
"Iyalah, Pak. Pantas saja Emak marah, ujung-ujungnya yang direpotkan nanti di Emak. Suruh pijitin kan?" ucap Al tertawa.
"Lebih berat mana, pijitin apa bawa rumput?" tanya Bapak.
"Si Bapak, pantas Emak sering marah. Bapak pasti sering buat kesal ya?"
"Nggak lah, Emakmu saja yang cengeng," ucap Bapak.
"Siap-siap saja tidur sendiri selama satu minggu kalau Bapak mengejek Emak,"
"Sudahlah, Al. Bapak mau minta maaf sama Emak. Repot nanti nggak dapat jatah sarapan besok pagi,"
"Selamat berjuang, Pak. Assalamualaikum," ucap Al mengakhiri perbincangannya.
Al merenung sejenak, pikirannya mulai menimbang mengingat apa yang akan di lakukan besok. Dia menyusul istrinya yang sudah mulai terlelap, Aini terusik dengan pergerakan Al yang naik ke ranjangnya.
"Mas, sudah telpon Bapak?" tanya Aini dengan suara yang sangat lemah.
"Sudah, Sayang. Sebaiknya bagaimana ya, Ai? Aku nggak nyaman jika kita harus mengurus Sari," ucap Al.
"Mas, Paman Sarno itu hanya ikut-ikutan. Jadi aku rasa akan mudah untuk Paman keluar dari Penjara. Lebih cocok nantinya menjadi saksi," Aini menjawab suaminya dengan mata yang sangat kantuk.
Lelah seharian dengan aktivitas yang awalnya berniat jalan-jalan berujung di Rumah Sakit Jiwa.
"Mas, aku pengin sekoteng. Lapar lagi," ucap Aini sambil mengusap perutnya.
"Masa lapar lagi? Ini sudah jam 21.00 apa masih ada yang jual begituan?"
"Mas, nanti aku nggak bisa tidur. Jika belum diisi lagi dengan makanan."
"Makan roti tawar saja, Ai. Nggak perlu keluar, sama-sama makan. Lagian pipimu sudah chubby."
"Bilang saja, kalau aku itu gemuk. Aku sudah nggak cantik lagi," ucap Aini menyun.
Tuh kan? Salah kalau kita bicara chubby. Wanita paling tidak mau di bilang gemuk.
"Mas, iya kan. Aku sekarang gemuk?"
"Bukan, Sayang. Kamu sekarang terlihat sangat segar dan mempesona."
"Iya, sekarang mempesona. Kemarin-kemarin nggak, begitu?," tanya Aini.
Kalau sudah seperti ini aku lebih baik cari aman saja, yaitu mengalihkan topik pembicaraan.
"Sayang, bagaimana kalau sekarang kita keluar berdua. Kita cari makanan yang kamu inginkan," ucap Al berbinar.
__ADS_1
"Nggak jadi lapar, mending di tahan daripada gemuk," ucap Aini dan rebahan di ranjang kembali.
Al tersenyum dalam hatinya. Istrinya sedang ngambek seperti emak. Al menyalahkan diri sendiri sudah menyalahi sebuah aturan yaitu bilang tentang gemuk.
Al bangkit menuju dapur, untuk membuat wedang jahe, Lalau ditaruhnya roti tawar serta kacang. Pakai bahan seadanya, seolah itu sekoteng. Al membawanya ke kamar untuk istrinya.
"Sayang, aku buat ini. semoga kamu suka," ucap Al dengan senyum mengembang.
"Terimakasih," masih dengan mode cemberut.
"CUP," dicium bibirnya yang ranum milik istrinya.
"Mas, aku lagi kesal. Jangan dekat-dekat,"
Mood istrinya benar-benar lagi berantakan sangat sensitif, sering tersinggung dan mudah marah. Al akan memastikan esok hari dengan dugaannya.
Aini meminum sekoteng buatan suaminya, rasanya tidak kalah dengan yang di jajakan di kedai-kedai ataupun penjual keliling. Hanya saja yang ini kurang lengkap.
Paginya Aini mendapat pesan singkat dari Sintia.
[Hallo, Beb. Apa kabarnya? Sudah bangun belum?]
[Hanya pemalas yang jam segini belum bangun] jawab Aini.
[Sudah subuh tadi pagi. Lagian ini sudah jam 09.00. Aku modelnya nggak bisa tidur jika sudah terbangun]
[Kebalikan dari kebiasaan ku ya, Ai?]
[Iya, *****. Begitu nempel langsung molor alias tidur]
[Asal jangan Pebinor apalagi plakor]
["Astaghfirullah, jangan deh. Apa kabarnya keponakanku, Sin?]
[Dia sekarang timbangannya naik 12 ons, Ai. MasyaAllah aku bahagia banget seperti mendapat lotre. Sin kamu dengar kabar Pak Zaki. Kata orang-orang di kampung di ditahan di kantor polisi?] tanya Sintia.
Aini menceritakan rentetan kejadian yang terus menguras energi dan pikiran. Rasanya ia sangat rindu ketenangan. Hatinya lelah, apalagi terkait anaknya seperti kejadian kemarin, rasanya sangat menyiksa dengan ketakutan yang menimpanya.
[Ai, bersyukur semua yang menimpamu, kamu dan Mas Al semakin membuat rumah tanggamu erat] pesan Sintia.
[Iya, aku bersyukur Allah masih jaga rumah tanggaku untuk berlayar]
[Terus Sari bagaimana sekarang?]
[Belum ada kabar dari rumah sakit, Sin. Sebentar lagi jam masuk kan, Sin. Sudah dulu ya, aku nggak mau jadi penyebab kamu tidak amanah]
__ADS_1
[Baiklah, nanti pulang sekolah InsyaAllah aku telpon]
[Siap, sahabatku. Sintia cantik imut]
Tidak ada pesan masuk lagi artinya Sintia sudah masuk kelas. Hari ini Aini sangat lelah, padahal belum melakukan aktivitas yang menguras tenaga.
"Ai, sudah makan kan? Tapi kita bareng sarapannya. Kenapa segini malah tiduran di sofa?"
"Aku rasanya lagi kurang bersemangat, Mas. Ngantuk banget, mata ini lengket," terang Aini.
"Nggak baik, Sayang. Jam segini sudah tiduran seperti itu. Nggak baik buat kesehatan,"
"Bilang saja aku malas, hari ini sudah dua orang mengatakan aku malas,"
"Bukan, Sayang. Aku tidak mengatakan kamu malas bukan? Kamu yang menyimpulkan sendiri," sergah Al takut istrinya salah paham. Mengingat kondisinya lagi sangat sensitif.
"Mas, aku pengin cilok. Yang di jual di pinggir jalan raya. Atau seperti yang di sekolah-sekolah. Membayangkan itu rasanya menetes air liurku. Enak kayaknya, Mas," pinta Aini.
"Kamu nggak pengin tempe mendoan khas Purwokerto?"
"Nggak lah. Tiap hari selalu melihatnya," ucap dia malas menanggapi suaminya.
"Ai, periksa ke dokter yuk. Rasanya aku menduga sesuatu. Aku ingin memastikan kondisi istriku. Akhir-akhir ini sangat aneh," ucap Al.
"Mas, jadi kamu menganggap aku seperti Sari. Aneh tingkah lakunya?" ucap Aini.
"Bukan, Sayang. Aku tidak mengatakan itu. Aku ingin cek sesuatu, nafsu makan semakin besar. Tapi tubuh semakin lemah. Aneh bukan?"
Al mencoba untuk memberikan penjelasan yang masuk akal dan dapat diterima oleh akal sehat Aini.
Al meninggalkan Aini yang sejak tadi tidak mau beranjak. Dia semakin menjadi ketika diingatkan justru Al semakin salah. Dan tidak nyambung kekesalannya.
Apotik tujuan Al saat ini, dia hanya ingin memastikan dugaannya. Resikonya jelas tau, dia akan mendapat omelan dari istrinya. Istrinya akan tersinggung dengan apa yang mau Al beli.
Petugas apotek menatap kagum sosok didepannya. Bukan mengagumi ketampanan namun mengagumi sikapnya yang begitu perhatian dengan istri.
"Pak, ada lagi?" tanya pelayan apotik.
"Boleh, vitamin buat daya tubuh anak, Kak. Atau madu itu yang didepan Kakak supaya bisa buat suplemen sekeluarga," ucap Al.
Al bergegas menuju kasir, dia sudah punya tekad yang kuat untuk memberikan itu kepada istrinya. Sekalipun dengan jalan terpaksa.
Al memasuki rumah dengan semangat, posisi istrinya masih sama. Dengan ponsel ditangannya, sangat jauh berbeda dengan kebiasaan sebelumnya.
"Sayang, lihat apa yang aku bawa!"
__ADS_1