Ujian Kesetiaan

Ujian Kesetiaan
Mengusir Tak Sopan


__ADS_3

"Mba Mira, soal penginapannya nggak perlu khawatir. Barusan aku sudah pesankan buat kalian. 2 kamar di Penginapan Wijaya, paling perjalanan dari sini kesana hanya 15 menit, ini kode bookingnya. Mas Fitra minta no hp biar ku kirim, nanti di tunjukan saat cek in," jawab Lina begitu mantap tanpa berdiskusi dengan kedua kakaknya.


"Jangan begitu, Mba Lina. Aku jadi tidak enak, kalau aku sudah terbiasa bisa tidur dimana saja, di mobil biasanya,"


"Mas Fitra dan Mba Mira adalah tamu di keluarga ini, sudah sepantasnya kami memperlakukan tamu dengan baik, bukankah begitu, Mba Ai?" ujar Lina.


"Iya, Mas Fitra. Kami senang dengan kehadiran Mas Fitra dan Mba Mira disini, namun kenapa adik saya ini memesan penginapan, karena disini tidak ada kamar kosong. Jadi mohon maaf," ucap Aini. Dia tidak menyangka adiknya sudah bertindak lebih cepat dari dirinya.


"Mas, saya tinggal dulu. Maaf ya, ada yang harus kami kerjakan, ada anak yang butuh bantuan itu di samping rumah. Mau ikut ayo, biar nggak jenuh duduk terus,"


"Iya, Mas. Bolehlah," ucap Mas Fitra tak enak.


"Mas Fitra lewat depan saja, tinggal jalan ke arah barat nanti aku disitu,"


Al membiarkan para wanita untuk mengobrol, dia berjalan ke belakang. "Bang Firman mana, Leh?"


"Itu, Pak," Al berjalan menemui Firman memang bener dia lumayan kerepotan menaikan muatan, yang lain sudah jalan.


"Bang, sini biar aku pegang,"


"Alhamdulillah, bala bantuan datang,"


"Mas Fitra, disni," memanggil tamunya.


"Bang, kalau mobil bulan depan terbeli biar Bang Firman yang bawa. Mengingat pangsa pasar Abang terus bertambah, pakai motor nggak muat. Cari tenaga tambahan 1 buat kerja sama Bang Firman bulan depan, jika Abang merasa kerepotan,"


"Siap, Bos. Pamit dulu ya, Bos," sambil menstarter motornya.


"Ok, Bang. Hati-hati!"


"Mas, duduklah. Lebih adem disini daripada di rumah. Mereka bawaannya panas berdekatan," ucap Al tertawa.


"Pasti Mas Al banyak penggemarnya, termasuk Mira kan?"


"Tidak, Mas. Aku belum pernah dekat dengan wanita kecuali sama istriku, itupun dulu melalui perkenalan singkat dalam waktu 2 hari langsung aku lamar, 2 bulan kami menikah,"


"Wah ... aku kalah cepat ini. Terlalu banyak pertimbangan dulu, jadi nikah sudah 27 tahun," ucap Bang Fitra.


"Sama itu berarti, aku juga begitu. Nikah usia 27 tahun, nggak mau pacaran ribet,"

__ADS_1


"Maaf, boleh aku bertanya. Supaya saya tidak mengambil kesimpulan hanya dari satu pihak. Kalau Mira itu bukannya mantan Mas Al?"


"Bukan, dia di jodohkan sama orang tua kami masing-masing, tapi aku menolak. Waktu itu memang belum ada niat buat menikah, setelah ketemu Aini baru ada niat menikah,"


"Terimakasih, maaf saya bertanya tentang hal pribadi. Tujuannya biar nanti saya bisa mengambil sikap jika Mira meminta saya untuk macam-macam,"


"Terimakasih, Mas,"


"Awalnya aku mengira usaha Mas Al baru paling 2 orang karyawan, ketika Mira mengajakku untuk mengantar kesini, tujuannya mau memberi suntikan modal. Ternyata sudah segede itu, karyawannya berapa semua mas?"


"Masih kurang, Mas. Banyak yang belum tertampung, mereka yang ndaftar masih banyak yang ditolak karena belum memungkinkan mereka masuk. Tujuanku membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kesulitan,"


"Jawabannya ambigu ini, tapi justru menunjukkan kalau karyawan sudah tak terhitung lagi. Buktinya motor yang terparkir sangat banyak, belum yg seperti tadi, jelas banyak juga yang posisi lagi keliling memasarkan,"


"Alhamdulillah, Mas. Saya sempat menjadi laki-laki yang tak berguna, sakit nggak bisa menafkahi anak dan istri. Hidupku menjadi beban istri, jadi itulah sebabnya aku sangat mencintainya. Istriku selalu ada disaat aku dalam kondisi terpuruk,"


"Artinya Aini sosok yang setia, jika wanita tak setia maka disaat suaminya terpuruk gampang sekali tergoda oleh laki-laki lain. Saya yakin banyak laki-laki yang menyukai Aini, maaf bukan memanas-manasi tapi kenyataannya dulu waktu SMA seangkatan dengan adikku banyak yang naksir, tapi dia nggak mau pacaran,"


"Mas Fitra bisa saja," seloroh Al.


"Pak, ini minumnya," ucap Lastri yang melihat bos bersama temannya dia berinisiatif membawakan minum.


Mereka berdua mengobrol lama, sampai waktu asar tiba. Sementara sepeninggal Al, Aini melanjutkannya obrolannya dengan Mira meski dengan kecanggungan. Tak menyangka ditengah obrolannya Lina tertidur di sofa.


"Ini bocah, nggak ada sopan-sopannya," ucap Lina.


"Biar saja, sejak kapan dia disini?"


"Sudah dua bulan, Mba,"


"Emak kapan balik kesini, aku mau ketemu mereka,"


"Belum tau, Mba. Belum ngabari lagi, masih betah di rumah Kakaknya,"


Obrolannya di dominasi pertanyaan dari Mira, Aini tak punya niat bertanya mengenai Mira. Merasa tidak mau terlalu dekat dengan wanita masa lalu suaminya. Siapapun itu, syaiton sangat mudah masuk melalui celah ini.


Sholat asar Lina sengaja sholat di masjid supaya Mira ikut ke Masjid nggak perlu masuk ke dalam rumah kakaknya, cukup di ruang tamu. Tega, harus tega. Lina paham siapa Mira, rumah Mira masih satu kampung dengannya. Sehabis sholat asar mereka kembali ngobrol, kali ini Alia ikut bersama mereka.


"Dek, sini main sama Tante Mira,"

__ADS_1


"Maaf, Tante. Namaku Alia, bukan dek," celotehnya dia paling nggak suka di panggil dek sama orang yang baru di kenalnya.


"Iya, Alia. Sini main sama Tante," ajak Mira. Alia melihat ke arah pintu karena menyadari ada mobil yang berhenti.


"Kakek Danu!" Alia langsung mengejar ke luar, dia berdiri di teras menyambut kakek barunya.


"Sayang, nggak usah lari," teriak Aini mengingatkan.


"Lin, suruh duduk di dalam langsung saja mereka,"


"Baiklah, Mba. Mba saja lah ya, yang ke depan,"


"Nggak sopan, harus kamu lah, masuk lewat pintu samping saja, Lin,"


"Siap, komandan!" Lina berdiri dengan sigap berjalan menyusul keponakannya. Mira ikut penasaran dengan siapa yang datang, dia ikut melongok.


"Kelihatannya orang penting, Aini?"


"Semua tamu bagiku penting, Mba Mira? Maaf saya tinggal sebentar menemui mereka," pamit Aini tanpa mendengar jawaban Mira. Mengusir tak sopan, namun ngobrol nggak ada yang bisa buat bahan obrolan. Mira masih menunggu di ruang tamu sendirian.


"Mba, Mira sama siapa kok ditinggal?"


"Mba nggak bisa ngobrol sama dia, pembicaraan mentok nggak tau apa yang mesti di obrolin lagi,"


"Seorang Mba Aini bisa juga jutek ya?" Lina terbahak.


"Kebiasaan, kondisikan ketawanya," tegur Aini.


"Mba, nggak ada aturan dalam ketawa kan?"


"Siapa bilang nggak ada, segala sesuatu kalau berlebihan itu nggak baik,"


"Termasuk Mba Aini dalam membenci Mira juga jangan berlebihan," bisik Lina tepat disamping kakaknya.


"Aku nggak membencinya, tapi aku hanya nggak suka,"


"Mba, coba cek kamus KBBI apa arti benci dan nggak suka ada bedanya? Mba Ai ini memang paling bisa ya, mengungkapkan kata kasar dalam bentuk sopan," tertawa kembali. Izal yang baru turun dari mobil ikut tertawa melihat calon istrinya sudah ceria kembali.


"Om ... Om Izal, kenapa mukanya?" tanya Alia, membuat kedua wanita yang masih asyik dengan obrolan melihat ke arah Izal.

__ADS_1


__ADS_2