
Waktu berjalan begitu cepat. Tak terasa kini usia Fathan sudah memasuki tahun ke tiga. Ia berkembang dan tumbuh menjadi anak yang lincah, periang, dan keingintahuannya yang sangat tinggi. Setiap tingkah dan polahnya selalu menjadi obat penawar bagi Hariz dan Dhena setelah mereka lelah menjalani aktivitas sehari-hari.
Selain itu kebiasaan Fathan yang suka meniru-niru apa yang dilihat dan didengarnya membuat hiburan tersendiri untuk Dhena yang saat ini hanya menjadi ibu rumah tangga sejati yang sehari-harinya menghabiskan waktu di dalam rumah. Walaupun hanya bolak balik antara sumur, dapur, dan kasur.
"Tak na ... tak na ....!" Teriak Fathan bocah usia tiga tahun itu sambil berlari-lari minta dikejar, saat diajak mandi oleh Dhena, melihat polah anaknya seperti itu Dhena jadi tersenyum sendiri.
Mungkin karena seringnya melihat tayangan film animasi Upin-Ipin asal Malaysia di televisi, yang tayangnya tiga kali sehari. Pagi, siang, dan menjelang malam, seperti jadwal minum obat.
Fathan tidak pernah ketinggalan nonton tayangan favoritenya itu.
Sampai bahasa sehari-harinya pun yang digunakannya selalu meniru bahasa Upin-Ipin, dkk.
Padahal yang digunakan kedua orang tuanya sehari-hari di rumah bahasa Indonesia campur Sunda.
Kalau melihat ayahnya mau keluar rumah, dengan antusias dia bilang.
"Ayah, nak kemaneu?" Fathan nak ikut, boeh?" tanyanya, sambil berlari menghampiri sang ayah.
Lagi asyik main sendiri, tiba-tiba di jailin sama Dhena spontan dia bilang.
"Kacaunyeeeu ... ish kau ni, Mama ....!"
Saat bermain sepeda di depan rumah, dengan riangnya dia bersorak.
"Seronoknyeu ... main beysikel ni ..."
Terkadang Mamanya pun dia panggil dengan sebutan Akak garang, dia pikir mamanyanya Kak Ros, yang jadi Kakaknya Upin-Ipin.
Ayahnya pun ia panggil Atuk'.
Suatu hari, saat Dhena sedang berjibaku dengan segunung setrikaan yang sudah seminggu dibiarkan menjulang tinggi, bak anak gunung Krakatau.
__ADS_1
Tiba-tiba Fathan bilang, "Mama, Mama ... Fatih nak ABCD." baca (ei bi si di).
"Owh, Fathan udah mau belajar baca ya, minta ABCD?" tanya sang sang mama sambil khusyu' dengan setrikaannya.
"Nanti kalau Ayah pulang kerja, Fathan boleh minta beliin ABCD-nya ya, sekalian ditempel di dinding buat Fathan belajar baca," jawab Dhena menjelaskan.
Dhena pikir yang diminta anaknya itu poster tulisan ABCD-Z buat belajar baca, yang banyak dijual sama abang-abang di kaki lima.
"Bukan! Mamaa ....!" Fathan mau ABCD yang ada mangkok sama sendoknya!" pintanya lagi kekeuh.
Dhena jadi pusing tujuh keliling, kok, ABCD pake mangkok sama sendok, sih?
Dhena berusaha mikir keras, tapi gak ketemu apa yang dimaksud buah hatinya itu. Gak mau ambil resiko, akhirnya Dhena pun mengiyakan.
Dari pada anaknya nangis kejer guling-guling, bisa-bisa tugas nyetrikanya yang lagi ia garap terbengkalai.
Beberapa hari kemudian, saat Dhena lagi sibuk melipat baju yang baru di angkat dari jemuran, Fathan seperti biasa lagi asyik dengan tayangan kesukaannya.
Dhena melihat di tayangan itu, ternyata Upin-Ipin lagi memakan makanan berupa semangkok es campur, dengan menggunakan sendok.
"Owalaah ... ternyata ABCD yang selama ini Fathan minta tuh bukan ABCD yang berbentuk poster buat belajar baca tho?"
Tapi ABCD singkatan dari,
Es Batu Campur Durian.
Begitulah, hari-hari Dhena bersama keluarga kecilnya penuh dengan kebahagiaan dan kehangatan. Hariz menjadi sosok ayah yang baik dan selalu ada untuk Fathan, sekaligus menjadi sosok suami yang hangat dan romantis bagi Dhena, istrinya.
Kini kebahagiaan Dhena bisa diraih dan dirasakannya kembali setelah ia berhasil melalui dan melewati cobaan dalam rumah tangga yang hampir membuatnya menyerah dan putus asa. Tapi, karena kesabaran dan ketangguhannya hingga ia bisa melewatinya hingga kebahagiaan itu datang menghampirinya.
Andai ia dulu mengedepankan rasa egoisnya mungkin kini Fathan sudah tidak bisa merasakan kasih sayang dari sosok sang ayah. Menjadi anak korban broken home seperti yang pernah dialami oleh Dhena sewaktu kecil hingga ia dewasa. Dan itu sangat menyakitkan dan menorehkan banyak luka di dalam hatinya yang ia bawa hingga dewasa.
__ADS_1
Untuk itu Dhena bertekad dalam hatinya. Sepahit dan seburuk apa pun keadaan dalam rumah tangganya ia berniat akan mempertahankan dan memperjuangkannya demi keutuhan keluarga kecilnya. Agar anaknya jangan sampai merasakan bagaimana rasanya tumbuh dan kembang dari keluarga yang broken home. Karena akan selalu dipandang sepele dan sebelah mata oleh teman, keluarga dan orang sekitar. Dhena tak mau hal buruk itu sampai dialami oleh Fathan.
***
Usai melaksanakan salat Subuh masih dengan balutan mukenanya Dhena terlihat terisak di atas sajadah. Dhena menghampiri sang suami berusaha menumpahkan segala gundah fi dalam dadanya.
"Mas, kalau aku hamil lagi gimana?" tanyanya kepada Hariz yang belum mengetahui jika kini Dhena sedang mengandung anak kedua mereka.
"Ya, gak gimana-gimana. Kalau memang sudah dikasih ya, harus diterima," jawab Hariz kemudian.
"Tapi, masalahnya saat ini aku belum siap untuk hamil lagi, Mas." Dhena menjawab masih sambil terisak. Ia merasa terbebani dengan kehamilannya yang kedua saat ini.
"Kenapa? Kan, ada suaminya," sahut Hariz.
"Aku masih trauma waktu melahirkan Fathan, anak pertama kita, Mas. Aku tak bisa membayangkan harus menahan sakit yang luar biasa seperti itu."
"Ya, gimana lagi, masa harus digugurkan, kan, gak mungkin. Malah jadi dosa besar."
"Iya, tapi aku gak siap, Mas."
Hariz merasa bingung seakan kehabisan akal untuk menenangkan dan menyamangati istrinya. Ia pun berkata lagi, "Mau apa pun dan bagaimanapun ketetapan Allah kita harus bisa menjalaninya. Bukannya kehamilan juga merupakan sudah ketetapan dari Allah? Kenapa kita harus merasa khawatir dan dan merasa takut? Kita harus yakin bahwa Allah akan memberikan kekuatan dan kemudahan kepada kita jika kita bertawakal dan berserah diri keoada-Nya." Panjang lebar Hariz berusaha memberi pengertian kepada sang istri.
Mendengar nasihat dan penjelasan yang seperti itu dari sang suami Dhena baru bisa merasakan ketenangan dalam hatinya. Hati kecilnya membenarkan semua yang barusan disampaikan oleh Hariz. Ia pun mencoba untuk bisa menerima kehamilannya itu. Walaupun masih terbersit rasa ragu dan takut dalam hatinya.
"Tapi ada satu hal yang masih mengganjal dalam hatiku, Mas."
"Hal apa?"
"Jauh-jauh hari sebelum kehamilan ini, aku sering sekali mengalami mimpi kalau kita diberikan anak yang berkebutuhan khusus, Mas. Aku khwatir sekali jika itu akan menjadi kenyataan jika kita mempunyai anak lagi." Dhena meluahkan rasa ketakutan dan rasa khawatir yang selama ini mengganggu pikirannya.
"Lah, itu, kan, hanya mimpi biasa. Hanya bunga tidur."
__ADS_1
"Buktinya dulu aku sering mimpi dimadu. Dan itu semua beneran terjadi kan? Mas sempat memiliki istri selain aku?" cecar Dhena.