Ujian Kesetiaan

Ujian Kesetiaan
Jemput Alia


__ADS_3

Pasal 1365 KUHP berbunyi, "Tiap perbuatan melanggar hukum yang membawa kerugian kepada orang lain, mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan kerugian itu, mengganti kerugian".


Perbuatan Zaki tentunya membuat orang lain tidak nyaman merasa terancam.


Zaki menjelaskan kepada petugas kepolisian tidak ada niat untuk mencelakai keluarga Al hanya untuk menakut-nakuti. Al menyerahkan semua keputusan kepada pihak berwajib. Al siap dimintai keterangan sewaktu-waktu. Dalam hal ini si pelapor bukan Al melainkan Pak Burhan RT setempat karena resah dengan keributan yang di lakukan pelaku.


Sepulang dari Polres Al langsung pulang kerumah untuk segera menemui istri dan adik-adiknya.


Sesampainya dirumah langsung disambut oleh anggota keluarga.


"Astaghfirullah, hari ini luar biasa. Bagaimana tadi, Zal?"


"Alia, Mas. Sebaiknya kita jemput sekarang saja, sebentar lagi perulangan takutnya kita kecolongan, aku masih penasaran siapa yang mengaku Lina,"


"Ya udah, ayo kita berangkat,"


"Kamu ikut, Sayang. Supaya guru Alia paham yang keluarga yang jemput Alia itu seperti apa? Mengantisipasi kejadian yang tak di inginkan kedepannya,"


"Baiklah, aku pengin tidur sebentar sebenarnya," rengek Lina pada suaminya.


"Tidur di mobil lumayan kan 15 menit," karena masih ogah-ogahan Izal segera menggendong istrinya.


"Aku mau, Mas. Kayak mereka,"


"Kakimu masih berfungsi, jangan sampai Allah cabut nikmat itu,"


"Suamiku romantis banget asli, beda dari yang lain pokoknya," ucap Aini sewot.


"Tantunya,"


"Dulu awal menikah begitu aku mau jatuh langsung bilang 'Sayang hati-hati kalau jalan' perubahan sekarang kalau aku mau jatuh 'Kalau jalan pakai mata!' nasib jadi pengantin lama," Aini memperagakan suara mirip Al.


Al terbahak mendengar penuturan istrinya, padahal aslinya tidak begitu. Al tetaplah menyayangi Aini lebih dari awal ketemu malahan. Dulu cintanya bersyarat karena lihat pertama Aini cantik, belum tau ternyata Aini suka buang angin sembarangan, bagaimana gaya tidurmya, yang terlihat hanya kebaikannya, seiring perjalanan waktu tak lagi memandang demikian, cintanya sekarang tanpa syarat. Meskipun tidurnya jumpalitan tetap sayang, meskipun suka buang angin sembarangan tetap sayang.


Tak mau membuang waktu Al menggandeng tangan istrinya, membukakan pintu mobil.

__ADS_1


"Silahkan, Ratuku," Aini tak menjawab penuturan suaminya.


"Kenapa malah ketawa, bukannya itu yang kamu mau? Romantis seperti itu, kan?"


"Mas, lucu tau. Nggak usah dibuat-buat lah, aku mau Mas Al yang seperti biasa. Geli aku melihat perubahan yang seperti ini,"


"Lin, nggak usah pamer kemesraan,"


"Ye ... sirik aja kerjaannya. Aku bukan pamer, tapi kenyataannya memang kita seperti ini mau bagaimana lagi, tapi tenang saja. Kita nggak suka mengumbar kemesraan kok. Aku juga paling nggak suka upload di medsos,"


"Memangnya kenapa, Lin,"


"Ampun, Mba. Banyak banget yang komen katanya gini 'Ih ... tampan banget suamimu, aku mau dong' terus ada lagi yang gini 'aku lebih suka suami orang loh, yang jelas-jelas sudah teruji romantis kaya suamimu’ ada lagi yang komen gini 'mau dong meski jadi yang ke dua' belum lagi yang komentarnya hanya dalam hati lebih bahaya kan, Mba. Suami sendiri di idolakan banyak wanita. Langsung saat itu juga aku hapus postingannya dan kapok, biarlah kemesraan suamiku hanya aku yang merasakannya. Pamernya hanya sama Mas Al dan Mba Aini yang dulu sering gituin aku," ucap Lina sewot, tak ada yang menjawab pertanyaan Lina, mereka hanya terbahak.


"Sayang, katanya mau tidur. Nyerocos terus," Izal mengomentari istrinya.


"Kalau ngomongin gini mana bisa aku tidur, ngantuk sekeyika hilang. Kesal sama teman-teman yang komentar begitu,"


"Hei ... Lin. Siapa juga yang ngomongin mereka, kamu kan? Ngomong sendiri, sewot sendiri," ucap Al. Bagitulah wanita suka cari gara-gara sendiri, sewot sendiri, marah sendiri ujungnya nangis sendiri.


Tak menunggu lama Alia sudah ke kantor bersama wali kelasnya. Alia heran melihat yang menjemput lengkap. Alia di bawa keluar oleh Izal menuju mobilnya, tak baik mendengarkan sesuatu yang belum semestinya.


"Pak, Bu. Mohon maaf atas ketidaknyamanan hari ini. Bu Aini berpesan nanti akan ada yang menjemput namanya Pak Izal. Saya paham Alia sering di jemput sama beliau, namun untuk hari ini kami tidak mengijinkan. Sebabnya sebelum Pak Izal menjemput ada seorang perempuan yang menjemput juga, namanya Mba Lina katanya, jadi nggak mau kesalahannya fatal maka lebih baik Alia kami tahan,"


"Tidak mengapa, Bu. Kami justru bahagia dengan management sekolah ini begitu detail sampai-sampai hal penjemputan juga sangat diperhatikan. Kami tidak tau apa yang terjadi jika penjagaan sekolah tidak ketat, mungkin saat ini istri saya sedang menangis. Kami selaku wali murid dari Alia mengucapkan banyak terimakasih kepada Ibu sebagai wali kelas dan kepada guru dan staf di sekolah ini,"


"Sudah menjadi tugas kami, Pak Al. Murid-murid yang sekolah disini sudah mempercayakan kepada kami, menitipkan kepada kami jadi sudah menjadi kewajiban kami menjalankan amanah dengan baik, Pak,"


"Oh ya, Bu. Kenalkan yg disamping istri saya adik, dialah yang bernama Lina,"


"Sangat tak mirip dengan yang tadi siang, yang siang tadi ciri-cirinya pakaian modis. Maaf bukan maksud mengejek Bu Lina dan Bu Aini, maksudnya dalam artian glamor, berlebihan sangat jauh berbeda sementara Bu Lina dengan tampilan yang sederhana tapi memukau,"


"Jangan berlebihan, Bu. Nanti di terbang,"


"Bu Aini bisa saja, sekali lagi mohon maaf atas ketidaknyamanan ya,"

__ADS_1


"Bu, jika yang menjemput selain kami berempat mohon pihak sekolah konfirmasi, oh iya satu lagi yang bias menjemput Soleh namanya. Yang jelas ketika kami mengutus seseorang buat menjemput maka kami akan mengabarkan lewat telpon,"


"Baik, Pak. InsyaAllah siap,"


"Kami pamit undur diri, Bu. Terimakasih," meninggalkan kantor sekolah Aini, menuju Izal bersama Alia sedang membeli jajan di kedai, depan gerbang sekolah.


"Alia jajannya jangan kelamaan, tuh sudah ditunggu ayah, bunda, sama Tante,"


"Iya, Om. Tinggal pembayaran, bendahara sudah siap,"


"Oke bos siap, yuk. Ngomong-ngomong kau tau bendahara darimana?"


"Itu loh, di kelas ada bendahara yang pegang uang,"


"Bisa saja, ponakan siapa di cerdas banget. Gandong saja yuk,"


"No ... tak mau, Om. Malu dilihat teman, aku sudah besar,"


"Oh ... jadi sekarang sudah besar ya. Baiklah kita jalan, let's go!"


"Kenapa yang jemput rame-rame, memangnya kita mau lanjut jalan-jalan?"


"Bicaranya di mobil saja, Sayang. Yuk mau duduk dimana?"


"Sama Tante Lina, Bun," Alia masuk bareng Lina dan Izal.


"Sayang, senang dijemput rame-rame?"


"Senang ayah, tapi aku bingung. Alia takut ada apa-apa,"


"Alia, dengerin bunda bicara ya. Jika yang menjemput Alia bukan ayah, bukan bunda, bukan Tante Lina, om Izal, Om Soleh maka Alia nggak boleh ikut, Alia paham,"


"Iya ayah, tadi ada yang maksa Alia untuk ikut tante-tante, aku teriak nggak mau dan masuk kelas,"


"Kamu paham siapa orangnya?"

__ADS_1


"Emmm ..."


__ADS_2