Ujian Kesetiaan

Ujian Kesetiaan
Kedatangan Nelly


__ADS_3

Bu Aida diantar hingga ke halaman rumahnya oleh Bu Sinta. Yang langsung disambut oleh Bi Surti asisten rumah tangganya. Perempuan setengah baya itu bergegas memasuki rumah.


Bi Surti merasa keheranan ketika ia melihat sandal Bu Aida yang terlihat sangat kotor teronggok di teras depan.


"Ibu, tadi memang habis dari mana? Kok, saya tadi lihat sandalnya kek seperti habis dari kotakan sawah?" tanya bi Surti menghampiri majikannya yang sudah terkapar di sofa ruang tengah karena kelelahan hampir seharian melewati jalanan yang naik turun dan berlubang sehingga mobil yang ditumpanginya sering terguncang membuat badannya menjadi seperti habis digebukkin orang sekampung.


"Kepo, kamu, lah, Surti!" hardik Bu Aida mendelik ke arah bi Surti.


"Laah ... Kepo sama majikan sendiri, tho, ya, ra po-po, mbok, daripada kekepoan saya ini disalurkan kepada suami orang, kan, jadi repot bin berabe nanti urusannya. Bisa-bisa terjadi perang dunia ke sekian." Bi Surti menjawab asal.


Bu Aida merubah posisinya yang tadi rebahan menjadi duduk kembali. Lalu tangan kanannya terulur meraih gelas -belimbing yang berisi teh manis hangat yang sudah disiapkan oleh bi Surti saat dirinya baru datang tadi.


"Dari pada kamu mengintrogasi saya terus. Mendingan ke sini, kamu!" titahnya dengan tangan melambai ke arah bi Surti.


Bu Surti melangkah mendekat kemudian mendaratkan bagian pinggul di sofa persis di samping sang majikan.


"Ibu mau ngasih saya bonus tambahan, ya?" tanya wanita dengan tai lalat di atas bibir sebelah kanan itu sok tahu.


"Iya, tapi pijitin dulu, nih, betis saya!" perintahnya kemudian sembari mengangkat sebagian celana panjang yang ia kenakan sebatas lutut.


Bi Surti meraih bagian kaki Bu Aida kemudian diangkat dan diletakkan di atas kedua belah pahanya lalu mulai memijit dan mengurut secara perlahan.


"Tadi saya habis ke suatu tempat yang sangat jauh dan membuat perasaan saya merinding." Tanpa diminta Bu Aida mulai curcol berbagi cerita kepada sang asisten rumah tangganya.

__ADS_1


"Kemana, sih, Bu?" tanya bi Surti penasaran. Sedangkan kedua belah tangannya masih aktif naik rurun di bagian betis Bu Aida.


"Tadi saya habis dari rumah orang pintar. Saya berusa mencari syari'at ke orang itu untuk membuat Dhena cepat enyah dari Hariz," ucapnya kemudian.


"Ibu beneran ke sana? Istighfar, Bu. Nanti salat Ibu bakalan gak diterima selama empat puluh hari, lho, kalau datang dan percaya sama dukun yang suka ngaku-ngaku orang pintar itu," tutur bi Surti mencoba mengingatkan.


"Jangan sok mendakwahi saya kamu, Surti."


"Owh, iya, saya lupa, Ibu, kan, gak pernah salat, ya," ceplos bi Surti menutup mulutnya.


"Ibu ini kan sekarang sudah tua, harusnya sudah mulai tobat dan Istiqomah beribadah. Jangan malah mikirin buat jahatin orang terus. Memang gak capek, apa?" Bi Surti semakin gencar menasihati majikannya yang sontak saja membuat Bu Aida seketika berang.


"Mulut kamu, tuh, berisik ya, Surti. Sudah sana ke dapur jadi ilfeel saya liat muka kamu yang mirip kek cobekkan sambel," usir Bu Aida menarik kakinya dari pangkuan bi Surti.


Bu Aida tak mempedulikan omongan asisten rumah tangganya itu yang dianggapnya sableng.


"Belum tahu dia, kalau Surti ini bukan pembantu biasa yang sudah malang melintang di dunia perbabuan seantero jagat dari dalam maupun luar negeri." Bi Surti terus berbicara sendiri sambil melangkah ke arah dapur. Tangan kanannya meraih getuk yang ada di meja makan yang dibelinya tadi pagi di tukang sayur keliling.


***


Dhena sedang menjemur bayinya di depan rumah ketika bi Kemproh melintas dan berhenti di hadapan Dhena. Sedangkan Fathan sedang bermain di rumah Mbak Asih sejak pagi tadi dengan teman sepantarannya.


"Kalau jemur anak bayi itu matanya dihadapkan langsung ke arah cahaya matahari biar matanya sehat," saran bi Kemproh sok tahu.

__ADS_1


Mendengar saran dari bi Kemproh yang masih saudara dari suaminya itu Dhena hanya berighstifar dan bergidik ngeri. Jika saja ia belum tahu kalau yang disarankan bi Kemproh barusan itu bisa mencelakakan bayinya sendiri.


"Ma'af, Bi. Yang benar itu kita harus menghindari kontak mata langsung dengan sinar matahari karena jika itu terjadi akan menyebabkan kebutaan." Dhena berusahsa meluruskan pandangan bi Surti.


"Kamu, tuh, ya, kebiasaan. Kalau dikasih tahu orang tua bisanya ngebalik-balikin terus. Gak pernah menghargai saran dari wong tua," ujar bi Kemproh sinis.


"Pantes saja Hariz lebih memilih mempunyai istri lagi. Mungkin sebel sama kamu yang gak pernah manut kalau dibilangin," sambungnya mulai berbicara tak tentu arah. Kemudian berlalu menuju rumahnya sambil terus menggerutu seorang diri.


Hampir di puluh menit Dhena menjemur bayinya. Lalu ia membawanya ke kembali ke dalam rumah dan mengganti popok yang mulai basah terkena ompol.


Sedangkan Hariz sedang duduk di kursi kamar menghadap ke arah layar laptop. Mengerjakan tugas administrasi yang harus diselesaikannya di tempat ia mengajar. Karena kebetulan hari Minggu hingga ia bisa bekerja dengan sedikit santai di rumah sendiri.


Suara nyaring klakson mobil dari arah depan rumah menjejutkan Hariz. Kemudian ia meninggalkan pekerjaannya lalu bergegas melangkahkan kaki ke arah pintu depan untuk memastikan siapa yang datang. Dilihatnya seorang perempuan yang sudah dikenalnya turun dari mobil dan mulai berjalan ke arah teras rumahnya. Ditangannya terdapat sebuah kado berukuran besar yang didekap di depan dadanya.


Tangan Hariz memutar hendel pintu lalu mendorongnya perlahan. Dirinya ke luar menghampiri wanita yang kini sudah berdiri di hadapannya.


"Aku mau ngasihin ini, Mas ke Mbak Dhena, ujar Nelly sebelum ditanya terlebih dahulu oleh pria yang kini menghampirinya.


Hati kecil Hariz ingin menolak dan menyuruh wanita itu segera pergi dari teras rumahnya sebelum Dhena mengetahui sendiri keberadaan Nelly yang kini sudah berada di sana. Tapi, niatnya urung. Tatkala pria itu mengingat kebaikan Nelly yang sudah banyak menolongnya terutama saat perempuan itu memberikan amplop cokelat kepadanya saat kemarin berada di rumah sakit untuk menutupi semua kebutuhan dan biaya Dhena dan bayi mungilnya.


"Apa boleh Mas saja yang memberikan bingkisan ini untuk Dhena nanti. Kamu boleh pulang lagi aja ke rumah. Karena Mad khawatir akan terjadi salah faham dan terjadi hal yang tak diinginkan," saran Hariz sangat hati-hati agar wanita keduanya itu tidak sampai tersinggung oleh kata-katanya.


Nelly menatap tajam ke arah Hariz. Kemudian menjawab, "Mas, kenapa kamu tidak pernah memberikan aku kesempatan untuk bisa dekat dan akrab dengan Mbak Dhena, sebagai kakak maduku sendiri? Kenapa kamu selalu membuat sekat seolah aku dan istri pertamamu itu jangan sampai bisa bersatu dan akur?" Pertanyaan dari Nelly cukup membuat Hariz salah tingkah.

__ADS_1


__ADS_2