Ujian Kesetiaan

Ujian Kesetiaan
Diantar Pulang


__ADS_3

"Bunda, kenapa Ayah gak bisa tiap hari tinggal di rumah bareng kita, sih?" Pertanyaan polos Vito yang kritis membuat Nelly tertegun.


"Iya, Sayang, karena Ayah sedang punya kesibukan lain di lua sana," jawab Nelly sekenanya berharap Vito tak melanjutkan tanyanya.


"Tapi, teman aku, Bun, tiap hari ayahnya itu selalu ada di rumah terus, lho. Hari Minggunya dia bisa jalan-jalan, pelesir ke pantai, ke mall, bareng ayahnya." Vito masih terus mengeluarkan jurus protesnya sehingga membuat Nelly bertambah kebingungan harus menjelaskan bagaimana lagi kepada anak tunggalnya itu.


Hati wanita berparas ayu bertambah nelangsa jika mengingat kehidupan Vito, buah hatinya itu sejak bayi merah belum pernah merasakan bagaimana diasuh dan diberikan kasih sayang oleh sosok seorang ayah secara utuh. Karena Hariz sendiri yang kini sudah menjadi suaminya pun belum bisa membersamai Vito setiap saat ketika Vito membutuhkan kehadiran ayah sambungnya itu. Karena masih ada Dhena dan Fathan yang lebih menjadi prioritas Hariz dalam kehidupannya.


"Vito, yang sabar, ya, nanti lain kali jika sudah ada waktu kita pun bisa main atau pelesir ke tempat yang Vito inginkan bersama bunda sama Ayah," hibur Nelly berusaha memberi harapan kepada sang buah hati.


"Gak mau kapan-kapan, Bun. Aku maunya sekarang," Vito mulai merajuk. Ia hanya bocah polos yang belum bisa mencerna keadaan sang bunda yang sebenarnya membuat hati Nelly kembali terenyuh jika sedang menatap sorot mata Vito. Nelly bisa merasakan keadaan hati putranya itu yang begitu merindukan sosok seorang ayah seutuhnya yang bisa menemaninya setiap saat tanpa harus berbagi waktu dengan yang lain.


'Mungkin inilah resiko jika menikah dengan laki-laki yang sudah berkeluarga. Sehingga aku dan Vito harus menelan setiap kenyataan pahit yang datang kapan saja,' batin Nelly dalam hati.


Namun, penyesalan tinggal penyesalan. Karena kini ia sudah berada di tengah-tengah kehidupan antara Hariz dan Dhena.


"Vito besok bisa pergi ke kolam renang bareng Bunda, ya, Sayang. Walaupun kita cuma pergi berdua tapi, Bunda janji akan membuat Vito berenang dan bermain sampai puas nanti di sana," pungkas Nelly berharap Vito berhenti menyesali keadaannya yang katanya berbeda dengan temannya yang lain.


"Hore ... Asiik! Vito bersorak kegirangan.


Nelly tersenyum bahagia melihat bola mata sang buah hati kembali berbinar.

__ADS_1


***


"Belum pulang?" tanya suara bass seorang pria dari arah belakang mengejutkan Dhena yang masih berdiri di pinggir jalan raya sedang menunggu angkot yang akan membawanya pulang.


Di balik kemudi mobil terlihat sosok Gagah sedang menyetir kendaraan roda empatnya yang baru keluar dari gerbang rumah sakit.


"Ayo masuk. Sekalian saya mau bersilaturahmi ke rumah kamu," tutur pria bernama Gagah itu dengan wajah serius.


"Gak usah ragu dan takut, Dhena. Saya gak akan sampai nyulik kamu, kok," imbuh laki-laki itu berkelakar untuk mencairkan suasana. Ketika Dhena sudah duduk sempurna di kursi persis di sampingnya.


Di dalam mobil mereka berdua saling membisu. Sibuk dengan pikirannya masing-masing. Bingung hendak mengobrol kan tentang tema apa. Apalagi Dhena yang selalu diliputi rasa canggung ketika berdekatan dengan sosok Gagah yang dulu sempat mengisi ruang hatinya tanpa sepengetahuan pria itu sendiri.


Masih terekam jelas dalam ingatan Dhena ketika ia kehabisan bekal dan uang di kosannya. Gagah seakan mengetahui kondisi Dhena yang sedang pailit, lalu laki-laki itu menyelipkan lembaran berwarna biru di buku yang dibacanya. Dhena yang saat itu berusaha menolak pemberian Gagah akhirnya menerima uang itu setelah laki-laki itu setengah memaksa agar Dhena menerimanya.


Gagah memarkirkan kendaraan roda empatnya persis di samping Hariz yang sedang berdiri mematung. Ia turun terlebih dahulu dan melangkahkan kaki mengitari depan mobil lalu membukakan pintu untuk Dhena yang masih duduk di kursi depan.


Kedua mata Hariz melebar sempurna ketika ia menyadari yang turun dari mobil tak lain adalah sang istri yang sedang ditunggunya sedari tadi.


Kedua telapak tangan Hariz terlihat mengepal, rahangnya mengeras naik turun dengan sorot tajam ia memandangi Dhena dan kaki-kaki yang kini membersamai istrinya.


"Jadi ini alasan kamu waktu kemarin-kemarin minta cerai dari aku?" Suara tinggi Hariz membuat Dhena terhenyak. Ia menjadi salah tingkah merasa dipermalukan oleh suaminya di depan pria yang sudah mengantarnya tadi.

__ADS_1


"Harusnya kamu berterima kasih kepada Mas Gagah yang sudah Sudi mengantar aku pulang. Bukan malah menuduh dan mengintimidasi aku seperti ini," jawab Dhena kemudian penuh penekanan.


"Ma'af, Mas, harusnya kita bicarakan secara baik-baik dulu. Jangan mengedepankan emosi biar gak ada salah paham di antara Mas dan Dhena," tutur Gagah mencoba menengahi.


"Hai ... Bung, jangan sok ikut campur urusan rumah tangga orang!" sela Hariz menatap tajam ke arah Gagah. Yang menurutnya sudah mencampuri urusan rumah tangganya dengan Dhena.


"Tadi saya mengira Dhena ini masih single. Karena pulang-pergi ke rumah sakit sama sekali gak ada orang yang menemaninya. Kalau Anda memang suami yang bertanggung jawab, harusnya Dhena gak sampai mengalami kejadian yang membuat dia terlantar di pinggir jalan raya karena hampir kemalaman." Perkataan Gagah yang seolah memojokkan suaminya Dhena, membuat emosi Hariz semakin memuncak.


"Dhena, sekarang kamu masuk!" hardik Hariz seraya menunjuk Dhena dengan ujung telunjuknya yang mengarah ke pintu rumah.


Dhena yang melihat sorot kemarahan dari mata suaminya menundukkan kepala lalu bergegas membuka pintu rumahnya. Walaupun ia merasa tak enak kepada Gagah yang sudah mengantarnya hingga tak sempat mengucapkan terima kasih karena ulah sikap Hariz yang membabi buta.


Melihat Dhena memasuki rumah, Gagah kemudian bersiap untuk segera memasuki mobilnya kembali. Setelah sebelumnya ia berbicara di hadapan Hariz, "Sebelum menyalahkan istri sendiri ada baiknya Anda intropeksi diri sendiri dulu!" ucap Gagah. Jari telunjuk mengarah ke dada Hariz yang masih bergeming dari tempatnya berdiri.


Gagah kemudian menyalakan mesin mobilnya.


"Hey, Mas, kalau tak bisa jagain istri, kasihin saya aja. Jangan sampai Dhena tekanan batin selama hidup sama njenengan," ungkap Gagah. Melongokkan kepala dari kaca jendela mobilnya yang masih terbuka sebagian sembari tersenyum mengejek ke arah Hariz. Kemudian tancap gas tanpa menghiraukan muka Hariz yang semakin memerah dengan suara gigi yang gemelutuk diliputi kemarahan yang sudah berada di puncak ubun-ubun.


Hariz memasuki rumah dan menutup pintu lalu menguncinya dari dalam.


"Kamu lihat sendiri, kan, bagaimana polah istrimu ketika kamu sedang di luar rumah? Yang terlihat istri solehah dan patuh ternyata bisa berubah menjadi perempuan ****** berani bepergian dengan laki-laki di luar sana," ujar Bu Aida langsung menyambut Hariz dengan hasutan mautnya.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2