
***
Belum ada lima belas hari pasca perceraian antara Hariz dan Dhena. Bu Aida sudah terlihat mulai sibuk mempersiapkan pesta pernikahan Hariz bersama Sandra anak sahabat lamanya itu.
Bu Aida sengaja memaksa Hariz untuk menceraikan Dhena dengan harapan agar Hariz bisa tetap fokus dengan istrinya yang sekarang. Wanita setengah baya itu tak ingin gagal untuk kedua kalinya mendapatkan menantu orang kaya. Seperti yang sudah terjadi dengan Nelly beberapa waktu yang lalu.
Pernikahan Hariz dan Sandra digelar di sebuah gedung mewah dengan pengeluaran biaya yang dikeluarkan 75% dari pihak keluarga perempuan. Tamu yang berdatangan terlihat berjubel terutama tamu dari pihak mempelai wanita. Karena setatus Sandra yang masih gadis dan memiliki banyak teman dan kolega.
Bu Aida terlihat tersenyum bangga dan bahagia duduk di samping pelaminan bersisian dengan besannya. Hariz yang hidupnya bak boneka sang ibu yang bisa diatur sebagaimana kehendak Bu Aida itu duduk gagah berdampingan dengan Sandra yang terlihat begitu memesona berbalut busana pengantin dan riasan yang begitu elegan.
Sedangkan Fathan dan Reza ditinggal dan dititipkan kepada asisten rumah tangganya Bu Aida di rumah. Bu Aida tak ingin anak laki-lakinya itu terlihat sebagai duda beranak dua di hadapan orang banyak. Hingga ia tega menitipkan kedua cucunya itu kepada orang lain.
"Tante, Ayah dan Nenek sedang ke mana, kok, tadi pergi dengan pakaian bagus gak ngajakin aku dan Adek Reza?" Pertanyaan polos dari bibir Fathan membuat Sumi gelagapan.
"Owh, iya, iya, tadi ayah sama nenek Fathan sedang ada acara gitu di luar. Acaranya sangat penting banget, jadi, Fathan gak bisa ikut sama Reza. Kalian berdua biar ditemanin sama Tante saja, ya," bujuk Sumi berusaha menenangkan perasaan Fathan, bocah berumur 5 tahun itu.
"Tapi, aku mau sama Mama aku Tante, kalau sama mama, aku dan Adek Reza gak pernah ditinggal pergi ke jauh selama ini. Aku kangen mama aku, mau ketemu Mama aku."
Ungkapan dari bocah laki-laki itu membuat hati Sumi ikut merasakan terenyuh. Merasa iba dengan kondisi Fathan dan Reza yang seolah diabaikan dan ditelantarkan keberadaannya.
__ADS_1
Tapi, Sumi yang bukan siapa-siapa itu tak dapat berbuat banyak. Hanya bisa patuh ketika Bu Aida memintanya untuk menjaga dan mengawasi ke dua cucunya itu.
"Tante, ayo anter aku bertemu Mama sekarang juga," rengek Fathan yang membuat Sumi menjadi kebingungan dibuatnya. Padahal ia sendiri tak pernah tahu dan tak pernah bertemu dengan sosok Dhena apalagi keberedaannya sekarang. Sumi hanya pernah mendengar sekilas jika Dhena saat itu sudah diantar ke rumah kakak kandungnya yang berbeda daerah dengan tempat tinggal Hariz saat ini.
"Ma'af, Sayang. Bukannya Tante tak ingin membantu dan mengantar Fathan untuk bisa bertemu dengan Mama, tapi, untuk saat ini Tante belum tahu Mamanya Fathan dan Adik Reza kini tinggal di mana." Sumi berusaha memberikan pengertian kepada bocah laki-laki yang bernasib malang itu.
"Kenapa Mama ninggalin aku, ya, padahal aku gak pernah nakal lho, sama Mama, tapi, kenapa Mama pergi jauh. Aku sudah kangen banget sama Mama." Anak pertama Hariz itu masih terus berceloteh meluapkan perasaannya yang sudah lama memendam rindu kepada sang ibu.
***
Kahfi terlihat duduk termangu di balik meja kerjanya. Laki-laki berkulit putih itu sedang memikirkan kondisi adik perempuannya yang terlihat semakin memprihatinkan. Lamunan pria itu buyar ketika ada salah satu rekan kerjanya yang memasuki ruangan.
Kahfi sangat yakin bila Dhena sudah mendapatkan pengganti laki-laki yang jauh lebih baik dari Hariz, adiknya itu pasti bisa kembali pulih dan dapat hidup secara normal kembali. Dan sosok Azzam lah yang menurutnya cocok untuk bisa membantu memulihkan kondisi Dhena yang kejiwaannya sedang bermasalah karena terlalu beratnya tekanan batin dalam kehidupannya.
Kahfi tahu betul dengan seluk beluk dan kepribadian Azzam yang sangat menghormati kaum perempuan. Sebegitu banyaknya kaum hawa yang mencari perhatian darinya sewaktu di tempat kerja atau di luaran, tak ada satu pun yang Azzam tanggapi. Sikapnya yang tak acuh dan dingin kepada lawan jenis membuat ia menjadi sosok pria yang selalu diidamkan oleh kebanyakan para gadis yang masih menyandang status single.
"Zam, kamu kapan memutuskan untuk mencari pasangan hidup?" tanya Kahfi setelah sebelumnya ia mempersilakan rekan kerjanya itu duduk berhadapan.
"Ya ampun, Fi, kamu minta aku datang ke sini hanya untuk menanyakan hal tak penting seperti ini?" jawab Azzam merentangkan kedua telapak tangannya ke samping seraya mengendikan bahu lebarnya.
__ADS_1
"Aku kira ada masalah pekerjaan yang mendadak atau hak penting lainnya, gitu," sambungnya sembari tertawa kecil.
"Ini juga penting, lho, untuk menentukan masa depan kamu agar tak berlama-lama hidup dalam kesendirian," timpal Kahfi tak mau kalah.
"Jika suatu saat aku berniat mengajak makan malam kamu dengan keluargaku kamu mau datang, tak?" tanya Kahfi yang sudah menyusun rencana untuk mempertemukan kawannya itu dengan adik perempuannya.
"Insya Allah, jika tak ada halangan aku pasti datang. Tapi, jangan-jangan ada modus tersembunyi, nih, kok, tiba-tiba ngajakin aku makan malam seperti ini," tutur Azzam tersenyum lebar memamerkan deretan giginya yang putih berseri.
***
Tiba di rumah Kahfi meminta Shofia untuk menyuruh Dhena agar mau membersihkan badannya. Shofia pun sengaja membelikan beberapa macam make up dan skincare untuk Dhena. Dua Minggu berturut-turut Shofia selalu membawa adik iparnya itu ke tempat salon kecantikan terdekat agar perawatan yang sedang Dhena lakukan berjalan maksimal.
Dengan melihat penampilannya yang jauh lebih baik menurut dokter psikologi yang sudah menangani Dhena itu secara tidak langsung sedikit demi sedikit akan mengembalikan mood booster yang akan memberikan efek positif kepada pasien yang sedang terkena gangguan jiwa itu sendiri.
Kini penampilan Dhena memang sudah terlihat jauh lebih baik lagi. Walaupun terkadang masih terlihat termangu seorang diri dengan tatapan kosong. Tapi, penampilan fisiknya sudah terlihat tidak sekusut dan sesuram beberapa waktu yang lalu.
Komunikasinya pun sudah sedikit banyak kemajuan dan sudah bisa diajak berbincang dua arah oleh Kahfi dan Shofia.
"Dhen, nanti malam Mbak sama Masmu akan makan di luar. Kamu harus ikut juga, ya?" pinta Shofia kepada Dhena ketika mereka sedang duduk berdua di teras rumah sambil menunggu kedatangan Kahfi.
__ADS_1
Dhena hanya menganggukkan kepalanya tanpa memberikan jawaban.