti apa kata om om itu, jangan lupa ucapkan terimakasih sama om itu nanti ya sayang" ucap Al sambil menunjuk petugas karcis. Tentu semua diawasi hanya untuk melatih mental anak saja, Alia dibiarkan mencoba sendiri.
"Siap bos, adek kesana dulu. Itu teman-teman sudah ada yang disana. Daaah ayah, bunda" berlari meninggalkan kedua orang tuanya.
"Daah sayang" ucap sepasang suami istri itu bersamaan.
"Nggak usah lari sayang" teriak Aini
"Kita terlalu tega nggak si mas, masa membiarkan anak umur 5 tahun beli karcis sendiri" Aini ragu jiwa keibuannya berontak pengin membantu anaknya.
"Posisi kita nggak jauh kok Ai, kita perhatikan dari sini coba. Bagaimana Alia bisa memenangkan tantangan ini. Kita masih bisa mendengar suara mereka" jelas Al menenangkan istrinya.
"Baiklah mas"
"MasyaAllah, Alhamdulillah....." ucap Aini lega.
"Itu berkat didikanmu Ai, terimakasih sayang" ucap Al tulus.
"Bukan mas, itu berkat Allah memudahkan kita dalam mendidik Alia, semua atas kehendak Allah"
"Gemes banget sama istriku yang satu ini"
"Maaaas, memang istrimu berapa banyak?" Aini cemberut mengulang pertanyaan waktu dimasjid Agung.
"Hei....memang ada yang salah dengan ucapan mas ya?" Al bingung
__ADS_1
"itu loh....istriku yang satu ini. Memang mas punya berapa istri?"
"Ooh....itu. Mas hanya punya kamu Ai, istri satu saja nggak habis dan mas nggak bisa ngasih nafkah, nggak ada cita-cita nambah istri Ai sayang" mengelus jilbab Aini.
"Hmmm"
"Eh lihat Ai, coba perhatian di pojokan sana yang dekat kedai mpek mpek, sepertinya temanmu ya? Eh bukan sangat familiar wajahnya, tapi siapa ya?"
"Yang mana mas?" mengedarkan pandangan mencari-cari arah pandang suaminya.
Wanita dengan jilbab pasmina dengan setelan celana kulot longgar memberi kesan sopan sedang becanda dengan seorang laki-laki matang.
Aini masih mengingat-ingat siapa wanita tersebut.
"Mba Fatimah, iya bukannya ibu mba Fatimah mantan istri Mas Abid" batin Aini
"Berarti yang didepannya itu mantan suami Bu Fita" masih bertanya-tanya dalam hati.
"Oalah Ai itu bukannya Fatimah mantan istri Abid ya...pantesan lama dulu nggak terlihat dikampung"
"Iya mas, bener itu mba Fatimah. Nggak nyangka bisa melihatnya disini" ujar Aini. "Kalau dekat sudah ku panggil terlalu jauh teriak malu, jalan kesana jauh."
"Kamu ini ada-ada saja. Biarkan saja, sebelumnya juga kita tidak mengenalnya hanya sebatas tau saja"
"Sudah lumayan sore, pulang yuk Ai" lanjut Al.
"Ayuk mas, Ai panggil Alia dulu ya. Kelihatannya juga sudah lelah mainnya, Mas tunggu saja disini nanti kecapekan kalau ikut jalan kesana" mengingat suaminya nggak bisa terlalu capek, akibatnya bisa fatal nggak bisa jalan esok harinya. Aini berjalan meninggalkan suaminya menuju anaknya.
Dari jauh Fatimah juga menyadari telah melihat orang yang notabene 1 daerah dengannya. Dan Fatimah sangat tau siapa yang dilihatnya, iya wanita yang selalu disebut-sebut suaminya dulu. Wanita yang membuat dia tidak bisa dicintai oleh suaminya. Ada perasaan sakit ketika dulu suaminya selalu menyebut kebaikan seorang Aini, wanita yang selalu dipuja-puja oleh suaminya. Fatimah memiliki rasa sakit yang mendalam dengan Aini. Namun Fatimah sadar Aini juga tidak bersalah dalam hal ini, dia pernah mengecek hp Abid di pesan singkat tidak pernah ada balasan dari Aini. Di log panggilan juga adanya panggilan keluar itupun riwayat panggilannya 0 yang menandakan panggilan Abid tidak pernah dijawab oleh Aini. Dalam keseharian pernah Fatimah menyelidiki siapa Aini sebenarnya, dan tidak ada tanda-tanda kalau Aini menanggapi. Yang ada Fatimah melihat kehidupan rumah tangga Aini dan suami bahagia seperti yang terlihat saat ini. Untuk melupakan kejadian itu Fatimah memilih meminta cerai dengan Abid dan meninggalkan kampung halaman. Menyusul paman dan bibinya yang sedang transmigrasi di Pulau S, sampai bertemu dengan Tegar yang menjadi suaminya sekarang.
__ADS_1
...🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸...