Ujian Kesetiaan

Ujian Kesetiaan
Bersitegang


__ADS_3

***


Setelah Bu Aida tiba di rumah sakit dengan menggunakan grab. Hariz berpamitan untuk segera pulang ke rumah. Karena Nelly sudah ada yang menggantikan menjaganya.


Tiba di rumah. Susana sudah lengang. Sebagian lampu sudah pada dipadamkan Hariz berjalan memasuki ruang tengah. Telapak tangannya mendorong pintu kamar perlahan. Dilihatnya Dhena sudah tertidur dengan posisi memeluk Fathan.


"Kamu sudah pulang, Mas?" tanya Dhena yang ternyata masih terjaga. Karena pikirannya sedang mengembara ke mana-mana. Mengingat kehidupan yang dijalaninya selalu dihadapkan dengan ujian yang sangat berat.


Padahal, dulu ... Dulu sekali. Jauh sebelum dirinya dipersatukan dengan jodoh pendamping. Dhena berharap jika dirinya setelah menikah dan hidup dengan pasangan bisa merasakan dan menjalani hari-hari indah penuh canda tawa.


Namun, ternyata semua itu hanya sebatas angan dan mimpi. Karena nyatanya hingga saat ini diri Dhena masih terjebak dalam kubangan penderitaan yang terus mengungkungnya. Seperti tak ada celah untuk dirinya bisa melepaskan diri dan keluar dari semua nestapa yang selalu hadir menemani hari-harinya.


Hariz duduk di bibir tempat tidur persis di samping sang istri yang masih di posisi berbaring. Hariz mengusap lembut pucuk kepala Dhena seraya berkata, "Ma'afin, Mas, ya, Sayang ... Hingga sekarang ini Mas belum bisa bahagiain kamu dan Fathan, anak kita," ungkapnya dengan suara berat.


Mendengar permintaan maaf tulus dari Hariz. Membuat hati Dhena menjadi semakin terasa teriris pilu. Air matanya seketika tumpah tak terhankan lagi. Karena ia sendiri tak bisa dan tak berhak menghakimi Hariz sebagai orang yang bersalah. Semua ini terjadi sudah sebagai garisan takdir yang diperuntukkan untuk dirinya yang harus tetap dijalani dan dilalui meskipun terasa sangat berat.


"Mas, aku mau berbicara serius sama kamu, bisa?" ucapnya seraya bangkit dan duduk di tempat persis di hadapan Hariz.


"Boleh, mau ngomong apa?"


"Mas masih sayang dan cinta, kan, sama aku?" tanyanya penuh harap.

__ADS_1


Hariz menggenggam jemari sang istri erat. Bibirnya mengulas senyum menawan di hadapan Dhena.


"Jujur, ya, dalam hati kecil Mas sendiri kehadiran kamu adalah yang pertama dan terakhir dalam hidup Mas.


"Tapi, kenapa ucapan dan sikapmu tak sesuai, Mas? Kenapa masih bisa kembali ke pelukan wanita lain? Asal Mas tahu, itu semua sudah membuat hatiku menjadi terluka kembali, Mas!" sangkal Dhena disela isaknya.


"Semuanya tak seperti yang kamu pikirkan, Sayang. Ini semu terjadi diluar kehendakku. Semua ini terjadi hanya kemauan Ibu aku yang terlalu berambisi kepada Nelly."


"Cukup, Mas! Jika kamu benar-benar masih sayang dan cinta sama aku. Aku minta dengan sangat, ceraikan aku saat ini juga!"


Entah keberanian dari mana datangnya hingga Dhena bisa berbicara seperti itu, padahal semua yang terucap dari bibirnya barusan sangat bertentangan dengan hati nuraninya sendiri.


Hariz bergeming tak mampu berucap sepatah kata pun. Alam bawah sadarnya masih berusaha mencerna semua ucapan yang barusan istrinya itu lontarkan. Hariz sangat yakin jika yang diungkapkan oleh Dhena tadi hanya karena Dhena terbawa oleh perasaan hatinya yang sedang emosi dan dipengaruhi rasa terbakar api cemburu karena sudah mengetahui jika Hariz dan Nelly sudah kembali rujuk beberapa hari yang lalu.


"Jangan pernah ucapkan lagi kata-kata seperti tadi, ya, Sayang. Mas mohon," pinta Hariz kemudian. Genggaman tangannya semakin erat terpaut di jemari sang istri.


"Egois kamu, Mas!" pekik Dhena berusaha meleoaskan telapak tangannya dari genggaman Hariz.


"Kamu hanya memikirkan kebahagiaanmu sendiri, tanpa mempedulikan perasaanku yang terus tersakiti oleh sikapmu selama ini, Mas!" imbuhnya semakin tersedu pilu. Dhena semakin larut dalam luka hatinya mengingat sang suami sudah tega berbagi rasa dan kehangatan dengan wanita lain selain dengan dirinya. Hati perempuan mana yang sanggup dan bisa bertahan dalam posisi seperti ini?


"Dulu aku sudah berusaha mengorbankan perasaanku untuk bisa terlepas dari Iwan yang jelas-jelas sudah bisa menerimaku apa adanya. Karena aku kira kamulah pria yang bisa menjaga hati ini, tapi, nyatanya kamu sendiri yang telah menancapkan sembilu dalam hatiku, Mas!" ungkap Dhena meluahkan semua unek-unek yang mengganjal hatinya.

__ADS_1


"Jadi selama ini kamu merasa menyesal menikah dengan saya? Iya, begitu, kan?" Suara tinghi Hariz menggema memenuhi ruangan kamar membuat Dhena terhenyak.


Wanita itu sangat paham. Jika suaminya berbicara dengan menggunakan bahasa saya berarti sedang dalam kondisi diliputi rasa emosi yang sangat tinggi. Terasa ada yang terbakar dalam dada laki-laki bertubuh tinggi itu ketika sang istri tadi sempat menyebut nama pria lain di hadapannya. Bagaimanapun juga Hariz sebagai suami merasa terhina jika dirinya dibanding-bandingkan dengan laki-laki lain.


Padahal, jika dulu Dhena sampai berjodoh dengan Iwan pun, belum tentu kehidupan rumah tangganya bisa semanis yang dibayangkan. Bahkan, bisa lebih pahit dari kehidupannya yang sekarang. Karena takdir cerita seseorang itu rahasia Sang Maha Penggenggam Hidup.


"Ma'af Mas, bukan maksudku untuk membuatmu menjadi tersinggung. Aku bukan menyesali pernikahan kita. Tapi, aku hanya menyayangkan kenapa dalam rumah tangga kita harus hadir orang ketiga? Aku ini perempuan lemah, Mas, bukan sebagai istri tangguh seperti wanita-wanita lain di luaran sana. Aku tak sanggup jika harus berbagi suami dengan yang lain." Susah payah Dhena kembali mengungkapkan perasaannya.


Fathan yang mendengar kedua orang tuanya sedang bersitegang menjadi terusik dari lelap tidurnya. Ia ikut menangis histeris ketika melihat mamanya dalam keadaan berurai air mata. Mungkin itu yang dinamakan dengan ikatan batin. Seorang anak sebagai darah daging dari orang tuanya akan selalu bisa merasakan dengan apa yang sedang dirasakan oleh orang yang pernah mengandung dan melahirkannya itu.


"Mama, kenapa nangis?" tanya Fathan disela isaknya.


Dhena berusaha meredam perih dalam dadanya. Sebisa mungkin ia menampakkan seulas senyum manis untuk sang buah hati walau di dalam sana ada luka yang terus menganga.


Hariz melihat pemandangan itu dengan hati yang porak poranda. Laki-laki itu tak bisa membayangkan jika sang istri memaksa untuk melepaskan diri dan membawa putra mereka jauh dari kehidupannya.


Walaupun raganya sebagai lelaki sempurna. Tapi, jiwanya akan terasa sangat rapuh jika separuh napas dalam hidupnya harus pergi jauh meninggalkannya. Hariz tak ingin mimpi buruk itu menimpanya.


Ia berjanji dalam hatinya sendiri harus bisa mempertahankan Dhena dan Fathan sampai kapan pun. Karena baginya kedua orang itu merupakan bagian dari helaan napasnya. Orang yang sudah mampu bertahan menemani selama Hariz berada dalam titik terbawah. Yang tidak pernah menuntut dirinya untuk memberikan sesuatu yang diluar kemampuannya. Mungkin, jika bukan sosok Dhena yang dinikahinya. Ia sudah ditendang dan ditinggalkan semenjak dulu ketika pertama mereka mengawali pernikahan.


"Ayah minta ma'af, ya, Sayang. Sudah ganggu tidur kamu." Hariz merengkuh Dhena dan Fathan dalam dekapannya. Seakan berusaha menyalurkan kehangatan dan ketenangan ke dalam hati kedua orang yang sangat dicintainya.

__ADS_1


__ADS_2