Ujian Kesetiaan

Ujian Kesetiaan
Kehangatan dirumah Emak


__ADS_3

"Nggak usah pulang Ai, makan malam disini dulu. Pulangnya selepas isya. Emak sudah masak banyak tadi, mau bikin ikan pepes juga, Alia paling suka dengan ikan yang pepes," pinta Emak sambil membungkus ikan nila yang sudah dimarinasi dan ditambah dengan berbagai rempah dengan daun pisang.


"Wah ... pastinya enak, Mak. Iya kami makan disini aja, Mak. Hemat tenaga nggak perlu repot, pulang tinggal tidur ... hihi," ujar Ai cengengesan


"Haha ... maunya ya, Ai," ucap Emak


"Haha ... bisa aja kamu, Ai. Kayaknya hanya satu menantu macam kamu didunia ini, Ai," ucap Al nongol tiba-tiba.


"Memang aku menantu seperti apa, Mas?" sambil mencubit pinggang suaminya dengan kesal. Ai sudah paham dengan yg suaminya maksud.


"Satu-satunya menantu yang nggak tau malu, haha," sambil tertawa lepas.


"Ngomong lagi ya mas, Ai pukul ya," sambil memukulkan sendok yang ada ditangannya.


"Mak, tolongin, Mak! Belum juga ngomong sudah main timpuk aja," tertawa lagi sambil menjauh


"Malu Al, sama anak," teriak emak.


Suasana seperti ini yang membuat semakin dekat dengan keluarga, membuat orang tua semakin bahagia melihat anak dan menantunya akur.


"Ai ... emak dibantuin jangan cuma liatin," Al nongol lagi sambil membawa gelas kosong ditaruh di wastafel.


"Atau ambil popcorn dulu, Ai. Buat bekal nonton emak masak," tertawa lepas lagi dan berlari meninggalkan dapur. Kali ini Ai nggak menjawab, hanya mendelik kesal.


"Emak bakalan kangen suasana seperti ini ya, Ai,"


"Doakan kami ya,Mak. Semoga kami berhasil. Ai kasihan lihat Mas Al, Mak. Meski diluar bisa tertawa lepas tapi hati kecilnya penuh rasa bersalah karena sudah lebih dari satu tahun ini tidak bisa kerja."


"Ai pernah menjumpai mas Al sedang melamun, sambil terucap rasa penyesalan, Mak. Ai sebagai istri ingin memberi dukungan untuk mas bangkit, membuktikan bahwa Mas Al adakah seseorang pemimpin, yang mampu membahagiakan keluarga. Allah memberi cobaan sesuai dengan kemampuan hamba-Nya, dan kita manusia harus berusaha, tidak boleh menyerah," Ai melanjutkan.


"Terimakasih ya, Ai. Kamu sudah menjalankan peran menjadi istri yg baik. Emak sangat bersyukur, maafkan emak ya Ai, tentu sikap emak pernah melukai perasaan Aini,"

__ADS_1


"Maafkan Ai juga ya, Mak. Ai yang egois, Ai malu dengan diri sendiri mengingat sikap Ai, Mak,"


"Kamu menantu yg baik Ai, kamu istri yang baik, kamu juga ibu yang baik Ai. Emak bersyukur sekali" ucap emak tulus.


"Terimakasih ya, Mak. Sudah mendidik Al dengan baik, sehingga Mas Al bisa menjadi sosok suami dan ayah yang baik. Emak yang repot mendidik giliran sudah besar malah sama, Ai." tersenyum malu malu


"Apaan si Ai, itu sudah jadi arus kehidupan. Dulu waktu Al belum menikah saja Emak sering memaksa buat nikah, giliran sudah nikah masa mau memisahkan kalian. Ada-ada saja kamu, Ai," emak terkekeh


"Tapi jujur Ai, Emak masih sering menganggap kalau Al itu masihlah anak kecilnya emak. Maaf ya kadang emak memperlakukan Al seperti anak kecil,"


"Iya Mak, Ai paham kok. Ai aja kalau lagi kerumah mama serasa masih anak kecil mama,"


Hubungkan yang baik itu tidaklah tercipta begitu saja, tapi membutuhkan proses dimana salah satunya harus mau mengalahkan egonya, jika keduanya terus mementingkan ego sendiri maka yang ada hanya kekesalan, kecurigaan, kegelisahan yang berakhir dengan permusuhan. Terkadang prosesnya menguras air mata, terutama hubungan mertua dan menantu. Karena ada saja persoalannya, terutama yang masih tinggal satu rumah. Tapi perlu digarisbawahi tidak semua tapi kebanyakan.


Semakin kesini Ai semakin menyadari, bahwa seorang anak laki-laki itu bertanggungjawab terhadap orangtuanya sampai akhir. Surganya laki-laki ada dikaki ibunya, berbeda dengan wanita. Surganya seorang wanita ada ditangan suaminya. Wajib taat terhadap suaminya. Tapi untuk taat kepada suami juga membutuhkan perjuangan yang tidak mudah. Seorang istri Solehah jika disuruh suami untuk melakukan kebaikan dia patuh dan tidak membantah atau mengabaikannya. Penuhi hak-hak suami, dan kebiasaan dikhalayak umum yang seorang istri maupun suami fokusnya adalah kewajiban pasangan alias fokus hak diri sendiri, makanya tidak ada titik temu menyebabkan sering terjadi kasus pertengkaran bahkan berakhir perceraian. Padahal pelajaran PPKn sendiri kita berkali-kali dijelaskan oleh guru kita diskolah bahwa kita harus mengutamakan kewajiban kita baru menuntut mendapatkan hak. Haha ... kok sampai ke pelajaran PPKn ya .... Jadi sangat jelas jika diterapkan dalam kehidupan rumah tangga jika masing-masing kita mengutamakan kewajiban terhadap pasangan maka dunia akan damai, aman, sentosa, (jika semua fokus membahagiakan orang lain). 😄 mbayangin dulu yaaa....


"Ai, pepesnya dibalik dulu. Biar matang sempurna"


"Peffff ...," emak terkekeh


"Auwww ... panas, Mak!"


"Jelas panas lah Ai, kalau dingin itu sikap suamimu sebelum mengenal kamu. Nggak nyangka Ai, Al bisa bersikap seperti sekarang,"


"Tapi sikap mas Al seperti sekarang juga spesial hanya untuk kita Mak, diluar sana tetap macam es batu," Ai terkekeh sambil mengibas ngibas tangan karena efek panas sedang membalik ikan pepes. Jangan membayangkan pepesnya pakai alat seperti anak jaman sekarang ya. Ini pepesnya pakai sangan bentuknya seperti wajan pada umumnya tapi terbuat dari tanah liat.



"Sebentar lagi matang ya, Mak?"


"Ai mau nyiapin piring dulu, Bapak apa masih sering ngopi, Mak? Biar Ai buatin,"

__ADS_1


"Bapak sekarang jarang ngopi Ai, air putih saja semuanya. Kata bapak lagi merubah diri, ikut pola hidup sehat,"


"Hayo, ngomongin Bapak ya?"


"Si bapak ini, main serobot saja minuman emak itu. Mana berani ngomongin Bapak ya, Ai?" Emak meminta pembelaan menantunya


"Haha .... Mak, tuh bapak dibelakang Emak lagi mau mukul pakai kaca mata,"


Emak menoleh, dan bapak pura-pura menggaruk kepala.


"Ah Ai, ... kamu nggak teman. Ternyata kamu timnya Emak. Bapak mau ikut Alia aja lah yang lagi main boneka, biar Alia jadi timnya bapak," pura-pura cemberut, Ai dan emak tertawa kompak.


Bapak dan Al tampak sudah rapi dengan baju koko dan sarung. Hendak ke masjid untuk menunaikan kewajiban sebagai hamba Allah untuk menjalankan sholat Maghrib. Alia ... tentu saja mengikuti kemana ayah dan kakeknya sekarang. Dari tadi Alia tidak pernah jauh dari kakek dan Ayahnya, bener kata orang anak perempuan cenderung lebih dekat dengan ayahnya. Ayahnya menjadi sosok cinta pertamanya seorang anak perempuan.


"Nda ..., Nek ..., Nda ..., Nek ...," panggil Alia bergantian


"Iya, Sayang," ucap Ai dan emak bersamaan.


"Alia mau ikut Ayah sama kakek ke musyola ya. Mau ikut ngaji kakak-kakak,"


"Iya, Sayang. Pandai cucu nenek. MasyaAllah," sambil mecubit pipi chubby .


"Hati-hati cantiknya bunda,"


"iiih kenapa siii ... suka syekali cubit cubit pipi adek" Alia merengek.


"Udah ayok jalan keburu iqomah," Kakek menengahi. Jika dilanjut nggak ada habisnya.


"Ai, popcorn sudah habis belum. Emak sudah selesai masaknya. Kalau masih sisa buat nonton besok" kabur setengah berlari mengikuti langkah anak dan bapaknya. "Huh .... Mas Al," Ai sambil melotot kearah suaminya.


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...

__ADS_1


__ADS_2