
Malam kedua Hariz menemani sang istri di rumah sakit dengan membawa serta Fathan.
"Mas tinggal dulu, ya, sebentar mau ke masjid dulu," pamit Hariz ketika terdengar suara azan Isya dari arah masjid yang terletak di sekitar rumah sakit itu.
Dhena menganggukkan kepalanya, mengiakan. Kemudian Hariz melangkah menyusuri koridor rumah sakit sembari membawa serta Fathan, putra lelakinya.
"Ayah kenapa kita harus ke masjid," tanya Fathan polos.
"Karena laki-laki salatnya memang harus berjama'ah di masjid, Sayang." Hariz mencoba memberi penjelasan kepada anaknya.
Usai melaksanakan kewajiban salat berjama'ah di masjid lalu Hariz mengajak Fathan menuju kantin yang letaknya persis bersebelahan dengan bangunan masjid. Perutnya mulai terasa melilit karena memang belum sempat diisi dari tadi siang.
Hariz memesan nasi putih dua porsi untuknya sendiri dan juga Fathan. Dengan lauk ikan tongkol balado dan sayur santan godong budin(daun singkong), yang merupakan sayur favoritnya pria itu.
"Ayah, aku makannya pakai telor, saja, ya, Yah, gak mau pakai ikan kaya Ayah gitu. Aku gak suka ikan. Aku sukanya endog," pintanya kepada sang ayah.
Lalu Hariz memesan sesuai dengan yang barusan anak laki-lakinya dipesan tadi. Fathan begitu terlihat sangat menikmati dan terlihat sangat lahap ketika ia bertemu dengan ceplok telor kesukaannya.
Hariz beranjak menuju kasir untuk semua makanan yang barusan tadi disantapnya dengan sang buah hati.
__ADS_1
"Berapa, Mbak?" tanyanya kepada seorang wanita muda dengan dandanan menor yang menjaga kasir.
Si Mbak itu pun menanyakan apa saja yang tadi bsrusan dipesan. Hariz menyebutkan satu persatu pesanannya tadi yang setelah dijumlah ia diminta untuk membayar sekitar dua puluh lima ribu rupiah.
"Biar saya saja yang bayar," ucap suara seorang wanita yang tak asing lagi di telinga Hariz dari arah samping mengejutkan pria itu yang masih memegang dompetnya.
Hariz menengok ke arah sumber suara tadi. Nampak seorang wanita sedang mengulurkan lembaran berwarna biru ke arah kasir yang langsung diterima dan dikembalian oleh mbak kasir.
"Fathan mau beli jajan, gak?" tanya wanita itu beralih ke arah Fathan.
"Mau ... Aku mau beli es krim," jawab bocah laki-laki itu bersemangat. Lalu wanita itu menuntun tangan mungil Fathan menuju mini market yang berhadapan dengan kantin. Meninggalkan Hariz yang masih berdiri mematung melihat Fathan berlari-lari kecil kemudian memasuki pintu mini market yang diikuti oleh Nelly. Rumah sakit besar itu memang sudah dilengkapi beberapa fasilitas untuk mempermudah keluarga pasien dan pengunjung ketika berada di area gedung berlantai lima itu.
Sedangkan Nelly yang melihat setatus WhatsApp Dhena beberapa jam yang lalu ia memutuskan untuk menjenguk kakak madunya itu yang sudah berhasil melahirkan bayinya. Vito yang kebetulan sudah tertidur di rumah ia titipkan kepada pengasuhnya.
"Ayah ... Aku punya jajan banyak. Ini dibeliin sama tante Nelly." Fathan berseru dan menghambur ke arah sang ayah ketika ia keluar dari pintu mini market yang diikuti dengan senyuman manis dari Nelly dari arah belakang.
Nelly sengaja berusaha mencoba mengakrabkan diri seperti halnya Hariz yang sudah mampu mengambil hati Vito hingga menjadi dekat dan akrab seperti kepada ayah kandungnya sendiri. Dengan harapan lambat laun suatu hari nanti kehadirannya bisa diterima oleh semua keluarga kecil dan keluarga besar Hariz. Termasuk Fathan dan Dhena sebagai kakak madunya.
Langkah panjang Hariz kemudian menghampiri Nelly yang masih tersenyum bahagia melihat keceriaan Fathan dengan beberapa buah ice cream di tangannya dengan kantong plastik.
__ADS_1
"Kenapa kamu datang ke sini? Bagaimana kalau Dhena nanti lihat kamu ada di sini?" tanya Hariz setengah berbisik di telinga istri keduanya itu.
"Ma'af, Mas, aku hanya ingin menjenguk Mbak Dhena dan bayi yang baru dilahirkannya saja."
"Memastikan Dhena baik-baik saja katamu? Justru keadaan hati istriku akan semakin memburuk jika kamu berani menampakkan wajahmu di sini, Nelly." Hariz mendengkus kesal.
"Aku juga istrimu, Mas, yang berhak bisa dekat dengan semua keluargamu," sela Nelly kemudian.
Hariz menatap tajam ke arah wanita yang kini berdiri berhadapan dengannya. Tapi, tak mampu berbicara apa-apa lagi. Hanya sorot matanya saja yang menyiratkan seolah menolak wanita itu untuk berada di sana.
Sementara hati Nelly lagi-lagi harus menalan kecewa karena niat tulusnya seakan tidak pernah diterima dan dihargai oleh suaminya yang selalu ditolak dan halang-halangi. Padahal, wanita itu merasa niatnya semata hanya ingin bisa merasakan menjadi bagian dari keluarga Hariz, laki-laki yang selama ini selalu ada dalam setiap helaan napasnya.
Mungkin orang-orang di sekeliling Nelly merasa heran dengan langkah dan sikap yang diambil oleh wanita berkulit putih itu. Karena di luaran sana kebanyakan perempuan yang memilih hidup sebagai wanita kedua itu biasanya mereka dengan alasan karena menginginkan materi yang bisa didapat dari suaminya yang tingkat perekonomiannya sudah lebih dari cukup atau sangat mapan. Berharap hidupnya bisa lebih terjamin walaupun tidak harus bekerja keras di luar rumah. Cukup tinggal di rumah kedua yang disediakan oleh suaminya dan menunggu waktu giliran untuk mendapatkan jatah nafkah batin dan bisa menghabiskan waktu berdua.
Namun, sangat berbanding balik dengan pilihan Nelly, ia malah memutuskan untuk menjadi istri kedua justru dirinya yang sering sekali mengeluarkan materi yang ia punya untuk diberikan kepada Hariz dan keluarga kecilnya sejak ia sebelum dinikahi oleh Hariz. Bahkan, perempuan bermurah hati itu dulu sempat membelikan gamis dan beberapa setel piyama baru untuk Dhena, istri pertamanya Hariz. Tanpa rasa curiga Dhena pun menerimanya dengan begitu senang dan langsung memakainya. Karena ia mengira itu hanya pemberian biasa yang memang tak ada niat terselubung di dalamnya. Tapi, ternyata dugaannya meleset, karena kenyataannya Nelly dengan melakukan itu semua ia bisa diterima dan dijadikan istri keduanya Hariz ditambah mendapat dukungan yang kuat dari Bu Mutia, dan Bu Aida yang ternyata sudah bersengkongkol untuk bisa menjodohksn dan mempersatukan anak mereka masing-masing.
Dulu Dhena memang sering diajak ke tempat kerja atau acara pernikahan temsn kerja suaminya sehingga Nelly dan Dhena sudah kerap kali bertemu dan ngobrol bersama. Walaupun pada saat itu di hati Dhena belum muncul kecurigaan bila rekan kerja Hariz itu menyimpan rasa kepada sang suami.
Kecurigaan muncul di hati Dhena, ketika Nelly mulai terlihat sering memberikan barang-barang berharga kepada Hariz, seperti jam tangan bermerk dan bahkan sepatu fantovel yang harganya cukup lumayan mahal pun sering kali diterima oleh Hariz dari perempuan yang masih bersetatus janda waktu itu.
__ADS_1