Ujian Kesetiaan

Ujian Kesetiaan
Kiriman Foto yang Mengejutkan


__ADS_3

***


Setelah mengetahui kini Nelly sudah bukan istrinya Hariz lagi Bu Aida terlihat begitu sangat terkejut dengan kenyataan yang mau tak mau harus ia terima. Impian tingginya untuk memiliki tajir dan berlimpah materi buyar seketika.


Saat ini harapan satu-satunya yang masih bisa diandalkan hanya pemberian dari Burhan, anak angkatnya yang kini tinggal di Batam. Bu Aida merasa tak sia-sia dulu ia sudah mengurus dan mengasuh Burhan sejak bayi. Wanita setengah baya itu tak menyangka jika nasib anak angkatnya itu akan hidup dengan perekonomian yang jauh lebih mapan dibanding anak kandungnya sendiri.


"Bu, saya mohon izin untuk sementara ini harus pulang kampung dulu, soalnya ibu saya di sana sedang sakit keras," pamit Surti kepada Bu Aida dengan membawa satu koper besar serta tas gendong yang sudah berada di punggungnya.


"Tapi, jangan khawatir saya sudah menyiapkan pengganti saya untuk menggantikan saya di sini. Dia masih teman saya satu kampung bahkan satu RT," sambung Surti saat melihat sang majikan seperti keberatan melepas Surti untuk pulang kampung.


Karena memang hati kecilnya Bu Aida sudah merasa cocok dan srek dengan sosok Surti yang sudah menemaninya beberapa tahun ini. Walaupun memang kadang sering perang mulut dan bersitegang karena mulut asisten rumah tangganya itu yang suka ceplas-ceplos.


Bu Aida lalu bangkit dari duduknya dan berdiri kemudian berjalan menuju kamar pribadinya. Beberapa menit kemudian, wanita itu kembali ke tempat Surti yang masih menunggunya di ruang tengah. Di tangannya terlihat dompet berukuran sedang lalu dibukanya untuk mengambil beberapa lembaran berwarna merah yang kemudian disodorkan ke arah Surti sambil berkata, "Ini sedikit uang dari saya untuk ongkos dan untuk bekal selama kamu diperjalanan nanti," ucapnya kemudian.


Sedangkan untuk gaji bulan ini Surti baru menerimanya pada hari kemarin sebelum ia mendapatkan kabar buruk dari keluarganya di kampung.

__ADS_1


"Saya di sini pasti akan merasa kesepian selama tidak ada kamu, Sur. Gak ada teman buat ngobrol dan sekadar untuk memijit betis saya yang sudah sering kram karena asam urat ini," ungkap Bu Aida.


Setelah Surti berangkat menuju kampung halamannya. Bu Aida pun mulai mengemasi sebagian pakaiannya sendiri ke dalam koper dan tas besarnya. Ia memutuskan untuk sementara waktu selama Surti tak ada di rumahnya ia akan tinggal di rumah anak laki-lakinya yaitu Hariz. Setelah sebelumnya ia memesan grab terlebih dulu untuk mengantarkannya ke tempat tinggal Hariz.


***


Mengurus dua anak sekaligus seorang diri tanpa bantuan dari keluarga sendiri terkadang membuat Dhena sering keteteran. Oleh karena itu ia memilih untuk mengerjakan pekerjaan yang dianggapnya pokok saja. Seperti menyediakan makanan dan menjaga anak-anaknya.


Karena pernah suatu waktu ketika dulu Fathan masih berusia 4 bulan. Di saat bayinya itu sudah mulai terlihat tertidur pulas di tempat tidur, Dhena berinisiatif untuk memulai aktivitas mengerjakan pekerjaan rumah.


Namun, baru saja ia membuka pintu dapur. Indera pendengarnya menangkap sebuah suara seperti sesuatu yang terjatuh dan menimbulkan suara gedebuk disusul dengan tangis histeris Fathan yang semakin kencang membuat jantung Dhena seketika berdebar tak karuan. Sambil berlari ia membuka pintu kamar. Pemandangan di depan matanya telah sukses membuat tubuhnya seketika melemas dengan debar jantung yang semakin bertalu-talu. Karena melihat Fathan yang saat itu sudah berpindah posisi persis di samping tempat tidur yang tingginya hampir selutut orang dewasa.


Dengan badan dan tangan gemetar Dhena segera meraih bayinya yang tergeletak lemah kemudian membawanya ke dalam dekapan dengan hati penuh penyesalan karena tadi sudah meninggalkannya. Dhena mulai berusaha meredakan tangis bayinya yang masih kejer dengan memberikannya ASI. Air matanya pun mengalir tak dapat ditahan lagi melihat bayinya harus merasa kesakitan karena jatuh dan terbanting dari tempat tidur yang ketinggiannya cukup lumayan bagi bayi usia 4 bulan.


"Ma'afkan Mama, ya, Sayang," ucap Dhena sambil menahan tangis. Saat itu ia benar-benar merutuki diri sendiri karena sudah menjadi penyebab sang buah hati mengalami insiden mengerikan seperti itu.

__ADS_1


Mulai dari situ Dhena berjanji kepada dirinya sendiri untuk lebih mementingkan menjaga dan mengawasi anaknya. Sedangkan urusan pekerjaan rumah dan lainnya ia kerjakan setelah sang suami sudah berada di rumah dan bisa menggantikan menjaga anak mereka. Walaupun resikonya memang harus selalu mendengar komentar miring dari orang sekitar yang kadang hampir membuatnya terserang syndrom baby blues karena merasa tertekan dengan omongan orang yang tak pernah memahami keadaannya.


Apalagi saat ini, setelah kelahiran putra keduanya itu membuat Dhena semakin kerepotan karena tak ada satu orang pun yang bisa dimintai tolong sehingga dirinya merasa kerepotan sendiri. Sering kali Dhena membiarkan si sulung dan adiknya membiarkan memberantakkan semua mainannya dan mengeluarkan semua isi lemari yang sudah Dhena bereskan sebelumnya. Demi kedua anaknya itu terlihat anteng ketika ia akan melaksanakan salat lima waktu atau ketika ia sedang memasak.


Seperti saat ini, Dhena membiarkan kedua anaknya bermain kertas yang disobek kecil-kecil hingga berhamburan memenuhi ruangan dengan mainan yang tercecer di mana-mana hingga menciptakan pemandangan seperti kapal pecah. Sedangkan Dhena sendiri sedang menyibukkan diri di dapur untuk menyiapkan makan siang karena sebentar lagi sang suami akan tiba setelah dari tempat kerja.


Belum selesai ia menyelesaikan masakannya. Tiba-tiba dari arah depan terdengar suara cempreng seorang ibu memangil namanya.


"Dhena ... Kamu ini memang keterlaluan sekali, ya. Ini rumah apa kandang kambing, berantakan seperti ini, anak dibiarkan main sendiri!" teriaknya hingga suaranya terdengar ke arah dapur.


Dhena setengah berlari ke arah depan meninggalkan kegiatannya yang sedang menggoreng bakwan jagung untuk menu makan siang keluarga kecilnya dan sayur bening bayam.


"Ma'af, Bu. Tadi saya lagi di dapur. Biar saya bisa masak, sengaja anak-anak saya biarkan main berdua di sini," ucap Dhena mencoba menjelaskan kepada Bu Aida yang sudah berdiri berkacak pinggang di ruang tengah dengan koper dan tas berukuran besar di samping kiri dan kanannya.


Dhena tergopoh menghampiri sang mertua untuk menyalaminya, tapi tangannya langsung ditepiskan oleh Bu Aida. Membuat Dhena tak enak hati dan salah tingkah sendiri.

__ADS_1


__ADS_2