
"Terimakasih Kak," Al membiarkan kopi mengepul tanpa sedikitpun dia sentuh. Pada dasarnya Al memang tidak pernah ngopi.
Irma sangat gembira kopinya tidak ditolak sama Pak Bos. Irma masih berusaha mengemas sesuai dengan aturan yang disampaikan Lastri, awalnya dia menyepelekan bahwa pekerjaannya sangat mudah ternyata tidak seperti yang dia kira. Dia masih mendapat tegur dari Lastri.
"Kak, coba konsentrasi. Pelajarannya langsung praktek jadi mudah, coba pandangannya jangan terus mengarah ke Pak Bos, apa mau yang ngajarin Pak Bos. Mana mungkin mau, kita-kita sudah punya tugas masing-masing," ucap Lastri lembut tapi penuh penekanan.
"Mbak Lastri, aku cuma lagi menghafal wajahnya supaya ketika ketemu dijalan bisa mengenali,"
"Memang siapa yang mau dikenali sama Kakak, ngarang Pak Bos bukan orang yang suka sapa sana sini sama wanita,"
"Mbak Lastri, aku kan cantik. Beda dong sama kalian-kalian. Lihat saja tampilan ku cantik kan?" kali ini Irma berbisik ditelinga Lastri.
"Pffffff ... apa nggak salah dengar aku ya, sudahlah. Mau kerja apa nggak nih, nanti menghambat kerjaan ku,"
"Lastri, kenapa dari tadi ribut terus. Awas kalau nggak selesai, besok targetmu tak tambah," gertak Al.
Semua orang memandang heran kenapa sikap Bos berubah seketika, sangat berbeda dengan kebiasaan kemarin. Suasana terasa mencekam, mereka belum pernah mendengar seperti Pak Bos seseram itu.
Tring bunyi hp Lastri dia terbengong melihat wa dari Pak Bos.
"Maaf ya, kamu jadi sasaran. Nggak usah bingung, lanjutkan kerja, nggak perlu balas pesan ini,"
Lastri menarik nafas panjang penuh kelegaan, ternyata Lastri hanya jadi sasaran, pasti tujuannya supaya karyawan baru tidak macam-macam. Suasana begitu hening, hanya ada suara alat yang bekerja. Tim bagian marketing sudah bergegas berangkat, terutama yang tempat tujuan jauh tinggal beberapa orang yang tinggal. Al masih memeriksa laporan keuangan harian dengan serius memberikan aura ketampanan tersendiri bagi yang melihatnya. Namun itu tidak berlaku bagi karyawan lamanya, mereka sudah dibekali ilmu tersendiri bagaimana kita bisa menghargai dan mensyukuri karunia yang dibelikan Allah untuk dirinya sendiri maupun pasangan. Sehingga mereka selalu bersyukur dengan apa yang mereka punya. Bagi Al karyawannya harus memiliki attitude yang baik tanpa terkecuali. Sebulan sekali ada semacam pembekalan dari Al Ghazali selaku owner, bukan ceramah seperti ustadz namun lebih ke persiapan berbaur dengan masyarakat karena berkaitan dengan mereka yang melayani para customer.
Setelah tadi ada gertakan dari Bos, Irma tidak berulah lagi. Dia serius belajar, karena merasa sedang diawasi oleh bosnya. Dia menarik nafas panjang setelah melihat bos masuk rumah meninggalkan ruang kerja mereka.
__ADS_1
"Akhirnya, Pak Bos nggak mengawasi lagi," ucap Irma lega.
"Memang kenapa kalau tidak diawasi kak?"
"Mbak Lastri, memang nggak tau, atau pura-pura tidak tau? Kalau Pak Bos nggak ada jadi lebih santai kerjanya kan?"
"Mana bisa begitu Kak, kita harus profesional Kak, mau ada Bos atau tidak kerjanya harus giat. Mau kita makan gaji buta? kalau aku nggak mau Kak, mending makan yang halal saja," ucapannya sudah sangat mirip Aini dan Al Ghazali.
"Kamu ternyata cerewet banget ya mbak,"
"Aku wanita Kak, jadi wajar kalau cerewet. Yang penting tangan tetap ikutan gesit, pekerjaan selesai tepat waktu,"
Jam didinding menunjukan pukul 11.30, saatnya karyawan berkumpul untuk makan siang sebelum pelaksanaan sholat Dzuhur. Semua aktivitas berhenti sampai 1 jam kedepan.
"Kak Irma, pastikan cuci tangan yang bersih setelah makan nanti, jangan sampai ada minyak menempel ditangan. Nanti tempe jadi busuk, rugi nanti Pak Bos,"
"Jangan mimpi, aku tahu apa yang Kak Irma pikirkan. Awas saja, kalau berani Kak Irma menggoda Pak Bos, aku yang berada dibarisan paling depan," batin Lastri. Lastri sudah mencium aroma tidak sedap dari gelagat karyawan baru Pak Bosnya.
Irma buru-buru untuk mengambilkan makan Pak Bosnya, melihat Pak Bos kembali duduk di meja kerjanya.
"Pak, ini makannya,"
"Terimakasih Kak," jawab Al datar. Namun lagi-lagi Al Ghazali tidak menyentuh makanannya, minuman yang tadi juga masih utuh.
Irma sudah bersorak ketika sikap Bos barunya selalu sopan mengucapkan terimakasih. Usia Irma sepantara dengan Al Ghazali. Namun tatapannya terkunci pada gelas kopi yang masih utuh, ada perasaan sedih minumannya masih utuh.
__ADS_1
"Nggak apa lah, perjuangan mengambil hati. Semangat, baru hari pertama," ucap Irma dalam hati.
Al Ghazali sedang memikirkan bagaimana dengan Aini nantinya, Al merasa bersalah telah menerima karyawan yang tidak masuk kriteria selama ini. Karyawan baru kali ini status tidak jelas, info dari pak RT, namun Pak Burhan tetap bersikukuh agar Irma diterima dengan alasan kemanusiaan. Pak Burhan berpesan agar Al mencoba dulu, dan Pak Burhan siap bertanggungjawab selaku RT. Irma statusnya masih memiliki suami, tapi suaminya tempramen pekerjaan tidak jelas suka nongkrong dijalan, dan Irma terkenal suka mengusik kehidupan orang lain. Akhirnya dengan berat hati Al menerima Irma dengan catatan mau mengikuti aturan yang ada. Seperti halnya berpakaian, Irma sudah dua kali ganti baju. Aturan berpakaian terpampang jelas di map yang akan selalu dibaca terlebih dahulu oleh calon karyawan. Pakaian Irma jauh dari kata sopan, lebih mirip wanita penggoda. Al sendiri tidak merasa terpana dengan penampilannya, karena Aini sering pakai seperti tadi bahkan lebih seksi tapi khusus dihadapan suaminya.
Al menunggu dengan gelisah kepulangan istrinya, sedangkan Alia sudah dijemput oleh karyawan yang merangkap jadi sopir antar jemput. Dan sudah dilihat tadi sikap dihari pertama menunjukkan kepribadiannya yang buruk.
"Mak Ipeh, Alia tidur apa Mak?"
"Iya Mas, Saya pamit dulu ya nanti sore kesini lagi, barusan Bapak dirumah bilang katanya ada tamu dirumah,"
"Iya Mak, balik laginya besok pagi saja nggak apa kok Mak,"
"Beneran Mas, Alhamdulillah takutnya tamunya lama. Terimakasih ya Mas, semua pekerjaan InsyaAllah sudah selesai," Al mengangguk dengan sangat sopan.
Bentar-bentar lihat jam yang melingkar ditangan kanannya, Al gelisah ingin segera menyampaikan kabar terkini mengenai perekrutan karyawan. Mendengar bunyi khas motornya Al bergegas menyambut Aini.
"Alhamdulillah, sayang akhirnya sampai rumah juga. Mas sudah menunggu sejak tadi, ada yang perlu mas sampaikan,"
"Mas, segitunya menyambut istri pulang. Terimakasih sayang,"
"Tentunya, Mas mau menyampaikan sesuatu, Mas tunggu kamu ganti baju dulu,"
"Mas, buru-buru banget si, memang ada masalah apa, semua terlihat baik-baik saja. Anak-anak pada kemana kok sepi,"
"Ada dibelakang,"
__ADS_1
"Tumben nggak rame seperti biasanya, Mas habis marah sama mereka?" menatap suaminya dengan penuh selidik, Al menggeleng. Al terus mengikuti istrinya ke kamarnya untuk mengganti pakaian.
"Kok ngikutin si Mas, bukannya nunggu didepan. Katanya mau ada yang diomongin?" Al tidak menjawab tapi langsung memeluk Istrinya. Membuat Aini semakin bingung.