Ujian Kesetiaan

Ujian Kesetiaan
Kekhawatiran Al


__ADS_3

Setelah Bu Tina dan Galih pulang, Aini menuju parkiran tempat motornya nangkring selama 2 hari ini. Aini mengambil kunci disaku roknya, memakai jaket kesayangan hadiah dari suaminya yang sejak tadi sudah berada ditangannya. Memakai masker beserta helm. Tak jauh dari lokasi Aini ada Abid yang sedang masuk ke mobil.


Aini melajukan motornya dengan kecepatan sedang, pemandangan sepanjang perjalanan hotel tempat menginapnya sayang untuk dilewatkan. Begitu asri, letaknya di kaki gunung S, yang ada di kota P.



Hotel legendaris yang ada di tempat wisata Baturraden. Ada yang sudah pernah kesini?


Aini berhenti sejenak dipusat oleh-oleh yang dijumpainya diperjalanan. Membeli makanan kesukaan suaminya yaitu getuk. Hayo bisa ditebak ya ... getuk Sokaraja. Makanan yang satu ini berbahan dasar singkong, memiliki citarasa yang unik. Yang penasaran pas lewat wajib mampir gaes.



Saat ini getuk goreng sokaraja memiliki beberapa macam varian rasa seperti rasa durian, rasa coklat, nangka, nanas, dan lain sebagainya. Aini memilih rasa original, nangka dan durian, suaminya lebih menyukai rasa original. Selain itu juga membeli manisan khas dataran tinggi Dieng.


"Mba, mau getuk yang original 2, durian 2, nangka 2", "Apalagi, Bu?" tanya pelayan toko.


"Carica 2 pack juga, Mba," menunjuk Carica yang tertata rapi di rak.


"Baik, pembayarannya di kasir ya, Bu. Jajannya saya bungkus dulu,"


"Baik, saya langsung ke kasir ya, Mba," Aini jalan menuju kasir dipojok ruangan.


"Semua jadi berapa, Mba?"


"Apa saja ya, Bu?"


Sebelum Aini menjawab pelayan tadi sudah muncul dan menyebutkan belanjaannya.


"Carika 2x30ribu, getuk semuanya 6x25ribu. Jadi semuanya Rp 210.000, Bu," Aini menyodorkan uang 50ribuan 5 lembar.


"Uangnya 250ribu ya, Bu. Ini kembaliannya 40ribu. Terimakasih sudah berbelanja di toko kami, Bu," ucap pelayan dengan ramah.


"Sama-sama, Mba," membalas senyum ramah pelayan toko tersebut.



Carica adalah makanan tradisional khas dieng. Manisan carica terbuat dari buah carica, sejenis buah mirip pepaya, yang merupakan buah khas dari dataran tinggi dieng. Manisan Carica terbuat dari 100% bahan-bahan alami dan tanpa tambahan pengawet. 100% terbuat dari gula asli.


Aslinya ini manisan khas Dieng Banjarnegara, namun manisan ini bisa kita jumpai di pusat oleh-oleh dikota P juga.


Aini menggantungkan belanjaannya di motor, kali ini langsung pulang.


"Akhirnya bisa pulang, bismillah," ucap Aini lirih


Saat adzan dzuhur terdengar Aini masih dijalan. Yang harusnya perjalanan hanya 1 jam, kini harus menghabiskan waktu lebih banyak karena membeli oleh-oleh terlebih dulu.


Pukul 12.45 Aini sampai rumah, memarkirkan motornya di garasi. Dilihatnya garasi sudah tidak lagi ada mobilnya. "Sudah laku ternyata," Batin Aini

__ADS_1


Aini turun dari motornya masuk melalui pintu samping.


"Assalamualaikum, Mas Al!"


"Wa'alaikumussallam, nggak usah teriak-teriak, Sayang" Al menyambut istrinya. Aini langsung memeluk suaminya sambil merengek manja.


"Mas, kangeeen,"


"Hmmm."


"Kok hanya hmm, sih?"


"Terus Mas, harus jawab apa?" sambil mengeratkan pelukan istrinya, mengecup kening dan berakhir dengan kecupan di bibirnya.


"Mas, badanku lengket banget. Ai ke kamar dulu mau mandi dan sholat ya, Mas,"


"Hmmm,"


"Tuh kan, hmmm lagi,"


"Iya Sayang, mandi sana biar wangi. Mas kangen berat. Gimana? Sudah puas dengan jawaban mas," mengelus kepala istrinya


"Banget...." sambil berlari meninggalkan suaminya menuju kamar.


Selesai bersih-bersih dan sholat Aini keluar kamar, melihat suaminya diruang keluarga Aini duduk dipangkuan suaminya.


"He ..., kenapa Sayang. Kangen berat ya sama Mas?" sambil mencubit hidung istrinya.


"Heem, tapi lapar. Temenin makan yuk, Mas," pinta Aini


"Mas bikin sendiri tehnya? Kok nggak minta tolong Ai, Mas?" ucap Ai lagi


"Udah turun, ayok tak temenin" begitu Ai turun, Al mengikuti langkah istrinya sambil membawa teh ditangannya.


"Cuma bikin teh saja Ai, Mas bisa sendiri. Tadi aja masak sendiri, ngurus anak juga sendiri,"


"Iya ... iya, Ai tau mas apapun bisa sendiri," sambil cemberut melihat kesombongan suaminya. Melihat istrinya cemberut langsung "CUP" diciumnya bibir istrinya.


"Jangan salah Ai, ada sesuatu yang mas nggak bisa sendiri. Dan sangat membutuhkan kamu" ucap Al serius


"Serius Mas, memang ada?" dengan mimik penasaran. Mereka duduk diruang makan, dengan posisi berhadapan.


"Serius lah Ai, mana pernah mas bohong,"


"ish ish ish penuh misteri,"


"Ada-ada saja kamu. Udah makan dulu nanti baru mas jawab setelah kamu makan. Atau kalau nggak dijawab nanti malam saja sekalian praktek," ucap Al serius seolah itu sesuatu yang memang benar-benar penting. Penting memang, tapi tidaklah demikian. Melihat tampang istrinya rasanya tidak kuat menahan tawa.

__ADS_1


"Mas kok ketawa, jangan-jangan Ai lagi dikerjain sama suami sendiri," sambil mengunyah makanan.


"Mas nggak makan,"


"Sudah makan tadi Ai, sama si gembul,"


"Si pipi chubby belum bangun-bangun ya, Mas. Ai dah kangen berat,"


"Pas kamu pulang tadi, dia baru tidur,"


"Eh mas, Ai lupa. Tadi Ai beli jajan belum diturunin,"


"Telan dulu Ai, baru ngomong,"


"Hehe...."


"Ya udah mas ambil dulu ya" dijawab dengan anggukan kepala. Jika dijawab dengan kata-kata bisa kena marah lagi.


Aini sangat bersyukur dititipi sama Allah sosok suami yang lebih dewasa, usia lebih tua 6 tahun. Menjadi sosok yang begitu menyayangi, melindungi, dan yang jelas cara berpikirnya dan tindakannya tidak pernah ceroboh itu membuat Aini bahagia. Tapi sebenarnya kedewasaan tidak diukur dari usia seseorang, realitanya banyak yang usianya tua masih suka mempermainkan pasangan, meremehkan sebuah hubungan. Jadi author tekankan disini usia tidak menjamin 100% kedewasaan seseorang.


Al masuk menenteng kresek yang berisi jajan yang dibeli di pusat oleh-oleh tadi. Al langsung membuka kresek dan mengambil kotak getuk yang original.


"Makasih Ai, kamu selalu paham kesukaan, Mas. Meski selera kita beda, tapi kamu tetap mengingat, Mas. Padahal mas saat ini tak bisa berbuat apa-apa. Suami miskin yang cacat. Maafin, Mas,"


Belum selesai Al bicara sudah dipotong sama Aini.


"Mas ngomong apaan sih. Enak nggak? itu beli ditempat yang biasa kita beli, Mas," mengalihkan pembicaraan nggak mau melow.


"Enak Sayang, Mas mau cerita. Mobilnya sudah laku, kemarin diambil sama pembeli. Tadinya Mas mau cerita ke kamu pas telepon semalam. Tapi mengingat sudah terlalu larut akhirnya tidak jadi,"


"Alhamdulillah, ya mas nggak apa," Aini bangkit menuju wastafel untuk cuci tangan sekalian mencuci piring.


"Mas, maaf ya tadi pagi aku nggak pamitan sama mas, nggak membalas pesan, Mas,"


"Mas ngerti kok, kamu lagi buru-buru mau persiapan sarapan dan packing untuk kepulangan kan?"


"Iya Mas, tapi bukan itu saja. Mas, aku mau cerita tapi jangan marah ya?"


"Asal jangan bilang kamu mau meninggalkan Mas, jangan bilang kamu sudah nggak sanggup hidup sama mas. Aku pastikan mas nggak akan marah,"


"ish ... jangan ngaco mas ngomongnya," selesai cuci piring Aini lalu duduk kembali dihadapan Al.


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


Terimakasih untuk para pembaca setia. Semoga sehat selalu.


Tinggalkan jejak di komentar yaaa......saran dan kritiknya author harapkan.

__ADS_1


__ADS_2