Ujian Kesetiaan

Ujian Kesetiaan
Kejelian Trio


__ADS_3

Indri pagi ini datang dengan pakaian yang sangat sopan seperti halnya teman-teman yang lain. Tutur katanya juga sudah berubah, teman-teman yang awalnya cuek kini mulai nyaman dengan perubahan yang ada pada Indri. Begitu juga dengan Al dan Aini, sangat senang dengan perubahan Indri. Indri sangat patuh dengan aturan, kerjanya juga rajin seperti yang lain tidak ada kata-kata yang terkesan menggoda kepada karyawan lawan jenis. Semua itu tak luput dari pengamatan mereka.


"Indri kemana Tri, baru datang kok sudah nggak kelihatan,"


"Tadi ijin setengah hari untuk hari ini, masuk siang katanya, Alhamdulillah banyak perubahan pada Kak Indri ya Mak," jawab Lastri.


"Iya Tri, ternyata tak ada yang tidak mungkin jika Allah berkehendak," ucap Mak Dang.


"Makanya kita tidak boleh menghakimi. Tapi kamu merasa curiga nggak sih Tri, aku tetap melihat aneh kemarin pas teman-teman lagi sholat asar, dia cekikikan sendiri. Sambil melihat kanan kiri nggak jelas seperti ada yang disembunyikan," ucap Mak Dang lagi.


"Ada apa ya Mak, kok aku merinding. Jangan-jangan kambuh,"


"Ngomong apa sih kamu Tri, masa kambuh, memangnya Indri sakit?"


"Semoga perubahannya bener-bener dari hati bukan karena suatu hal, tapi tidak ada salahnya kita mesti waspada," Lastri berpendapat.


"Aamiin," mengaminkan doa Lastri.


"Lastri, Mak Dang, Izal, Soleh kemari!" teriak Trio.


"Kenapa mesti teriak si Yo!" jawab Izal.


"Nggak usah banyak omong, kemari saja. Yang lain juga coba kesini, apalagi yang biasa pakai air!"


"Semua orang pakai air Yo, tapi bukan air situ melainkan dikamar mandi," gerutu Soleh.


"Ada apa si, pagi-pagi sudah heboh!" Al mendekat.


"Pak Al, coba perhatikan air ini. Ada yang aneh kan?" ucap Trio.


"Aneh bagaimana Yo, air jernih dan seger,"

__ADS_1


"Kamu nggak usah jawab Lastri, aku lupa ngapain kamu ikut dipanggil kesini, kamu nggak akan paham maksudnya," gerutu Trio.


Pak Al Ghazali masih mengamati air tersebut, memegang dan menciumnya dengan serius akhirnya paham dengan maksud Trio.


"Yo hari ini tim kamu akan bekerja lebih ekstra lagi, harus menguras bak penampungan ini, terimakasih buat kamu Yo, kamu sangat jeli dalam bekerja. Saya merasa ada yang janggal ini. Tak biasanya air tercemar minyak seperti ini, jelas-jelas ini posisi jauh dengan dapur yang biasa buat masak," ucap Al tegas.


"Alhamdulillah Trio, Mak Dang ikut senang Allah memang Maha Penyayang. Coba kalau nggak jeli, pastinya buatan hari ini dan beberapa hari kedepan busuk," ucap Mak Dang lega.


"Lanjutkan saja, bagian lain bisa membantu biar cepat selesai, pastikan sampai benar-benar tak tersisa minyaknya. Meski sedikit akan tetap berpengaruh, awal saya buat dulu seperti itu" ucap Al mengenang masa awal pembuatan.


"Kalian lanjutkan, saya mau memeriksa sesuatu dulu. Mak Dang dan Izal ikut saya," titah Al.


"Baik, siap," Al meninggalkan ruang kerja menuju ruang khusus, diikuti Izal dan Mak Dang. Keduanya karyawan terlama yang menyaksikan pertumbuhan usaha yang dirintis dari nol. Salah satu kamarnya digunakan sebagai ruang khusus, tertata meja kerja dan sofa disana.


"Duduklah Mak, Zal, duduklah. Alhamdulillah Allah memberikan pertolongan disaat yang tepat," ucap Al penuh syukur.


"Iya Mas, Alhamdulillah Trio jeli melihat airnya. Mas, kok bisa ya air itu minyaknya termasuk lumayan banyak, rasanya sangat janggal. Rasanya ada unsur kesengajaan," Mak Dang sambil menerawang.


"Iya Pak, kalau tidak ada unsur kesengajaan maka kemungkinan minyak sangat sedikit dan tidak terlihat. Misal habis makan cuci tangan disitu tentu kadar minyaknya tidak akan sebanyak itu,"


"Kemarin masih baik-baik saja ya, kemungkinan itu minyak ke bak sekitar kemarin sore, malam atau pagi hari. Aku ambil laptop dulu, biar kita amati sama-sama nanti," ucap Al enteng.


"Pak Al, sudah pasang CCTV rupanya?"


"Nggak usah ngegas ngomongnya Zal, kalem saja kenapa?"


"Pak Al suka bikin kejutan sih, iya kan Mak," dijawab dengan anggukan.


"Tapi tolong jangan kasih tau yang lain. Aku menganggap kalian itu seperti keluarga kandung, terimakasih sudah menemani masa-masa sulit kami," ucap Al tulus.


"Jangan gitu Mas, nanti aku nangis karena terharu,"

__ADS_1


"Sini mendekat, kita amati hari kemarin sampai pagi ini saja ya, aku langsung klik tanggal hari kemarin,"


Mereka mengamati pergerakan monitor yang terpampang sore kemarin sampai pagi ini, mereka terkejut sangat gambar itu.


"Astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah," Mak Dang berkali-kali mengucapkan itu.


"Nggak nyangka beneran Pak, Izal lihat asli nggak percaya kalau sebelumnya Izal belum tau siapa dia. Mengingat dia dulu seperti apa maka mau tak mau harus percaya."


"Berarti ada kaitannya dengan ijin dia pagi ini Mas? Astaghfirullah segitunya,"


"Bagaimana langkah selanjutnya Pak?"


"Mak Dang dan Izal bersikaplah seolah tidak tau apa-apa, begitu juga denganku. Aku akan bersikap sewajarnya, yang penting kalian waspada. Untuk anak-anak yang lain juga. Seolah hari ini tidak terjadi apa-apa, jangan ada satupun yang mengatakan bak kena minyak dan dicuci. Tutup rapat kejadian pagi ini, nanti kita lihat reaksi dia seperti apa. Saya masih menunggu itikad baik dia untuk mengakui kesalahan, paling tidak mengundurkan diri tanpa harus aku yang mengeluarkan," ucap Al menjelaskan.


"Ya sudah, kita kembali ke belakang. Nanti aku mau ngomong ke mereka tentang tutup rapat kejadian pagi ini. semoga sudah selesai mereka,"


"Mak, mukanya biasa saja. Jangan gitu," ucap Izal melihat Mak Dang yang masih kebingungan.


"Iya ... iya. Laki-laki kok cerewet."


"Haha ... si Emak lagi ngambek," Izal meledek Mak Dang.


Al meminta semua karyawan berkumpul, sesuai rencana mereka diminta tutup mulut dengan masalah ini dan tidak mengusut siapa dan kenapa mesti terjadi. Yang terpenting proses pengurasan dan pembersihan sudah dilakukan dan hikmahnya kita jadi lebih teliti dalam melakukan pekerjaan. Setiap kejadian pasti ada hikmahnya, sengaja tidak menceritakan tantang siapa yang mencampur minyak kedalam air supaya suasana tetap tak berubah ketika nanti Indri datang.


"Eh Kak Indri, baru kelihatan kemana saja tadi?" ujar Soleh.


"Ijin setengah hari Bang Soleh, sudah ijin sama Pak Bos, memangnya kenapa Bang?"


"Kangen mungkin Kak, jadi tanyain Kakak," Izal jail.


"Izal, nggak lucu becanda gitu. Kak Irma punya suami, ngawur. Masa nanti aku dikenal laki-laki penggoda istri orang, ngeri jadinya kan?" ucap Soleh sewot.

__ADS_1


Gerak gerik Indri tak luput dari pengawasan Izal dan Mak Dang, wanita yang sangat pintar begitu lihai menutupi kepura-puraan.


Indri sendiri sudah merasa berbunga-bunga, pasalnya rencananya tidak ada yang mencurigai. Hatinya bersorak gembira tinggal menunggu berita esok hari produksi tempe gagal total. Indri memperkirakan hari ini air belum sepenuhnya bersih jadi dia akan melakukan aksinya kembali besok.


__ADS_2