
Sembari masuk kamar, Al tersenyum jahil kepada Lina. Kenyataannya memang mau persiapan sholat, namun karena bersama istrinya jadi tingkahnya seperti itu menjadikan yang melihat curiga.
"Bang, memang jam berapa sekarang? Aku pengin menginap disini boleh nggak?"
"Satu malam saja boleh, Sayang. Yang penting menginapnya bareng suami kamu ini, jadi kamu tidak mengurangi hak aku kan?"
"Hem ... iya deh. Tapi aku malu, pagi-pagi rambutnya basah,"
"Pikiranmu itu ya, memang kenapa bisa basah?"
"Bukannya minta haknya tidak dikurangi? Itu artinya ...,"
"Abang gemes sama kamu, kamu pengin banget ya? Oke aku siap!"
"Kesel bicara sama Abang, mending aku cari Alia saja tidur sama dia nanti,"
"Oh ... tidak bisa. Nanti aku ajak kamu pulang kalau melakukan itu, biarkan Alia mandiri, Sayang. Nanti dia jadi manja tidak baik buat perkembangannya,"
Al keluar dari kamarnya sudah dengan penampilan berbeda yaitu menggunakan baju Koko lengkap dengan sajadah, dia membawa 2 sajadah yang satu buat Izal. "Ayo, Zal. Nih buat kamu,"
"Sayang, Abang ke Masjid dulu,"
"Kebiasaan, nggak usah cubit pipi. Nanti merah, Bang!"
Izal tidak peduli dengan rengekan istrinya, yang jelas Lina menjadi hiburan tersendiri. Izal lebih bersemangat semenjak Lina resmi menjadi istrinya, keduanya tak memiliki banyak kesamaan namun saling melengkapi diantara keduanya. Sebuah rumah tangga tidak harus satu pola pikir namun bukan berarti kekeuh dengan pola pikir sendiri. Namun pola pikir yang berbeda menjadi banyak ide dan dicari titik temu, yang terpenting ego masing-masing dikecilkan dan dikasih ruang untuk saling menghargai dan menghormati serta menerima pola pikir pasangan.
Lina masuk ke kamar yang dulu dia tempati, dia mengganti sprei. Selesai sholat bergegas keluar kamar menunggu suami di ruang keluarga. Disana sudah ada Aini dan Alia.
"Tante, belum pulang? Menginap ya, Tan. Besok kita jalan-jalan, mumpung Alia libur,"
"Mau jalan-jalan kemana si?"
"Ke Taman boleh, ke Mall juga boleh,"
"Hem ... begitu ya. Tapi Alia harus jadi anak yang Soleh, nurut sama Ayah Bunda. Rajin ngaji dan belajar,"
__ADS_1
"Oke," ucap Alia lucu.
"Kamu sudah telpon, Mama?"
"Sudah, Mba. Kemarin malam, Mama nangis aku nggak tega sebenarnya. Dilema suami jauh gini ya, Mba. Harus berjauhan sama orang tua,"
"Lin, Mba nikah sama Mas Al orang dekat kan? Tapi kita tidak tau takdir kita akan tinggal dimana? Nyatanya aku bisa terdampar disini kan? Jadi bukan karena suami kita orang mana, tapi semua jalan kita sudah diatur semuanya sama Allah,"
"Mba, aku kadang berfikir begini. Kasihan orang tuaku, mereka merawatku, mendidik begitu besar malah ikut suami,"
"Lin, jangan berfikir seperti itu. Justru itulah peran orang tua, mendidik anaknya salah satu hikmahnya agar ketika punya pasangan bisa menghargai, bisa menghormati. Dengan kamu jadi istri yang berbakti pada suami itu artinya kamu memberi kesempatan kepada orang tuamu memetik pahalanya. Kamu tetap punya peranan penting, yaitu jadi anak Solehah mereka. Tugas istri yaitu taat sama suami,"
"Mba, pernah dengar kan? Yang cerita tentang seorang wanita ketika ibunya meninggal tidak datang justru membawa orang tuanya masuk surga?"
Dengan nada sedikit kesal ia berkata kepada Nabi SAW “Wahai Rasulullah, wanita itu sangat keterlaluan, dari mulai ibunya sakit hingga meninggal dunia dia tidak mau datang untuk menemui ibunya”
Rasulullah SAW bertanya “Kenapa dia tidak mau datang menemui ibunya?”
“Wanita itu mengatakan bahwa dia tidak mendapat izin untuk keluar rumah sebelum suaminya pulang berjihad” Jawab utusan yang mengadu ke Rasulullah SAW tersebut.
Lalu Rasulullah SAW tersenyum, kemudian Beliau berkata “Dosa-dosa ibu wanita tersebut diampuni oleh Allah SWT karena dia mempunyai seorang puteri yang sangat taat terhadap suaminya”.
"Nah maka dari itu kamu tidak usah cemas dengan itu, tugasnya adalah?"
"Taat sama Izal, suamiku,"
"Wah, namaku disebut-sebut kangen berat ya, Beb," ucap Izal sambil mencubit pipi Lina dan Alia keponakannya. Jika tidak seperti itu maka Alia akan iri.
"Sakit, Om Izal,"
"Tau, Nih. Om usil banget ya, dek,"
"Usil tapi kamu makin cinta,"
"Zal, ingat ada anak kecil. Aku nggak mau anakku dewasa sebelum waktunya!" ucap Al tak terima anaknya mendengar ucapan frontal Izal. Padahal diri sendiri juga sering seperti itu.
__ADS_1
"Hem ... pulang aja yuk, Beb. Aku dimarahin sama kakak kamu,"
"Haha ... Om mengadu. Kasihan, sini Om sama Alia aja. Nggak dimarahi kok, kalau ayah memang galak," sontak Al mendekati anaknya.
"Apa kamu bilang, Sayang. Ayah galak, haha," Alia langsung di gendong dan diciumi pipinya sampai terbahak. Aini mengambil kudapan pisang goreng yang barusan dibikin Mak Ipeh.
Suasana rumah ini sangat hangat, jalan memang tak mulus tapi itu menjadi penguat tersendiri bagi keharmonisan rumah tangga mereka. Bersama kesulitan ada kemudahan.
Hidup di perantauan bukan hal yang mudah tapi bukan juga hal sulit. Sudah setahun lebih Al dan Aini di perantauan, tak sulit bagi mereka menyesuaikan diri dengan menekan ego masing-masing.
Usaha Al yang di jalani adalah tempe dan susu kedelai, saat ini sedang merintis usaha minuman dingin. Kali ini dengan sistem waralaba, dia menyediakan gerobak terlebih dahulu dengan ciri khasnya yaitu terdapat gambar wayang kulit dalam gerobak. Al menyediakan gerobak dorong dan gerobak yang bisa dibawa dengan sepeda motor.
Dalam usahanya ada misi kemanusiaan yaitu niat memberikan lapangan pekerjaan bagi pengangguran.
Sesuai janji Lina, Alia dibawa jalan-jalan ke pusat perbelanjaan bersama Izal.
"Sayang, kamu hati-hati. Jangan jauh-jauh dari Om dan Tante kamu,"
"Iya, Bunda cantik,"
"Bahagianya yang mau diajak jalan-jalan, Ayah pesan bawakan es goreng ya,"
"Ayah, mana ada. Es kalau digoreng meleleh," Alia terbahak mendengar permintaan ayahnya.
"Kali aja ada, Sayang. Kalau nggak ini aja, susu kedelai buatan ayah di Mall,"
"Mas, kenapa nggak masuk kesana saja produknya. Toh sudah lengkap perijinan kan?"
"Betul juga katamu, Zal. Mas sama Mba ikut kalian ya,"
Peluang sering kali datang pada saat tak terduga, dari omongan santai tercipta sebuah gagasan. Jangan pernah menyerah sebelum berusaha kawan!
Mereka berlima berangkat dengan semangat baru yaitu misi memasarkan susu kedelai masuk ke pusat perbelanjaan kota itu.
"Bang, jalannya pelan. Kayaknya aku mengenal sesuatu. Pelan, Bang!" ucap Lina spontan.
__ADS_1
"Bicaranya jangan terlalu kencang, Abang masih normal telinganya,"
"Pelan, Bang. Lihat deh yang ada di depan toko kue Ami itu," Lina menunjuk sesuatu tapi mereka masih bingung apa maksud Lina.