
***
Bu Aida memasuki rumah dengan langkah panjang dan tergesa. Ia mendapati Dhena sedang sibuk di dapur. Wanita setengah baya itu langsung menghampir Dhena untuk segera meluapkan seluruh emosianya yang sudah memuncak di ubun-ubun.
"Kamu sengaja, ya, bikin Ibu kelimpungan nyari-nyari kamu di tengah kerumunan orang banyak?" hardiknya kepada Dhena yang tengah sibuk mengupas kentang.
"Ma'af Bu, Saya kira Ibu sudah pulang ke rumah terlebih dulu." Dhena berusaha menjelaskan.
"Pinter ngeles kamu Dhena. Dasar menantu tak berguna!" cacinya tanpa rasa perasaan.
Dhena memejamkan netranya meredam rasa nyeri yang menjalar di bagian ulu hati dan rongga dada. Perempuan yang sedang hamil itu tak lagi bisa meneruskan penjelasannya.
Hanya satu kata yang mampu menguatkan hatinya, yaitu, sabar. Satu kata yang sangat mudah diucapkan, tapi sangat sulit ketika diaplikasikan dalam sikap.
Ketika ia dihadapkan dengan keadaan seperti itu, wanita berkulit cokelat itu selalu mengingat pesan sang ibu yang dulu tak pernah bosan memberikan nasihat kepadanya.
"Kesabaran itu merupakan kendaraan yang tak kan pernah tergelincir, dan sikap menerima itu ialah pedang yang tak pernah tumpul." Itulah nasihat yang sering kali diulang oleh Bu Aminah kala melihat anak perempuannya itu sedang dilanda masalah berat hingga membuatnya terpuruk.
Dhena menyelesaikan pekerjaan di dapur dengan dibantu Mbok Dar tetangga rumahnya yang sebelumnya sudah dimintai bantuannya oleh Bu Aida beberapa waktu kemarin.
***
Jam setengah empat sore sebagian tamu Bu Aida sudah pada berdatangan. Ibunya Hariz itu sudah bersiap-siap untuk menyambut tamu-tamunya. Dengan dandanan yang super wah bak ibu-ibu sosialita high class wanita setengah baya itu berdiri anggun di depan rumah.
__ADS_1
Terlihat kendaraan roda empat berwarna hitam terparkir tepat di halaman rumah. Seorang wanita turun dari mobil itu dan melangkah anggun menhampri Bu Aida.
"Assalamualaikum, Ibu sehat?" Wanita muda itu mengucap salam seraya dijawab dengan sumringah oleh Bu Aida kemudian kedua orang yang sudah terlihat sangat akrab dan dekat itu berpelukan hangat dan saling menempelkan pipi kanan kirinya masing-masing.
Nelly sengaja datang seorang diri, karena Vito sedang diajak jalan oleh keluarga budenya ke luar kota.
"Lama kita gak ketemu, ya, Ibu kangen sekali sama kamu Nelly," ujar Bu Aida tersenyum manis. Tangan sebelah kanannya merangkul pundak wanita yang ternyata itu Nelly dengan begitu akrab.
"Ayo, Nak, kita langsung masuk ke dalam rumah aja. Sudah banyak tamu ibu yang pada datang juga, tuh," ajaknya membimbing Nelly untuk memasuki pintu.
"Oya, Ibu-ibu ... Kenalin ini menantu saya yang sekarang. Dia ini wanita smart dan cantik yang mempunyai kesibukan mengelola beberapa butik yang berada di mall juga sebagai tenaga pendidik di sekolah tempat anak saya bekerja." Dengan bangga Bu Aida mengenalkan Nelly kepada teman-temannya.
Ibu-ibu yang lain saling berpandangan dan saling berbisik, "Itu istri kedua Hariz. Kasihan ya, Dhena istri pertamanya."
"Silakan ibu-ibu diminum dan dicicipi dulu hidangannya." Bu Aida menyilakan tamu-tamunya. Terdapat berbagai jenis dan macam makanan di sana. Ada buah-buahan lengkap, kue basah dan kering juga soto ayam sebagai pelengkap. Yang ternyata semua modal yang dipakai oleh Bu Aida untuk menjamu teman-temannya itu tak lain dan tak bukan sebagian uangnya dapat dari pemberian Nelly. Hingga Bu Aida bisa menyuguhi tamunya dengan begitu maksimal dalam menu makanan.
Bu Aida berjalan ke arah dapur. Ia menghampiri Dhena yang sedang ngobrol dengan Mbok Dar karena pekerjaannya sudah dianggap selesai.
"Dhena, kamu bawain lagi satu panci Soto yang masih hangat ke depan," titahnya kemudian.
Dhena mengangguk kepala patuh. Tak lama dengan menggunakan mangkuk berukuran sedang Dhena mulai membawa soto panas itu untuk dihidangkan di depan tamu-tamunya Bu Aida.
Ketika Dhena hendak menaruh soto yang masih mengepulkan asapnya itu di meja tiba-tiba kakinya tersangkut tali tas milik salah satu temannya Bu Aida yang diletakan di lantai. Dhena yang tak mampu menjaga keseimbangan tubuhnya jatuh tersungkur yang mengakibatkan soto panas itu menyambar badan Nelly dan sebagian wajahnya karena posisi Nelly sedang duduk melantai, melingkar bersama ibu-ibu yang lain.
__ADS_1
Semua menjerit histeris. Terutama Nelly seketika memekik karena menahan panas yang luar biasa di sebagian wajah sang anggota tubuhnya yang lain. Insiden yang di luar perkiraan itu membuat Dhena merasa shok karena sudah tak sengaja membuat adik madunya itu kesakitan menahan panas.
Terlebih Bu Aida yang seketika menampakkan muka geramnya ke arah Dhena.
"Kamu sengaja ya, ingin mencelakakan menantu kesayangan saya ini?" hardiknya kepada Dhena di depan banyak orang seperti itu.
Dhena menggeleng dengan tubuh bergetar antara menahan malu dan pilu karena sudah dicaci dan dimaki habis-habisan oleh ibu mertuanya sendiri. Sedangkan Nelly langsung dibawa ke klinik terdekat oleh salah satu teman Bu Aida yang kebetulan bisa membawa mobil.
Bu Aida ikut serta mengantar Nelly yang terus merintih menahan rasa terbakar di bagian kulit yang terkena siraman air soto yang masih panas.
Dhena dibantu Mbok Dar mulai membereskan dan membersihkan ruang tamu yang tergenang oleh air soto yang tidak bisa diselamatkan. Setelah semuanya kembali bersih dan rapi kemudian Mbok Dar langsung pamit kepada Dhena sambil berucap, 'Neng Dhena yang sabar, ya," ucapnya mengelus rambut Dhena seperti kepada anak perempuannya sendiri.
Apalagi mbok Dar hidup seorang diri karena di masa tuanya itu ia sudah ditinggal untuk selamanya oleh sang suami dengan posisi tak mempunyai keturunan. Oleh karena itu ia sudah menganggap Dhena sebagai anak sendiri dan selalu berusaha menguatkan Dhena ysng hidup jauh dari orang tua dan sanak keluarganya. Karena harus ikut tinggal di kampung halaman sang suami.
Dhena mengurung diri di kamarnya. Ingin sekali ia cepat pergi dari rumah yang baginya sudah seperti neraka panas. Tapi, mengingat ia sedang hamil membuat Dhena menjadi dilema menentukan pilihan.
Dhena meraih ponselnya lalu mencoba mengirim pesan kepada seseorang. Karena menurutnya sudah tak ada pilihan lain selain ia menepikan diri dari orang-orang yang terus melukai hati dan membuat jiwanya tertekan lahir batin. Dhena bersyukur beberapa hari kemarin ia sudah diberi kesempatan bertemu dengan sosok lski-laki yang selama ini sudah sangat sering membantunya.
["Mas Gagah. Saya mau minta bantuan. Tolong Carikan tempat kontrakan yang kosong untuk saya]"
Bersambung ....
*Note: Kalau banyak kesalahan saya mohon maaf, ya, karena saya menulis ini setengah merem😬. Jam 12 malam bikin mata sepet. Dan untuk semua like dan komennya saya ucapkan hatur nuhun. Buat Mbak Nina Karlina komennya selalu membuat saya mesem setengah nyengir.
__ADS_1
Salam kenal buat yang sudah mampir di cerita ini. Love u all🥰😍