Ujian Kesetiaan

Ujian Kesetiaan
Anak-Anak Malang


__ADS_3

"Aku capek Sandra! Baru datang dari tempat kerja selalu saja dihadapkan dengan keadaan seperti ini. Sekarang aku mau mandi cepat siapkan air hangat!" perintah Hariz.


Dengan malas Sandra beranjak dari duduknya. Melangkah kesal menuju dapur merebus air hangat untuk mandi suaminya.


'Aku kira hidup berumah tangga itu menyenangkan seperti teman-temanku yang lain. Nyatanya aku tak ubahnya seperti babu di rumah sendiri,' batin Sandra dalam hati.


Selesai membersihkan diri kemudian Hariz mengangkat satu persatu kedua anaknya menuju kamar mereka. Menidurkannya di bantal masing-masing lalu menyelimutinya dengan penuh kasih.


Dalam hatinya terselip rasa rindu kepada perempuan yang sudah melahirkan kedua putranya itu, membuat Hariz merasa bersalah dan menyesal karena dulu lebih memilih menuruti kemauan ibunya untuk menceraikan sang istri dan menikahi Sandra yang sama sekali belum dikenalnya.


Hariz memilih tidur bersama kedua putranya dan membiarkan Sandra seorang diri di kamar utama. Yang tentu saja menambah Sandra menjadi lebih merasa tak dibutuhkan kehadirannya. Kadang hingga bermingu-minggu dan berbulan-bulan dirinya diabaikan dan tak pernah disentuh oleh Hariz yang membuatnya lebih tertekan.


Kadang terlintas dalam benak Sandra untuk memberikan kedua anak sambungnya itu kepada ibu kandungnya, yaitu Dhena. Tapi, niatnya selalu ditentang oleh Hariz. Seperti pada waktu lalu ketika dirinya berusaha menyampaikan ide kepada sang suami.


"Mas, sebaiknya Fathan Reza kita antarkan saja ke mamanya. Kasihan, pasti mereka sudah kangen dengan mamanya. Begitu juga sebaliknya. Mantan istrimu pasti sudah sangat merindukan kedua anaknya," ungkap Sandra kala itu.


Namun, seketika langsung dibantah oleh Hariz. Karena selama ini sudah merasa berat setelah kini Dhena pergi dari kehidupannya. Apalagi jika ke dua buah hatinya harus ikut dengan Dhena. Hariz tidak sanggup walaupun hanya membayangkannya apalagi jika harus langsung mengalaminya. Hariz sudah bertekad untuk berusaha selalu bisa membersamai kedua darah dagingnya itu.

__ADS_1


Padahal, harapan Sandra, jika saja Fathan dan Reza sudah tidak lagi hidup bersama di rumah yang kini mereka tempati. Mungkin sikap Hariz, suaminya itu sedikit-sedikit bisa berubah dan bisa bersikap memanjakannya sebagaimana kebanyakan yang dilakukan oleh pasangan suami istri di luaran sana.


***


Sandra sedang asyik menyibukkan diri saling membalas chat di grup WA bersama teman-teman masa putih abu-abunya. Reza yang merasa diabaikan oleh ibu sambungnya itu mulai menampakkan sikap protesnya dengan cara mulai merajuk dan merengek meminta sesuatu yang tak jelas.


Yang Reza pahami, Sandra merupakan ibu kandungnya sendiri. Karena selama ini bocah 3 tahun itu hanya menemukan sosok Sandra di rumah itu. Tak ada orang dewasa lainnya selain Sandra dan ayahnya sendiri.


"Bu, Aku mau bobo, Bu," rengek Reza.


"Tapi, aku mau bobo sama Ibu .... " Reza mulai menangis histeris karena mendengar suara tinggi Sandra.


Fathan yang melihat sang adik mulai menangis segera menghampiri Reza dan berusaha mengajaknya untuk menemani tidur. Tapi, Reza menolak dan tetap pada pendiriannya untuk minta ditemani oleh ibu sambungnya.


"Aku gak mau sama Kakak. Aku maunya sama Ibu," tolaknya menjerit histeris.


Sandra yang merasa terusik dan terganggu dengan tangisan Reza. Seketika menarik tangan mungil bocah laki-laki itu lalu menyeretnya memasuki kamar. Sandra memaksa agar Reza tetap diam di dalam kamar sementara pintunya ia tutup kembali dari arah luar. Tangis Reza menggema semakin histeris di dalam kamar. Karena dikurung seorang diri.

__ADS_1


Reza masih berdiri di balik pintu sambil terisak pilu ketika dengan kuat tangan Sandra mendorong kasar daun pintu. Sedangkan gagang pintu di dalam kamar yang terbuat dari besi persis sejajar dengan dahi Reza. Dalam satu hentakkan saat pintu itu didorong keras oleh Sandra membuat Reza jatuh telentang dengan bagian belakang kepalanya membentur lantai. Yang spontan tangisnya menjadi semakin meraung menahan sakit. Bukan hanya itu, bagian pelupuk matanya pun sempat tertonjok anak kunci yang kebetulan terpasang dilubangnya yang mengakibatkan luka lebam berwarna biru di area mata bocah laki-laki malang itu.


Melihat anak sambungnya dalam keadaan telentang, kemudian Sandra membungkuk lalu menarik paksa tangan mungil anak yang tak berdaya itu ke luar kamar. Sorot matanya sedikit pun tak menyiratkan rasa iba kepada Reza yang masih terus menangis. Sandra masih terus mencaci dan memaki anak balita itu tanpa belas kasihan.


Namun, sejurus kemudian Sandra seketika terkesiap ketika ia melihat ada bercak merah yang keluar dari arah lubang hidung Reza. Di bagian bola mata Reza pun terdapat setitik darah di sana yang membuat tubuh Sandra mendadak menjadi gemetar. Bukan karena merasa menyesal telah sengaja menciderai anak kecil itu, tapi, melainkan karena ia merasa takut dan khawatir jika Hariz sampai mengetahui kalau dirinya sudah membuat Reza babak belur seperti itu.


"Ini akibat jadi anak yang suka rewel dan cengeng! Sakit, kan?" bentak Sandra. Bola matanya seolah hampir meloncat dari tempatnya ketika menatap dan mengintimidasi balita berusia 3 tahun itu.


Wanita berrambut pendek itu tak menyadari jika bentakkan dan perlakuan kasarnya telah melukai hati dan perasaandua anak kakak beradik yang sedang dalam pengasuhannya saat ini. Luka batin yang sering diterima anak-anak biasanya akan selalu membekas dan akan selalu terekam jelas dalam ingatan hingga terbawa dewasa nanti. Yang dampaknya pun akan berakibat buruk kepada anak yang bersangkutan.


Dan itu sudah terlihat kepada Fathan dan Reza yang kini tumbuh menjadi pribadi yang pendiam dan pemurung. Hampir tak pernah ada canda tawa lagi menghiasi raut muka polos mereka berdua karena hari-hari dan waktunya selalu dijejali dengan perlakuan kasar baik secara verbal dan fisik yang sering adik kakak itu dapatkan dari sang ibu sambung.


Dulu sewaktu dalam pengasuhan Dhena, sebagai ibu kandungnya, Fathan merupakan sosok anak yang selalu ceria dan aktif juga menggemaskan karena tingkahnya yang lucu dan rasa keinginan tahunya yang sangat tinggi. Tapi, kini sudah berubah drastis menjadi anak yang terlihat murung dengan raut muka yang terlihat begitu banyak tekanan.?


Fathan yang menyaksikan keadaan adik kandungnya seperti itu pun tak dapat berbuat banyak karena tak ada keberanian untuk memberi pertolongan. Ia khawatir ibu sambungnya itu akan balik memarahi dan mencacinya. Sehingga anak sulung Hariz itu hanya mampu terpaku menatap iba ke arah Reza. Fathan menangis tanpa suara melihat Reza diperlakukan oleh istri ayahnya.


"Awas saja kalau di antara kamu berdua ada yang berani ngadu ke ayah kalian!" ancam Sandra kemudian berlalu menuju kamarnya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2