Ujian Kesetiaan

Ujian Kesetiaan
Mengibarkan Bendera Permusuhan


__ADS_3

"Bukankah itu Al Ghazali, apa aku salah lihat ya? Iya mirip, tapi itu sama siapa? Mungkin istri dan anaknya," batin Radit. Melihat seseorang turun dari motor dan dibelakang nampak seorang wanita menggendong anak kecil. Radit memiliki kedai sayur di pertigaan gang komplek perumahan. Al dan Aini berjalan menyambangi kedai sayur, tujuannya kenalan dengan pemilik kedai untuk menjalin kerjasama nantinya.


"Al Ghazali, betul itu kamu?" ujar seorang laki-laki yang umurnya sepantaran dengan Al.


Al sempat diam sesaat sambil mengingat-ingat orang didepannya sepertinya sangat familier.


"Radit, iya kamu Radit ya. MasyaAllah apa kabarnya bro? Tidak menyangka bisa ketemu sahabat lama disini. Serasa mimpi," lalu menjabat tangan sahabatnya sambil menepuk pundak Radit.


"Ternyata benar ya, orang-orang mengatakan kalau dunia selebar daun kelor. Ini anak kamu bro?" menunjuk anak digendong istrinya.


"Iya, Bro. Ini anak dan istriku. Sudah lama tinggal disini, Dit?" ucap Al penasaran, karena memang sudah lama sekali tidak bertemu dengan Radit. Al dan Radit rekan satu kelas semasa SMA.


"Sudah 8 tahun, Bro. Mengadu nasib dan akhirnya berjodoh dengan orang sini. Ngomong-ngomong kamu tinggal dimana, Al? Sejak kapan disini, serasa bukan kamu Al, aku tau betul kalau belum pernah merantau, usahamu dikampung juga bagus," jelas Radit.


"Kamu bisa aja, Dit. Namanya perjalanan hidup kita tidak bakalan tau. Aku sudah nggak seperti dulu, tenagaku sudah nggak sekuat dulu,"


"Kok omongannya macam kakekku saja Al, berapa usiamu? haha,"


"Serius, Dit. 2 tahun aku nggak bisa kerja, kaki yg satu tak berfungsi dengan baik. Beberapa bulan ini baru baikan,"


"Maaf, Al. Aku tidak tau. Eh ... masa dari tadi berdiri. Kasihan istrimu berat menggendong anak. Yuk duduk didalam," Radit membawa sahabatnya masuk ke rumah. Dan mengenalkan pada istrinya.


"Bro, gimana ceritanya kamu bisa sampai disini?"


"Istriku kerja di SDIT As Syifa, aku mau buka usaha kecil-kecilan, Dit. Mau buat tempe ... aku habis keliling disini nggak ada tempe yg tipis bungkus daun ya, Dit? apa karena tidak ada peminat?"


"Di SDIT As Asyifa, MasyaAllah anakku sekolah disana juga. Keren kamu istrinya bisa mengajar disana. Kalau tentang tempe bungkus daun sebenarnya banyak peminatnya hanya orang bingung nyari daunnya kendala bagi pembuat. Terus tidak praktis,"


"Oh ya ya ya ... kalau aku nitip ke kedai-kedai gimana kira-kira ya, Dit?"

__ADS_1


"Ide bagus, Al. Biasanya kami ambil ke pasar, jika ada yang mengantar ke kami tentu itu lebih bagus, yang penting kualitas bagus, jangan berubah-ubah. Orang sini suka tempe yg lembut, mengukus kedelainya sampai betul-betul matang," Radit menjelaskan dengan antusias.


"Alhamdulillah beruntung sekali aku bisa ketemu kamu, Dit,"


"Kapan mulai, Al?"


"Kemungkinan masih beberapa hari lagi, yang penting anak nyaman dulu, Dit. Kami baru datang hari kemarin,"


"Semoga betah, Al. Hidup dirantau itu sebenarnya sedang menggembleng mental diri sendiri. Jika kita kuat tahan banting maka InsyaAllah kita mampu bertahan. Tapi jika mental kita mlempem macam kerupuk kena angin maka palingan beberapa bulan minta transferan dari kampung buat balik," Radit tertawa lebar.


"Terimakasih atas masukan dan nasihatnya. Boleh minta no hp?"


"Tentu saja," sambil menyebutkan no hp dan Al langsung mencatat di hp. Aini hanya menjadi pendengar sedangkan istrinya Radit sibuk melayani pembeli.


"Kami pamit ya Dit, terimakasih sekali lagi. Kapan-kapan main ketempat kami,"


"Siap, Bro,"


Keesokan harinya hari pertama Aini masuk sekolah. Kegiatan belajar mengajar belum dimulai, masih sibuk dengan pembagian kerja guru, dan membuat rencana pembelajaran dari tahunan, bulanan hingga harian. Aini lupa mematikan nada dering hpnya.


Drrtttttt ... drrtttttt bunyi lumayan nyaring.


Ada seorang guru yang mencari-cari sumber suara dering hp, kemudian ditatapnya Aini dengan tatapan tak bersahabat. Seketika Aini merasa terintimidasi, Aini paham maka segera mematikan dering hp.


"Nggak apa Bu Aini, diangkat saja. Bisa jadi hal penting Bu," ujar kepala sekolah ramah.


"Baik, Pak. Saya permisi keluar sebentar," memang betul bagi Aini sangat penting karena dari orang tuanya, jika panggilan ditolak takutnya mereka khawatir.


Suasana rapat kembali tenang, yang dirasakan Aini adalah perasaan tidak enak dengan teman-teman barunya. Semua memang benar-benar karena kelalaiannya, biasanya Aini selalu mematikan nada dering hp ketika diadakan rapat. Tapi kali ini bener-bener lupa, hari ke 3 disini dan masih rempong dengan kegiatan barunya.

__ADS_1


Setelah selesai rapat ada seorang guru perempuan mendekat "Bu, ibu tau perbuatan ibu sangat mengganggu," ucap orang itu ketus tanpa kenalan terlebih bahkan tanpa basa basi.


"Maaf, Bu," ucap Aini singkat nggak mau banyak ngomong dengan orang seperti itu.


"Peraturan manapun orang pasti tau, jika acara rapat maka hp harus di silent. Itu malah keras banget, kami bukan T*Li, telinga kami masih berfungsi dengan baik," lanjut orang tadi.


"Baik, Bu," sebenarnya Aini risih dan tidak nyaman dengan bahasa yang digunakan orang itu terlalu kasar mengingat kita berprofesi sebagai guru yang mana tutur kata harus dijaga apalagi perintah agama juga jelas yaitu jika kita tidak bisa berkata yang baik lebih baik diam.


"Bu, jangan harap ibu bisa betah disini kalau sikap ibu seperti itu," sambil pergi meninggalkan Aini yang masih mematung. Dari arah lain ada seseorang yang mendekati Aini kali ini sudah terlihat senyum tulusnya sebelum sampai dihadapan Aini.


"Bu Aini, salam kenal saya Yuni. Jangan dipikirkan orang tadi,"


"Saya Aini, Bu. Salam kenal juga Bu Yuni. InsyaAllah baik-baik saja, saya tidak apa-apa," dengan senyum tulusnya.


"Mau langsung pulang apa mau kemana dulu, Bu Aini,"


"InsyaAllah langsung pulang, Bu Yuni rumahnya dimana?"


"Itu yg kelihatan dari sini, rumah ketiga yang warna hijau," sambil menunjuk rumahnya yang nampak asri banyak tanaman toga dan tanaman hiasnya.


"Saya pulang dulu Bu Yuni, assalamualaikum,"


"Hati-hati Bu Aini semoga betah disini. wa'alaikumussallam," nampak Aini berjalan kaki karena rumahnya tidak terlalu jauh, hanya butuh 15 menit jalan kaki.


"Bu Aini, jalan kaki. Kasian sekali, Bu," nampak guru yang tadi menegur Aini saat selesai rapat.


"Awas, Bu. Nanti gosong panas-panas gini jalan kaki," Aini hanya tersenyum karena merasa aneh, kenapa bisa ada orang seperti itu. Ada apa sebenarnya? kenal saja belum, kok seolah mengibarkan bendera permusuhan.


"Bu Aini, jalannya jangan melamun," ucapnya lagi

__ADS_1


Aini lagi-lagi hanya tersenyum mendengar penuturan orang itu. Orang itu membuntuti Aini dengan motornya, dengan cara melakukan dengan sangat lambat mengimbangi jalannya Aini. Entah apa tujuannya, bisa-bisanya mengikuti. "Mungkin memang sejalur dengan jalan Aini pulang," batin Aini satu kata untuk teman barunya yaitu konyol.


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2